Jelang Piala Dunia 2026, Guru di Meksiko Ancam Ganggu Turnamen

Kamis, 04 Juni 2026 | 10:20:15 WIB
Demonstran Tumbangkan Patung Pesepak Bola Piala Dunia. (Sumber: NET)

MEXICO CITY - Ketegangan dari aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh para tenaga pendidik di negara Meksiko tampak kian memanas meski waktu pelaksanaan laga pembuka turnamen Piala Dunia 2026 di kota tersebut menyisakan waktu kurang dari dua pekan lagi.

Tepat pada hari Selasa (2/6/2026), sekelompok guru yang bernaung di dalam wadah Coordinadora Nacional de Trabajadores de la Educacion (CNTE), yang merupakan kubu oposisi pada serikat guru nasional, melakukan aksi merobohkan sejumlah replika patung pesepak bola berukuran raksasa yang sengaja dipajang sebagai instrumen promosi Piala Dunia di ibu kota Meksiko tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan media AFP serta The Guardian, massa aksi merusak tiga buah patung berukuran tinggi berkisar 5 meter yang terpasang di sepanjang kawasan jalan Paseo de la Reforma, salah satu area jalan protokol yang paling legendaris di kota tersebut.

Replika patung berbahan dasar plastik tersebut merepresentasikan sosok figur pesepak bola yang berasal dari beraneka negara kontestan Piala Dunia.

Sesudah berhasil dijatuhkan menggunakan bentangan tali, kelompok massa aksi tersebut kemudian mencopot paksa seragam yang melekat pada patung-patung tersebut lalu langsung membakarnya di tempat kejadian.

Mereka pun turut membakar objek bola sepak serta menorehkan beragam coretan berisi kalimat protes pada bagian fisik patung yang telah rusak tersebut.

Di antara coretan yang ditinggalkan tertulis kalimat berupa, "Hidup CNTE", sementara pada bagian lainnya terpampang tulisan, "Jika tidak ada solusi, bola tidak akan bergulir".

Satu hal yang cukup menyita perhatian yakni replika patung yang mengenakan atribut jersey tim nasional sepak bola Meksiko justru dibiarkan begitu saja dan sama sekali tidak ikut dirusak oleh massa.

Pihak CNTE ternyata tidak hanya sekadar melancarkan aksi vandalisme terhadap sejumlah media promosi untuk ajang sepak bola empat tahunan tersebut.

Kelompok unjuk rasa ini juga melayangkan ancaman bahwa mereka siap menggelar aksi demonstrasi dalam skala yang jauh lebih masif ketika ajang sepak bola terakbar di dunia tersebut resmi bergulir pada 11 Juni mendatang apabila pihak pemerintah setempat tidak segera merealisasikan tuntutan mereka.

Para guru tersebut menyuarakan tuntutan berupa kenaikan upah kerja hingga menyentuh angka 100 persen sekaligus mendesak dilakukannya pembatalan terhadap kebijakan reformasi sistem dana pensiun yang saat ini tengah diterapkan.

Kelompok ini secara tegas menolak penawaran kenaikan upah sebesar 9 persen yang sebelumnya telah disetujui oleh pihak pemerintah bersama dengan barisan kepemimpinan resmi dari serikat guru nasional.

Dampak dari aksi demonstrasi yang berlangsung pada hari Selasa tersebut juga berimbas pada penutupan sejumlah akses jalan protokol di wilayah kota dan kian memperparah kondisi kemacetan di area perkotaan yang memang sudah tersohor dengan kepadatan arus lalu lintasnya.

Kondisi eskalasi ketegangan sempat merangkak naik setelah satu hari sebelumnya barisan polisi antihuru-hara bergerak membubarkan paksa kerumunan massa aksi guru yang tengah berjalan menuju ke kawasan alun-alun bersejarah Zocalo di jantung kota, yang mana lokasi tersebut diproyeksikan sebagai tempat pelaksanaan festival "Fan Fest" bagi para suporter Piala Dunia 2026.

Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh jajaran pimpinan serikat, terdapat lima orang demonstran yang mengalami luka-luka akibat insiden bentrokan fisik tersebut.

Bahkan, salah seorang guru yang ikut serta dalam aksi tersebut dilaporkan harus kehilangan sebelah matanya.

Kendati demikian, pihak otoritas pemerintah kota memberikan bantahan keras mengenai adanya penggunaan gas air mata ataupun peluru berbahan karet selama proses pembubaran massa unjuk rasa tersebut.

Memasuki hari Selasa, para guru kembali memilih berkumpul di area depan gedung Kementerian Dalam Negeri dengan tujuan mengutuk keras tindakan represif yang dilakukan oleh para aparat keamanan.

"Kami tidak akan membiarkan ruang publik diambil alih demi kepentingan perusahaan-perusahaan besar di balik Piala Dunia sambil mengabaikan perjuangan hak-hak pekerja," kata salah satu pemimpin CNTE, Filiberto Frausto, seperti dikutip The Guardian.

Gelombang aksi unjuk rasa dari para guru ini bahkan ikut memberikan pengaruh langsung terhadap jalannya agenda kegiatan milik Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum.

Mengutip laporan dari media lokal La Jornada yang dilansir oleh The Guardian, agenda pertemuan penting antara Sheinbaum dengan salah seorang pejabat tinggi dari negara Spanyol yang pada mulanya dijadwalkan secara tatap muka langsung terpaksa dialihkan via aplikasi Zoom akibat akses menuju Istana Nasional dan kawasan Zocalo tertutup total oleh demonstrasi.

Walaupun kondisinya demikian, Sheinbaum memandang bahwa gerakan protes yang dibawa oleh para guru tersebut sejauh ini masih berjalan secara kondusif dan memberikan penegasan bahwa pihak pemerintah akan selalu membuka pintu komunikasi.

"Melalui dialog, kami akan berupaya menyelesaikan persoalan-persoalan yang memungkinkan untuk diselesaikan," kata Sheinbaum.

Ia secara jujur memberikan pengakuan bahwa tidak seluruh poin tuntutan yang diajukan dapat dipenuhi secara instan akibat adanya faktor keterbatasan pada anggaran keuangan negara.

"Ada beberapa tuntutan yang tidak memungkinkan dipenuhi sepenuhnya oleh anggaran, tetapi ada juga yang bisa kami tangani dan sedang kami upayakan," ujarnya.

Akan tetapi, hingga detik ini para guru dirasa belum merasa puas atas respons yang diberikan oleh pihak pemerintah dan terus melayangkan ancaman untuk membawa gerakan protes mereka ke panggung megah Piala Dunia 2026 yang kali ini diselenggarakan secara kolaborasi oleh negara Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada.

Terkini