BMKG: Mayoritas Kota Besar Indonesia Berawan dan Hujan Hari Ini

Senin, 08 Juni 2026 | 09:54:13 WIB
Ilustrasi Hujan Deras.(Sumber:NET)

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan situasi berawan hingga terdapatnya peluang hujan dengan skala ringan, sedang, hingga lebat yang bisa dibersamai petir serta angin kencang di beberapa kota besar di Indonesia pada hari Senin.

Dikutip lewat situs resmi BMKG di Jakarta, Senin, forecaster Henokhvita menjabarkan bahwa secara garis besar kawasan konvergensi terlihat membentang mulai dari perairan utara Maluku Utara sampai ke utara Papua Barat, serta perairan selatan Kalimantan Tengah hingga ke Selat Karimata.

Di luar itu, area konvergensi tersebut pun tampak membentang dari Kalimantan Selatan menuju ke Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dari wilayah Laut Banda sampai Pulau Seram, serta dari Teluk Cendrawasih hingga ke wilayah pesisir utara Papua Barat.

Situasi tersebut dianggap dapat memicu kenaikan peluang pertumbuhan awan hujan di sepanjang kawasan yang dilintasi oleh rute konvergensi atau konfluensi itu.

Oleh karena itu, BMKG memproyeksikan beberapa kota besar berkesempatan dilanda curah hujan dengan intensitas sedang sampai sangat lebat yang dibersamai kilat serta angin kencang, yakni di wilayah Tanjungpinang dan Palembang.

Sementara itu, sebagian kota besar lainnya diperkirakan bakal dilanda hujan dengan skala ringan hingga sedang, seperti di kawasan Banda Aceh, Medan, Palangkaraya, Pontianak, Tanjung Selor, Samarinda, Mamuju, Kendari, Palu, Manado, Ambon, Sorong, Nabire, dan Merauke.

Sementara beberapa kota besar yang diproyeksikan cuma bakal melewati cuaca berawan pada hari ini mencakup kawasan Pekanbaru, Bandar Lampung, Jakarta, Serang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Mataram, Kupang, Makassar, Gorontalo, Ternate, Manokwari, Jayapura, dan Jayawijaya.

Sebelumnya pada Sabtu (6/6), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengklarifikasi kabar yang sedang ramai di media sosial dengan melayangkan penegasan bahwa gejala bediding atau merosotnya temperatur udara kala malam sampai pagi hari bukanlah sebuah wujud peristiwa cuaca ekstrem.

"Perlu dipahami bahwa bediding bukanlah fenomena yang 'melanda' seperti kejadian cuaca ekstrem, melainkan kondisi musiman ketika udara terasa lebih dingin akibat berkurangnya tutupan awan," kata Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani di Jakarta, Sabtu.

Dirinya menjabarkan bahwa hawa dingin yang kian pekat pada kala malam hingga pagi hari itu berlangsung lantaran radiasi balik dari bumi dapat langsung lepas menuju atmosfer akibat hilangnya tutupan awan.

Keadaan yang seperti itu kemudian diperberat oleh kadar kelembapan udara yang termasuk minim serta terdapatnya kenaikan imbas dari pergerakan massa udara kering yang bertiup dari Australia.

Ahli di bidang meteorologi BMKG ini menambahkan bahwa ciri khas dari temperatur dingin musiman seperti ini lazimnya mulai didapati pada bulan Juni dan berpeluang naik pada bulan Juli hingga Agustus, utamanya di saat keadaan cuaca malam hari teramati cerah dan angin timuran atau Monsun Australia kian menguat.

Terkini