Tragedi Operasi Kelopak Mata Keliru, Korban Jadi Disabilitas

Selasa, 02 Juni 2026 | 14:23:01 WIB
Faktor Penyebab Kegagalan Operasi Kelopak Mata Ganda (FOTO: NET)

JAKARTA - Seorang wanita di China mengalami nasib tragis setelah menjalani operasi pembentukan kelopak mata ganda atau double eyelid surgery.

Alih-alih mendapatkan tampilan mata yang lebih menarik, ia justru mengalami komplikasi serius yang membuat matanya tidak bisa menutup sempurna hingga kini.

Melansir SCMP, wanita bermarga Wang itu menjadi sorotan di media sosial setelah membagikan perjuangannya mencari keadilan atas kasus yang dialaminya.

Diketahui operasi tersebut dilakukan pada Juni 2020 di sebuah klinik kecantikan di Suzhou, Provinsi Jiangsu, dengan biaya sekitar 12.000 yuan atau setara Rp 31,6 juta.

Menurut Wang, prosedur itu dilakukan oleh seorang wanita bermarga Meng yang mengaku sebagai direktur pemasaran klinik tersebut.

Namun, beberapa jam setelah operasi, Wang merasakan nyeri hebat pada mata.

Kelopak matanya tampak terbalik dan terjadi penumpukan cairan yang cukup parah sehingga ia harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan darurat.

Wang mengaku sempat menghubungi Meng, tetapi hanya diberi penjelasan bahwa kondisinya akan membaik dalam beberapa hari.

Setelah itu, Meng sulit dihubungi.

Saat memeriksakan diri ke rumah sakit yang lebih besar, dokter menemukan adanya kesalahan serius dalam tindakan operasi.

Menurut hasil pemeriksaan, kelenjar air mata Wang mengalami kerusakan dan prosedur yang dilakukan pada kelopak matanya tidak sesuai.

Dokter menyarankan operasi lanjutan untuk memperbaiki kondisi tersebut.

Namun, meski telah menjalani tindakan tambahan, kelopak matanya tetap tidak bisa menutup sempurna.

Akibat komplikasi tersebut, Wang terus mengalami mata berair dan kesulitan tidur karena tidak dapat memejamkan mata dengan normal.

Pada 2022, lembaga forensik setempat menetapkan kondisinya sebagai disabilitas tingkat sembilan.

Penyelidikan otoritas kesehatan kemudian mengungkap bahwa Meng tidak memiliki sertifikat dokter yang sah.

Selain itu, klinik tempat operasi dilakukan juga diketahui tidak memiliki izin usaha resmi.

Beberapa bulan setelah insiden tersebut, klinik itu akhirnya ditutup.

Dampak yang dialami Wang tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental.

Ia mengaku kehilangan rasa percaya diri, enggan bertemu orang lain, serta mengalami depresi dan insomnia setelah operasi gagal tersebut.

Wang kemudian membawa kasus itu ke jalur hukum.

Sebelum putusan pengadilan keluar, kedua pihak mencapai kesepakatan damai.

Meng setuju memberikan kompensasi sebesar 850.000 yuan atau sekitar Rp 2,2 miliar.

Sebagai gantinya, Wang harus menghapus seluruh unggahan terkait kasus tersebut dan tidak lagi membahasnya kepada media maupun pihak berwenang.

Namun, konflik kembali memanas ketika Wang menuduh Meng mengunggah video yang menyerangnya di media sosial.

Keluarga Wang pun membalas dengan mempublikasikan dokumen yang menunjukkan praktik medis ilegal yang dilakukan Meng.

Wang juga sempat muncul dalam sejumlah video untuk menceritakan pengalamannya.

Tindakan tersebut membuat Meng menggugat Wang karena dianggap melanggar perjanjian.

Pengadilan akhirnya memenangkan Meng dan memerintahkan Wang mengembalikan 400.000 yuan (sekitar Rp 1 giga/miliar) dari uang kompensasi yang diterimanya.

Meski kecewa dengan hasil tersebut, Wang mengaku tidak menyerah memperjuangkan haknya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati sebelum menjalani prosedur kecantikan.

"Pelajari kasus saya baik-baik. Pikirkan dengan sangat matang sebelum menjalani operasi kosmetik karena penyesalannya bisa berlangsung seumur hidup," ujarnya.

Kasus operasi kecantikan yang berujung malapraktik bukan kali pertama terjadi di China.

Sebelumnya, seorang influencer dilaporkan meninggal dunia setelah menjalani sedot lemak yang menyebabkan infeksi parah.

Awal tahun ini, seorang wanita di Shanghai juga mengalami kerusakan saraf wajah setelah menjalani operasi untuk membuat telinganya menyerupai telinga peri (elf ears).

Terkini