SPMB Bandung 2026 Diikuti 17 Ribu Siswa, Layanan Posko Disiagakan

Jumat, 12 Juni 2026 | 16:03:16 WIB
Posko pendampingan pendaftaran SPMB yang dibuat Pemkot Bandung. (FOTO: NET)

BANDUNG - Pemerintah Kota Bandung menyediakan beragam fasilitas pendampingan selama berjalannya Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 demi menjamin warga memperoleh kejelasan informasi sekaligus pertolongan saat menemui hambatan ketika mendaftar.

Proses pendampingan sepanjang SPMB Kota Bandung 2026 ini memanfaatkan sedikitnya tujuh jalur informasi, yang meliputi posko bersama, pesan WhatsApp, jejaring media sosial, chatbox, hingga pusat konsultasi di tiap wilayah kewilayahan.

Mengacu pada data milik Dinas Pendidikan Kota Bandung, tercatat ada 17.843 calon peserta didik yang sudah berpartisipasi dalam SPMB Kota Bandung hingga Kamis (11/6/2026).

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Asep Saeful Gufron, memaparkan bahwa penguatan fasilitas ini sengaja dilakukan agar publik bisa mengakses informasi secara kilat sekaligus valid selama seluruh tahapan pendaftaran.

“Kami sengaja memperluas kanal layanan agar masyarakat lebih mudah mengakses informasi dan meminimalisasi miskomunikasi selama proses SPMB berlangsung. Jadi ketika ada kendala, masyarakat memiliki tempat untuk bertanya dan mendapatkan solusi,” kata Asep dalam rilis yang diterima Kompas.com, Jumat (12/6/2026).

Asep juga menambahkan bahwa selama masa pelaksanaan penerimaan tersebut, masyarakat Kota Bandung telah melakukan konsultasi sebanyak 518 kali melalui Dinas Pendidikan, 124 kali lewat Dinas Sosial, serta 895 pengurusan dokumen kependudukan melalui Disdukcapil.

Bukan hanya itu, persentase penanganan aduan yang dikirimkan warga lewat kanal-kanal resmi kini sudah menyentuh angka berkisar 71 persen.

Langkah nyata dalam mengoptimalkan pelayanan ini selaras dengan instruksi Wali Kota Bandung Muhammad Farhan yang meminta agar seluruh unit layanan publik bergerak lebih dekat, tangkas, serta peka terhadap keperluan warga.

Bagi Asep, kesuksesan agenda penerimaan baru ini tidak sekadar berpatokan pada kelancaran sistem seleksi yang tepat waktu, melainkan juga dari andil pemerintah dalam memberikan jaminan bantuan saat warga memerlukan pendampingan.

“Yang terpenting masyarakat merasa terlayani dan mendapatkan informasi yang benar. Kami ingin memastikan setiap peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti proses SPMB dengan baik,” ucapnya.

Salah seorang warga Kota Bandung bernama Marselina membagikan ceritanya yang merasa sangat terbantu oleh kehadiran posko pendampingan terpadu selama masa pendaftaran tersebut.

Menurut dia, keberadaan posko ini sangat menolong saat proses pendaftaran keponakannya terkendala masalah ketidaksesuaian data pada sistem daring.

“Kebetulan saya mewakili keponakan saya, setelah upload pendaftaran tidak bisa karena ada data yang tidak sesuai. Saya cek ke Disdukcapil ternyata sudah sesuai,” katanya.

Setelah diperiksa lebih lanjut oleh petugas di lapangan, kendala sistem itu bersumber dari kekeliruan penginputan data di awal dan akhirnya dapat dituntaskan melalui bimbingan petugas di posko.

Penuturan serupa dilontarkan oleh warga Kota Bandung lainnya, Cucu Darmawan.

Ia beranggapan bahwa mekanisme pendaftaran saat ini semakin praktis bagi publik lantaran mayoritas prosesnya dapat diselesaikan secara daring tanpa kewajiban mendatangi sekolah tujuan secara fisik.

“Mudah-mudahan SPMB ke depan makin memudahkan, karena kami kan hanya di rumah, tidak ke sekolah, pengurusannya juga lebih fleksibel, lebih cepat sebetulnya. Asal penjelasannya itu sudah dipahami,” pungkasnya.

Terkini