ISTANBUL - Sebuah ledakan dahsyat menghantam sebuah bangunan yang ditengarai berfungsi sebagai tempat penampungan bahan peledak pertambangan di kawasan timur laut Myanmar pada Minggu (31/5/2026), menyebabkan lebih dari 45 orang meninggal dunia, menurut laporan tim penyelamat dan media setempat.
Peristiwa yang terjadi sekitar tengah hari di area Namhkam, negara bagian Shan itu, juga menyebabkan sekitar 70 orang lainnya mengalami luka-luka.
Lokasi kejadian berjarak kurang lebih 3 kilometer di sebelah selatan kawasan perbatasan China yang dikuasai oleh Tentara Pembebasan Nasional Ta'ang (TNLA), sebuah kelompok bersenjata etnis sekaligus organisasi politik yang memperjuangkan hak otonomi di Myanmar.
Media penyiaran resmi China, CCTV, melaporkan bahwa banyak rumah penduduk sekitar yang mengalami kerusakan parah akibat getaran ledakan ini.
Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, sumber ledakan berasal dari gudang penyimpanan bahan peledak yang diperuntukkan bagi kegiatan tambang.
Beberapa media lokal di Myanmar mengabarkan bahwa jumlah korban jiwa dalam musibah ini telah mencapai berkisar antara 50 hingga 55 orang.
Dokumentasi berupa foto dan video yang beredar di media massa wilayah tersebut menampilkan kepulan asap tebal berukuran masif membubung dari lokasi kejadian.
Deretan bangunan yang roboh dan puing-puing material tampak berserakan memenuhi wilayah sekitar.
"Sejauh ini, di antara para korban, 25 dilaporkan perempuan dan 30 laki-laki, sementara puluhan lainnya terluka dan beberapa diyakini masih terjebak, sementara operasi penyelamatan masih berlangsung," sebut kantor berita Shwe Phee Myay di negara bagian Shan dalam laporannya.
Pihak otoritas penanggulangan bencana mengimbau masyarakat luas untuk mendonorkan darah mereka di Rumah Sakit Umum Namhkam mengingat situasi di lokasi yang masih terus berkembang, berdasarkan laporan tersebut.
Lewat pernyataan resmi yang diunggah di saluran Telegram, TNLA mengonfirmasi bahwa mereka menyimpan bahan gelignit untuk kebutuhan operasional di sektor pertambangan dan penggalian batu.
Pihak organisasi tersebut menambahkan bahwa proses penyelidikan mendalam untuk mengidentifikasi penyebab pasti dari ledakan saat ini tengah digulirkan.