Laba CIMB Niaga Melonjak 45 Persen per Februari 2026, Ini Pendorongnya

Rabu, 01 April 2026 | 10:17:12 WIB
Laba CIMB Niaga Melonjak 45 Persen per Februari 2026, Ini Pendorongnya

JAKARTA - Kinerja perbankan nasional kembali menunjukkan sinyal positif di awal tahun 2026. 

Salah satu yang mencuri perhatian adalah PT CIMB Niaga Tbk (BNGA) yang berhasil mencatatkan pertumbuhan laba signifikan pada Februari 2026. Di tengah dinamika ekonomi dan tekanan sektor keuangan global, bank ini mampu menjaga performa keuangannya tetap stabil bahkan meningkat tajam.

Berdasarkan laporan keuangan terbaru, CIMB Niaga mencatatkan laba bersih periode berjalan secara bank only tumbuh 45,37% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 1,07 triliun. Capaian ini mencerminkan strategi efisiensi dan optimalisasi kinerja yang dijalankan perusahaan mulai membuahkan hasil sejak awal tahun.

Efisiensi Biaya Dana Dorong Kinerja Bunga

Salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan laba CIMB Niaga berasal dari kemampuan bank dalam mengelola biaya dana. Di tengah kondisi suku bunga yang masih fluktuatif, bank mampu menekan beban bunga secara signifikan.

Di pos bunga, bank nampak berhasil menekan biaya dana dengan catatan penurunan beban bunga sebesar 18,16% yoy menjadi Rp 1,51 triliun dalam periode ini.

Dengan kondisi tersebut, meskipun pendapatan bunga mengalami tekanan, kinerja bunga bersih tetap terjaga. Pendapatan bunga tercatat terkoreksi 8% yoy menjadi Rp 3,45 triliun. Namun demikian, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) masih mencatat pertumbuhan.

Dengan begitu, meski pendapatan bunganya terkoreksi 8% yoy menjadi Rp 3,45 triliun, pendapatan bunga bersih alias net interest income (NII) bank masih bisa dijaga dengan pertumbuhan tipis 1,89% yoy menjadi Rp 1,94 triliun.

Pendapatan Non-Bunga Melonjak Signifikan

Selain dari sisi bunga, kinerja operasional CIMB Niaga juga mendapat dorongan kuat dari pendapatan non-bunga. Bank mampu meningkatkan sumber pendapatan berbasis komisi dan biaya administrasi secara signifikan.

Dari sisi operasional, beban operasional lainnya juga banyak ditekan, nilainya turun 40% yoy menjadi Rp 579 miliar. Salah satu penyebabnya ialah pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi bank melonjak 55,48% yoy menjadi Rp 454 miliar.

Kenaikan ini menunjukkan strategi diversifikasi pendapatan yang dijalankan bank berjalan efektif. Pendapatan berbasis fee menjadi salah satu penopang penting dalam menjaga profitabilitas di tengah tekanan margin bunga.

Namun begitu, beban impairment bank terpantau meningkat 14,05% yoy menjadi Rp 276 miliar. Dengan demikian, laba operasional bank berhasil tumbuh 40,73% yoy menjadi Rp 1,36 triliun.

Penyaluran Kredit Tumbuh, Pembiayaan Syariah Tertekan

Dari sisi intermediasi, CIMB Niaga mencatatkan pertumbuhan yang relatif terbatas. Total pembiayaan yang disalurkan bank masih cenderung stagnan, meskipun terdapat pertumbuhan pada segmen kredit konvensional.

Dari sisi intermediasi, total pembiayaan yang disalurkan CIMB Niaga per Februari 2026 cenderung stagnan dengan catatan pertumbuhan tipis 0,24% yoy menjadi Rp 216,85 triliun.

Jika dirinci, terdapat perbedaan kinerja antara segmen konvensional dan syariah. Kredit yang disalurkan tumbuh positif, sementara pembiayaan syariah mengalami penurunan.

Jika dirinci, kredit yang disalurkan tumbuh 6,67% yoy menjadi Rp 167,61 triliun dan pembiayaan syariah terkoreksi 16,8% yoy menjadi Rp 49,25 triliun.

Kondisi ini mencerminkan adanya penyesuaian strategi penyaluran pembiayaan yang dilakukan bank, khususnya dalam menjaga kualitas aset dan risiko pembiayaan di tengah ketidakpastian ekonomi.

Dana Murah Menguat, DPK Tetap Tumbuh Positif

Dari sisi pendanaan, CIMB Niaga menunjukkan tren yang cukup sehat, terutama dalam peningkatan dana murah atau low-cost fund. Hal ini menjadi faktor penting dalam menjaga efisiensi biaya dana ke depan.

Beranjak ke pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) bank menunjukkan tren pertumbuhan dana murah yang positif. Giro bank tumbuh hingga 16,89% yoy menjadi Rp 102,55 triliun dan tabungan tumbuh 6,35% yoy menjadi Rp 87,55 triliun.

Sebaliknya, dana mahal seperti deposito justru mengalami penurunan yang cukup signifikan, sejalan dengan strategi bank untuk menekan biaya bunga.

Sementara itu, deposito bank yang tergolong dana mahal turun sampai 12,34% yoy menjadi Rp 71,08 triliun. Dus, secara keseluruhan DPK bank masih berhasil tumbuh 4% yoy menjadi Rp 261,18 triliun.

Pertumbuhan dana murah ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan kinerja bank, karena dapat membantu menjaga margin bunga tetap stabil di tengah tekanan pasar.

Secara keseluruhan, capaian CIMB Niaga pada Februari 2026 menunjukkan kombinasi strategi efisiensi biaya, peningkatan pendapatan non-bunga, serta penguatan struktur pendanaan yang solid. Meski menghadapi tantangan di beberapa segmen seperti pembiayaan syariah, bank tetap mampu mencatat pertumbuhan laba yang impresif dan menjaga kinerja operasional tetap optimal di awal tahun.

Terkini