Ilmuwan China Temukan Gen untuk Dongkrak Protein Jagung Ternak

Jumat, 05 Juni 2026 | 10:23:30 WIB
Seseorang sedang Mensortir Jagung. (Sumber: NET)

SHANGHAI - Kalangan ilmuwan asal China berhasil menemukan dua jenis gen utama yang memengaruhi kadar protein tinggi pada komoditas jagung sekaligus sukses menciptakan varietas baru berprotein tinggi yang menjadi alternatif menjanjikan guna menanggulangi problem minimnya kandungan protein pada pakan hewan ternak di negara tirai bambu tersebut.

Jagung berstatus sebagai komoditas biji-bijian paling dominan di China jika ditinjau dari sisi kapasitas hasil produksinya.

Akan tetapi, tingkat kandungan protein pada jagung secara umum tergolong rendah lantaran cuma menyentuh kisaran angka 8 persen, yang memicu munculnya ketergantungan masif terhadap pasokan bungkil kedelai impor demi memenuhi kebutuhan sumber protein hewani, berdasarkan pemaparan Wakil Direktur Pusat Keunggulan Ilmu Tanaman Molekuler (Center for Excellence in Molecular Plant Sciences/CEMPS) Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) Wu Yongrui.

Sepanjang tahun 2025 kemarin, volume impor kedelai yang dilakukan pihak China terpantau melampaui angka 100 juta ton.

Tindakan menaikkan kadar protein pada jagung senilai satu poin persentase saja bakal membuahkan hasil yang setara dengan pemenuhan gizi protein di dalam kisaran 8 juta ton komoditas kedelai impor, menurut estimasi Wu.

Oleh sebab itu, langkah memproduksi varietas jagung kaya protein demi menggeser peran bungkil kedelai impor pada pakan hewan ternak menjadi sebuah strategi menjanjikan guna meredam kendala defisit protein pakan di wilayah China.

Namun, dalam rentang waktu yang lama, jalannya proses pemuliaan tanaman dinilai belum mempunyai akses terhadap ketersediaan gen-gen unggul penghasil protein tinggi, tutur Wu.

Sejumlah riset membuktikan bahwa varietas jagung liar sejatinya dibekali kadar protein yang sangat tinggi hingga menyentuh angka 30 persen, namun sesudah melewati proses domestikasi serta pemuliaan modern selama lebih dari 9.000 tahun, mayoritas dari gen unggul tersebut terdeteksi telah "lenyap" pada jenis varietas masa kini akibat nihilnya langkah seleksi yang terfokus pada aspek pemenuhan protein, berlandaskan penjelasan Wu.

Pada kurun waktu tahun 2022 lalu, kelompok peneliti di bawah arahan Wu sukses mengisolasi jenis gen berprotein tinggi yang pertama, yakni THP9-T, dari tanaman jagung liar, sekaligus menorehkan peningkatan awal pada kadar protein untuk jenis varietas jagung domestik yang utama.

Kendati demikian, upaya menghadirkan lompatan temuan berikutnya pada penguatan kadar protein jagung masih menjadi sebuah tantangan yang teramat besar.

Lewat berjalannya pengerjaan riset yang konsisten, kelompok ilmuwan tersebut pada akhirnya sukses menemukan varietas gen berprotein tinggi yang kedua, yakni THP3-T.

Rangkaian proses uji coba berkala di berbagai area menunjukkan bahwa keberadaan gen ini sanggup mendongkrak tingkat kandungan protein pada biji jagung dari angka 10 persen menjadi melampaui 13 persen pada jenis galur inbrida tanpa menimbulkan kerusakan pada kuantitas hasil panen, bersamaan dengan kenaikan kadar protein di seluruh bagian tanaman serta menjadikan tanaman jagung mampu tumbuh prima sekaligus tetap melimpah protein meski dengan formula pemakaian pupuk yang lebih sedikit, papar Wu.

Proses analisis lanjutan membuktikan bahwa tindakan memadukan gen THP3-T dengan THP9-T sanggup memicu efek keselarasan kerja yang belum pernah dijumpai mendahului riset ini, yakni mendongkrak kadar protein pada biji jagung galur inbrida dari angka 10 persen melesat hingga 15 persen -- sebuah angka pencapaian yang jauh mengungguli efek dari penggunaan masing-masing gen secara mandiri.

"Penelitian ini tidak hanya menemukan 'kepingan teka-teki kunci' untuk pemuliaan jagung berprotein tinggi, tetapi juga menawarkan kemungkinan baru bagi peningkatan kualitas dan penyempurnaan genetik berpresisi pada jagung modern," kata Wu.

Kelompok peneliti tersebut memanfaatkan implementasi teknologi pemuliaan berbantuan penanda (marker-assisted breeding) demi membenahi secara akurat pada lebih dari 80 galur tetua (parental line) dari jenis kultivar jagung utama di wilayah China, hingga berakibat pada naiknya kadar protein menjadi melampaui kisaran 14 persen.

Kelompok ilmuwan tersebut juga mencatatkan keberhasilan dalam mendongkrak tingkat kandungan protein pada biji Zhengdan958, yang merupakan jenis hibrida jagung dengan cakupan budidaya paling masif di seantero China, dari angka awal 8,5 persen merangkak naik hingga melampaui 12 persen.

Wu memaparkan bahwa negara China sanggup menghasilkan kisaran 300 juta ton komoditas jagung pada tiap tahunnya.

Bila tingkat kandungan protein pada jagung yang dialokasikan untuk kebutuhan pakan hewan ternak di seantero negeri tersebut sukses ditingkatkan sebesar empat poin persentase menjadi melampaui 12 persen, maka akumulasi tambahan zat protein yang diproduksi bakal bernilai setara dengan lebih dari 30 juta ton kedelai impor, yang mana angka itu berkisar di angka 30 persen dari jumlah impor kedelai pada masa sekarang ini.

"Pencapaian ini memiliki nilai sosial-ekonomi yang signifikan. Hal ini dapat secara drastis menurunkan biaya pakan, meningkatkan keuntungan ekonomi industri peternakan, dan melalui adopsi yang luas, secara signifikan meningkatkan pendapatan petani," kata Han Bin, direktur CEMPS sekaligus akademisi CAS.

Berbagai hasil temuan ilmiah tersebut telah resmi dipublikasikan secara daring pada hari Rabu (3/6) ke dalam jurnal penelitian akademik Nature.

Terkini