Luhut Minta Maaf ke Investor Global dan Beberkan Amunisi Ekonomi

Jumat, 22 Mei 2026 | 13:09:19 WIB
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan.(Sumber:NET)

JAKARTA - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan memberikan permohonan maafnya secara tatap muka kepada para penanam modal serta pengelola aset global.

Ungkapan itu diutarakan Luhut saat melangsungkan pertemuan bersama para pelaku pasar modal di Singapura.

Tindakan ini dilakukan merespons kondisi pasar keuangan dalam negeri yang sedang bergejolak akibat imbas ketegangan geopolitik internasional serta lonjakan harga minyak dunia. 

Ia pun memohon maaf jika dinamika yang tengah melanda Indonesia saat ini memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi para investor.

"Mengingat kami memiliki beberapa masalah di sini dan di sana, dan saya minta maaf juga, mungkin beberapa dari Anda memiliki dampak negatif karena situasi ini," sebut Luhut dalam video pertemuan yang diunggah di Instagram pribadi @luhut.pandjaitan, Kamis (21/5/2026).

Di lain sisi, Ia memaparkan bahwa indikator mendasar pada perekonomian domestik sebetulnya masih menunjukkan performa yang kuat.

Pertumbuhan ekonomi dalam negeri sanggup melesat di angka 5,61% dengan laju inflasi yang tetap terjaga pada level 2,4%. Menurut pandangannya, pergerakan inflasi nasional masih terproteksi dengan sangat baik di tengah ketidakpastian harga minyak internasional.

"Tapi saya juga bisa memberitahu Anda, inflasi kami masih bisa dikelola dengan baik, kira-kira di 2,4%. Kami berusaha untuk tidak menurun," beber Luhut.

Ia pun mengonfirmasi bahwa dirinya telah menyerahkan strategi mitigasi kepada Presiden Prabowo Subianto terkait risiko kenaikan inflasi selepas Juli 2026. 

Ia memberikan rekomendasi agar pemerintah bersiap menggelontorkan insentif tambahan untuk menjaga stabilitas daya beli masyarakat.

"Tapi saya juga ingatkan kepada presiden, kami harus melihat dengan jelas setelah Juli. Jadi, kami juga harus mempersiapkan stimulus untuk menjaga ekonomi kami, karena kami mengerti dampak harga minyak pada ekonomi kami, pada barang, saya pikir (akan terasa) mulai bulan ini atau mungkin awal bulan berikutnya," papar Luhut.

Lewat diskusi bersama para pengelola dana global papan atas tersebut, Luhut menampung beraneka masukan sekaligus menjabarkan potret riil kekuatan ekonomi Indonesia demi memulihkan sentimen positif pasar.

Ia membenarkan bahwa para investor menyoroti besarnya fluktuasi di pasar dalam negeri, seperti tertekannya nilai tukar rupiah dan keluarnya modal asing yang dipicu oleh tensi geopolitik dunia.

"Dari diskusi kami hari ini, memang ada kekhawatiran mengenai volatilitas pasar, mulai dari fluktuasi nilai tukar, hingga arus modal akibat tingginya suku bunga dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah," sebut Luhut.

Luhut memastikan bahwa DEN telah menyusun skenario simulasi yang matang apabila harga minyak mentah internasional menyentuh level US$ 100 per barel.

Dokumen kajian strategis tersebut pun telah diserahkan kepada Prabowo, dibarengi dengan draf rekomendasi kebijakan insentif ekonomi.

Bukan hanya itu, langkah efisiensi birokrasi pemerintahan terus digenjot lewat transformasi digital melalui teknologi GovTech. 

Kebijakan ini disiapkan guna mengubah pola subsidi energi, yang semula bertumpu pada komoditas barang menjadi penyaluran bantuan tunai langsung agar lebih tepat sasaran.

Pada aspek tata tertib pasar modal, pihaknya mendorong OJK untuk menerapkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam mekanis pengawasan demi membangun ekosistem yang lebih bersih dan akuntabel.

DEN pun terus mematangkan cetak biru ekosistem Indonesia Financial Center (IFC) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai pusat integrasi yang menjanjikan atmosfer bisnis setara pusat keuangan dunia, disokong oleh kemudahan operasional dan jaminan hukum.

"Saya memandang kepercayaan dan kepastian sama pentingnya dengan pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Kendati penerapan di lapangan tidak selalu mudah, arah kebijakan bangsa sudah sangat jelas: ekonomi yang lebih kompetitif, transparan, dan efisien. Dengan eksekusi yang kuat, peluang investasi jangka panjang di Indonesia tetap masih menjanjikan," pungkas Luhut.

Terkini