Waktu Terbaik Melihat Embun Upas Dieng Sebelum Matahari Terbit

Kamis, 11 Juni 2026 | 11:41:22 WIB
Suhu di Dieng mencapai minus (FOTO: NET)

BANJARNEGARA - Wisatawan yang ingin menyaksikan fenomena embun upas di Dieng sebaiknya datang sebelum Matahari terbit.

Sebab, lapisan es yang terbentuk di kawasan dataran tinggi tersebut hanya bertahan dalam waktu singkat sebelum mencair akibat paparan sinar Matahari.

Analis Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Zauyik, mengatakan waktu paling ideal untuk menyaksikan embun upas adalah setelah subuh hingga sekitar pukul 06.00 WIB.

"Waktu terbaik saat embun upas sehabis subuh hingga jam 6 pagi, seiring dengan mulai bersinarnya Matahari, maka embun upas akan hilang kembali karena kenaikan suhu udara dari radiasi Matahari," ujar Zauyik kepada Kompas.com, Rabu (10/6/2026).

Menurut dia, embun upas tidak muncul setiap hari sepanjang musim kemarau.

Fenomena tersebut hanya terjadi ketika kondisi cuaca dan atmosfer mendukung, terutama saat suhu udara turun sangat rendah.

"Embun upas di Dieng tidak terjadi terus-menerus sepanjang musim kemarau, tetapi biasanya muncul pada periode tertentu ketika kondisi atmosfer sangat mendukung, terutama pada puncak musim kemarau (Juli-Agustus)," jelas Zauyik.

Ia menjelaskan kemunculan embun upas bersifat insidental.

Fenomena itu dapat muncul selama beberapa hari berturut-turut, tetapi juga bisa menghilang meski musim kemarau masih berlangsung.

"Bisa berlangsung beberapa hari berturut-turut lalu menghilang ketika kondisi atmosfer berubah, meskipun musim kemarau masih berlangsung," jelasnya.

Kemunculan embun upas di Dieng menarik perhatian banyak wisatawan setiap tahun ketika musim kemarau tiba.

Sebabnya, lapisan es berupa kristal putih seperti salju akan menyelimuti rerumputan, daun, termasuk kawasan Candi Arjuna ketika pagi hari.

Menurut Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto, kemunculan embun upas di Dieng tak bisa dilepaskan dari kondisi kering yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Curah hujan di kawasan Dieng tercatat sekitar 0 milimeter pada Sabtu (6/6/2026) hingga Selasa (9/6/2026).

"Curah hujan nol milimeter menunjukkan atmosfer berada dalam kondisi sangat kering. Selain itu, langit cenderung cerah tanpa awan pada malam hingga pagi hari," jelas Goeroeh dikutip dari Antara Jateng, Rabu.

Di sisi lain, kemunculan embun upas berkaitan dengan tidak ada tutupan awan.

Kondisi ini membuat panas yang tersimpan di permukaan Bumi ketika siang hari dilepaskan secara maksimal ke atmosfer dan luar angkasa pada malam hari.

Oleh sebab itu, proses pendinginan berlangsung sangat cepat yang membuat suhu permukaan turun secara signifikan.

Kemunculan embun upas juga diperkuat dengan topografi Dieng yang berupa cekungan dan dikelilingi pegunungan.

"Berdasarkan data, suhu udara minimum di Dieng pada 9 Juni 2026 mencapai 1,05 derajat Celsius pada pukul 01.01 WIB. Sementara suhu rumput atau permukaan tanah tercatat lebih rendah, yakni 0,60 derajat Celsius pada pukul 08.30 WIB," jelas Goeroeh.

"Udara dingin dari lereng pegunungan bergerak turun pada malam hari dan terperangkap di dasar lembah sehingga suhu di kawasan tersebut menjadi jauh lebih rendah dibandingkan daerah sekitarnya," tambahnya.

Terkini