NAGAN RAYA - Dampak musim kemarau mulai dirasakan petani di sejumlah wilayah Provinsi Aceh.
Di Kabupaten Nagan Raya, ratusan hektare lahan sawah dilaporkan mengalami kekeringan, sementara di Kabupaten Simeulue petani terpaksa menunda masa tanam akibat kondisi lahan yang mengeras dan sulit diolah.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Nagan Raya, Marzuki, mengatakan bahwa hingga saat ini sekitar 600 hektare sawah di Kecamatan Kuala dan Suka Makmue terdampak kekeringan.
"Kekeringan yang terjadi di sejumlah desa di Nagan Raya akibat penurunan debit air yang signifikan pada saluran irigasi serta minimnya curah hujan bagi kawasan tadah hujan," katanya, Sabtu (6/6/2026) dikutip dari Antara.
Kekeringan di Kabupaten Nagan Raya tersebar di sejumlah desa, khususnya di Kecamatan Kuala.
Beberapa wilayah yang terdampak antara lain: Desa Ujong Pasi: 105 hektare, Desa Alue Ie Mameh: 80,25 hektare, Desa Simpang Peut: 76,5 hektare, Desa Blang Muko: 73 hektare, Desa Blang Bintang: 51,2 hektare, Desa Ujong Patihah: 48 hektare, Desa Cot Kumbang: 45 hektare, Desa Blang Baro: 40 hektare, Desa Kuta Makmue: 35 hektare (tadah hujan), Desa Ujong Sikuneng: 29,5 hektare, Desa Pulo Ie: 15,75 hektare.
Selain itu, di Kecamatan Suka Makmue, kekeringan juga terjadi di Desa Seumambek dengan luas 30,34 hektare serta Desa Macah seluas 68,38 hektare.
Menurut Marzuki, sebagian besar lahan tersebut merupakan sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan, sehingga rentan mengalami kekeringan saat musim kemarau.
Kondisi kekeringan ini berdampak langsung terhadap pertumbuhan tanaman padi milik petani.
Sejumlah tanaman mulai menunjukkan gejala kekurangan air yang cukup serius.
"Saluran irigasi saat ini mengalami penurunan debit air yang cukup parah sehingga kebutuhan air tanaman padi tidak terpenuhi. Kami terus memantau pergerakan dampaknya di lapangan agar bisa segera diambil tindakan penyelamatan," kata Marzuki.
Untuk mengatasi dampak kekeringan, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Nagan Raya telah melakukan berbagai upaya penanganan, di antaranya: Mengatur sistem giliran distribusi air pada daerah irigasi terbatas, Melakukan gotong royong bersama masyarakat membersihkan saluran irigasi, Mengusulkan bantuan pompa air, Mencari sumber air alternatif seperti sumur bor dangkal, Mengoptimalkan pintu air dan jaringan irigasi, Melakukan pendataan berkala terhadap luas lahan terdampak.
Upaya ini dilakukan untuk meminimalisasi kerugian petani serta mencegah terjadinya gagal panen dalam skala besar.
Situasi serupa juga terjadi di Kabupaten Simeulue.
Petani di Desa Lataling, Kecamatan Teupah Selatan, terpaksa menunda masa tanam karena lahan pertanian yang mengering dan sulit diolah.
Marni (48), salah seorang petani, mengatakan kondisi kekeringan telah berlangsung selama sekitar satu bulan terakhir.
"Kekeringan ini sudah terjadi satu bulan terakhir ini, lahan persawahan kering dan retak sehingga untuk diolah saja sulit apalagi ditanami padi," katanya.
Akibat kondisi tersebut, petani tidak dapat melaksanakan penanaman sesuai jadwal yang seharusnya.
"Untuk sementara terpaksa harus ditunda untuk penanaman padi karena tidak bisa mengolah lahan," ujar Marni.
Kepala Desa Lataling, Rajuin, menyampaikan bahwa pihaknya telah mengusulkan pembangunan saluran irigasi untuk mengatasi persoalan ini.
Namun hingga kini, usulan tersebut belum terealisasi.
"Lahan sawah kami di sini kalau ada hujan baru bisa diolah, tetapi kalau kemarau terpaksa ditunda pengolahannya karena akan mengering," katanya.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Simeulue, Kasirman, mengatakan pemerintah daerah terus berupaya membantu petani dalam menghadapi dampak kekeringan.
"Kami berupaya membantu petani mengatasi kekeringan areal persawahan di beberapa wilayah di Kabupaten Simeulue," katanya.