Kementan dan Otsus Papua Dorong Peran Petani Muda OAP

Jumat, 12 Juni 2026 | 16:03:16 WIB
Anggota Komite Eksekutif Presiden Republik Indonesia untuk Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Gracia Billy Mambrasar bertemu dengan Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia, Sudaryono. (FOTO: NET)

JAKARTA - Ketahanan pangan kerap kali didiskusikan melalui angka statistik yang cenderung rumit.

Luas area lahan yang dibuka, total produksi yang dicapai, hingga jumlah investasi yang masuk menjadi tolok ukur utama keberhasilan program.

Namun di balik angka-angka tersebut, terdapat hal esensial terkait siapa yang benar-benar merasakan manfaat dari pembangunan tersebut.

Persoalan ini terasa kian kuat ketika dikaitkan dengan wilayah Papua yang kaya akan sumber daya alam.

Lahan yang luas, keragaman hayati, serta komoditas lokal unik menjadi modal besar bagi ekonomi dan ketahanan pangan nasional.

Akan tetapi, situasi di banyak tempat membuktikan bahwa kelimpahan alam tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan warga lokal.

Pembangunan dan investasi boleh saja berkembang, tetapi hasilnya belum tentu terdistribusi merata kepada masyarakat setempat.

Oleh karena itu, Anggota Komite Eksekutif Presiden RI untuk Percepatan Pembangunan Otsus Papua, Billy Mambrasar, menemui Wakil Menteri Pertanian Sudaryono beserta jajaran Kementan untuk meminta ruang yang lebih luas bagi petani muda Orang Asli Papua (OAP) dalam program nasional.

Permintaan ini membawa pesan mendalam yang melampaui sekadar urusan sektor pertanian.

Ada poin besar mengenai bagaimana program dirancang agar warga lokal memegang peran sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton.

Semangat bertani masyarakat di berbagai kampung di Papua sebenarnya sangat mudah ditemukan.

Banyak keluarga hidup dari mengelola lahan turun-temurun dengan bekal pemahaman alam yang diwariskan antargenerasi.

Namun, potensi besar ini masih terbentur oleh berbagai keterbatasan akses di lapangan.

Pelatihan dan pendampingan teknis belum merata serta belum menjangkau seluruh wilayah.

Penerapan teknologi modern dan akses pembiayaan juga masih menjadi tantangan besar.

Ditambah lagi, rantai pemasaran kerap menjadi kendala utama bagi petani untuk mendapatkan keuntungan ekonomi yang maksimal.

Dalam ekonomi pembangunan, fenomena ini disebut kegagalan pasar yang terjadi bukan karena ketidakmampuan warga, melainkan akibat hambatan akses sumber daya.

Pada titik inilah peran negara menjadi krusial sebagai fasilitator yang membuka jalan dan membangun ekosistem mandiri.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menilai, Papua memiliki modal yang sangat besar, mulai dari potensi lahan, generasi muda yang produktif, hingga kekayaan komoditas lokal.

Berdasarkan pandangan tersebut, pemberdayaan bagi petani muda Papua tidak boleh bersifat jangka pendek melainkan harus berkelanjutan.

Langkah yang diperlukan meliputi penguatan kapasitas, akses teknologi, pendampingan, serta akses langsung ke pasar.

Pendekatan ini krusial mengingat dunia pertanian modern kini menuntut aspek manajemen, literasi digital, dan kejelian membaca pasar.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Idha Widi Arshanti, menekankan bahwa pengembangan sumber daya manusia menjadi kunci keberhasilan pembangunan pertanian di Papua.

Generasi muda harus dibekali keterampilan yang relevan agar mampu bersaing dalam ekosistem pertanian masa kini.

Di sisi lain, aspek infrastruktur pendukung juga tidak boleh dikesampingkan.

Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Hermanto, mengingatkan bahwa Papua memiliki karakter wilayah yang sangat beragam.

Oleh karena itu, pembangunan lahan dan irigasi harus disesuaikan dengan kondisi lokal agar produktivitas pertanian dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Sektor peternakan rakyat pun memegang peran strategis dalam memperkuat ketahanan pangan regional.

Sektor ini tidak hanya memenuhi kebutuhan protein, tetapi juga membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat desa.

Melalui pengelolaan pakan, kesehatan hewan, dan penguatan kelembagaan, peternakan dapat menjadi penggerak baru ekonomi lokal.

Lebih dari sekadar memacu produksi, keterlibatan petani asli Papua membawa dampak ekonomi yang meluas.

Saat warga lokal masuk dalam rantai produksi, perputaran uang dan manfaat ekonomi akan menetap di daerah tersebut.

Kondisi ini memicu efek pengganda ekonomi yang meningkatkan daya beli serta menumbuhkan usaha baru.

Maka dari itu, keberhasilan pertanian di Papua tidak boleh hanya diukur dari luas lahan atau tonase panen.

Indikator yang lebih utama adalah seberapa besar masyarakat asli Papua terlibat dan menerima manfaat nyata.

Sejarah menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang lahir dan tumbuh dari masyarakat sendiri.

Ketika menjadi aktor utama, masyarakat akan memiliki rasa kepemilikan yang kuat terhadap program tersebut.

Papua punya modal kuat untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.

Kuncinya terletak pada keberpihakan regulasi, konsistensi pendampingan, serta penempatan warga asli sebagai subjek pembangunan.

Sebab ketahanan pangan bukan hanya soal memastikan ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat.

Ketahanan pangan juga merupakan upaya membangun martabat, menciptakan kesempatan, dan memperluas ruang bagi masyarakat untuk menentukan masa depannya sendiri.

Saat petani asli Papua diberikan ruang dan kepercayaan, yang berkembang bukan sekadar angka produksi, melainkan sebuah kemandirian ekonomi serta optimisme generasi muda.

Terkini