CIREBON - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini telah melewati angka Rp 18.000 per dolar memicu terjadinya lonjakan pada aktivitas penukaran valuta asing (valas) di sejumlah gerai penukaran uang di Kota Cirebon, Jawa Barat.
Di tengah munculnya rasa cemas terhadap penguatan dolar AS, sebagian warga tampak memanfaatkan momen ini guna melepas tabungan valas yang mereka miliki.
Akan tetapi, tidak sedikit pula warga yang memilih untuk menahan dolar mereka lantaran berasumsi nilainya masih berpeluang untuk merangkak naik.
Pimpinan Cabang Money Changer Dolarasia Cirebon, Samuel, mengungkapkan bahwa meroketnya kurs dolar memberikan pengaruh secara langsung pada naiknya volume transaksi harian.
Ia memaparkan, persentase jumlah transaksi mengalami pertumbuhan berkisar 20 hingga 30 persen bila disandingkan dengan keadaan di hari biasa.
Sebelum nilai tukar dolar melambung tinggi, rata-rata volume transaksi di tempat penukaran uang tersebut berkisar di angka 60 pelanggan dalam sehari.
Namun dalam hitungan pekan terakhir, jumlah itu terpantau merangkak naik menjadi kisaran 80 pelanggan setiap harinya.
"Kalau di sini, customer lebih meningkat dari penukaran, sampai hari ini rata-rata naik 30 persen dari hari biasa. Ini terjadi karena kami selalu menginformasikan update rate dollar kepada pelanggan, jadi ada beberapa yang antusias menjual dollar mereka," kata Samuel saat ditemui, Kamis (4/6/2026).
Walau begitu, tidak seluruh pemilik mata uang dolar langsung menjual aset valas mereka.
Sebagian dari mereka terpantau masih ingin memantau situasi pergerakan pasar sebab meyakini nilai kurs dolar berpeluang untuk kembali melesat tinggi.
Samuel menjelaskan, aktivitas transaksi mata uang dolar AS di waktu sekarang ini didominasi oleh kelompok pengusaha yang mempunyai roda bisnis perdagangan atau relasi usaha berskala internasional.
Di lain sisi, untuk aktivitas transaksi mata uang asing lainnya layaknya yen Jepang serta dolar Taiwan terpantau lebih banyak dijalankan oleh para pekerja migran Indonesia (PMI) yang baru saja kembali dari luar negeri ataupun pihak kerabat mereka.
"Kalau dollar sendiri rata-rata dari pebisnis. Tapi kalau Jepang dan Taiwan itu rata-rata pekerja migran," ujar Samuel.
Bukan hanya dolar AS saja, jenis mata uang dari negara asing yang tergolong cukup ramai diperjualbelikan di wilayah Cirebon di antaranya yakni dolar Singapura, ringgit Malaysia, yen Jepang, serta dolar Taiwan.
Berdasarkan penilaian Samuel, kondisi tersebut memperlihatkan besarnya angka pergerakan pekerja migran yang berasal dari Cirebon dan area di sekelilingnya, terkhusus bagi mereka yang mengadu nasib di negara Jepang dan Taiwan.
Di tengah tren penguatan mata uang dolar AS, para pelaku bisnis penukaran uang juga ikut kecratan berkah positif lantaran mendapatkan profit ekstra dari ketersediaan stok valas yang mereka beli sewaktu nilai kursnya masih berada di posisi yang rendah.
Pada saat ini, pasokan dolar AS yang tersimpan di kantornya berada di kisaran antara 80.000 sampai dengan 100.000 dolar AS.
Meski begitu angka ketersediaan tersebut terus bergerak dinamis karena banyaknya nasabah yang datang guna melakukan penjualan dolar mereka.
"Kalau dollar yang tinggi seperti sekarang, banyak yang masuk. Jadi kami menerima berapa pun, tidak ada batasan," katanya.
Walaupun nilai kurs dolar terus merangkak naik, Samuel menyebutkan bahwa dirinya belum mengendus adanya gejala aksi borong atau pembelian dolar secara masif akibat panik.
Bukan sekadar faktor harga jualnya yang terbilang sudah terlampau tinggi, tindakan pembelian mata uang dolar pun turut dibatasi oleh regulasi hukum yang sedang berlaku.
Masing-masing individu masyarakat hanya diperkenankan untuk melakukan pembelian paling banyak 25.000 dolar AS dalam kurun satu bulan dengan menyertakan satu buah identitas kartu tanda penduduk resmi.
Lewat pemberlakuan aturan pembatasan semacam itu, potensi timbulnya aksi pembelian untuk spekulasi dalam skala jumbo dinilai masih sanggup diredam dengan baik.