Rekam Jejak Kelam Taufik Hidayat, Tersangka Penganiayaan Berat

Kamis, 25 Juni 2026 | 13:18:24 WIB
Taufik Hidayat (Tengah) (FOTO: NET)

BANDUNG - Proses penegakan hukum terkait kasus dugaan penganiayaan berat yang dilakukan Taufik Hidayat (30) kepada pacarnya di daerah Bandung kian mengungkap berbagai fakta baru yang mengagetkan masyarakat.

Bukan cuma mempunyai riwayat kekerasan yang teramat panjang, terkuak pula fakta menyedihkan bahwa ibu kandung pelaku wafat lantaran didera stres serta depresi mendalam akibat ulah sang anak.

Rentetan peristiwa ini menarik perhatian publik secara luas karena tak sekadar berkaitan dengan ranah hukum pidana, tetapi juga memperlihatkan kondisi sosial serta problematika internal keluarga yang melatarbelakangi watak kejam pelaku.

Kepala Desa Ciaro, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Kusnaedi, melalui tayangan YouTube di saluran Kang Dedi Mulyadi Channel pada Rabu (24/6/2026), membenarkan bahwa mendiang ibu Taufik menanggung beban psikologis yang amat berat karena perbuatan anak-anaknya.

Ia memaparkan bahwa mendiang sang ibu menghadapi tekanan batin yang berlarut-larut hingga mengalami depresi sebelum akhirnya tutup usia.

Gangguan mental yang dialami tersebut bahkan sempat membuat almarhumah sering berjalan kaki telonjoran tanpa tujuan yang pasti serta menjauhkan diri dari pergaulan bersama warga setempat.

"Ibunya stres, setahun ampleung-ampleungan (jalan kaki ke sana ke mari)," kata Kusnaedi dikutip dari TribunnewsBogor.

Berdasarkan keterangannya, sang ibu pada masa itu juga kerap menolak kala mau dibawa berobat untuk memeriksakan kondisi kesehatannya dan memilih mengurung diri di rumah tanpa bersuara.

"Istrinya gak mau dibawa diperiksa, di rumah diem, gak ngomong, lalu ada kesempatan keluar, jalan terus," ujarnya.

Kusnaedi menjelaskan bahwa Taufik semenjak masa kanak-kanak memang telah memanifestasikan tanda-tanda perilaku menyimpang.

Ia membeberkan kalau tersangka sudah akrab mengonsumsi zat terlarang sejak masih kecil dan mempunyai watak yang tempramental.

"Waktu kecil pas ngaji juga minum obat (obat-obatan terlarang). Udah gede gak ada yang mau temenan, pada takut, orangnya brutal, udah kelihatan dari kecilnya juga," katanya.

Bukan hanya itu saja, Taufik terdata pernah tersangkut dalam pusaran kasus kriminalitas terdahulu, meliputi perkara pemukulan serta penggelapan unit sepeda motor.

Pelaku bahkan sempat mendekam di balik jeruji besi selama kurun waktu 1,5 tahun.

"Pernah ditahan kasus penganiayaan dan penggelapan motor, saya yang ngurusin. Motor orang Garut. Pernah ditahan di Polres Rancaekek, divonis 1,5 tahun dipenjara," jelas Kusnaedi.

Dari pengamatannya, salah satu aspek kuat yang membentuk kepribadian keras tersangka ialah metode pengasuhan orang tua, yang mana Taufik kerap kali dibela oleh sang ayah tiap kali berselisih dengan orang lain.

"Kalau ribut sama tetangga suka dibela ayahnya, jadi kesayangan," tambahnya.

Kusnaedi pun mengungkap fakta kalau tabiat bermasalah tak hanya melekat pada sosok Taufik, melainkan terjadi juga pada saudara-saudara kandungnya yang lain.

Kondisi pelik ini semakin menambah berat beban batin yang mesti ditanggung oleh almarhumah ibunya.

Ia menerangkan bahwa kakak laki-laki Taufik dikenal suka memicu perselisihan di lingkungan tempat tinggal, memiliki masalah dalam urusan pekerjaan, hingga sudah beberapa kali bercerai.

"Yang kedua suka mabok, kerja juga dipecat. Punya istri sudah dua kali cerai, anak satu, sering ancam orang berkelahi," katanya.

Sedangkan adik paling kecil dari Taufik dikabarkan telah meninggal dunia lantaran mengalami overdosis zat terlarang.

"Yang bungsu meninggal karena over dosis, minum obat-obatan sampai meninggal dunia," ungkapnya.

Keadaan internal keluarga yang sarat dengan bermacam persoalan ini diindikasikan menjadi penyebab utama yang memicu timbulnya tekanan mental yang sangat hebat bagi sang ibu.

Di samping kasus penganiayaan berat kepada sang kekasih, Taufik diketahui pernah pula melakukan aksi kekerasan fisik terhadap ayah kandungnya sendiri.

Peristiwa mengerikan tersebut diceritakan secara langsung oleh sang ayah yang bernama Tata.

Ia menuturkan bahwa bagian kepalanya sempat dihantam memakai kayu oleh Taufik hanya karena dipicu oleh permasalahan yang sangat sepele.

"Saya pernah dipukul kepala pakai kayu. Waktu itu saya lagi macul di sawah, dia di rumah lagi nganggur, mau makan gak ada apa-apa," tuturnya.

Kejadian pemukulan itu berlangsung saat sang ayah sedang memeras keringat bekerja di lahan persawahan.

Taufik tiba-tiba mendatangi dirinya di sawah dan langsung melayangkan pukulan keras hingga menyebabkan korban jatuh terkapar.

"Dia datang ke sawah, langsung mukul, ngagebru (jatuh). Untung saya ada temen dua, mau mukul lagi dihalangin," ucapnya.

Setelah melangsungkan aksi pemukulan tersebut, Taufik sempat kabur dari rumah dan tidak kembali selama beberapa hari sebelum pada akhirnya pulang untuk meminta maaf.

Usai mempraktikkan penyekapan serta penganiayaan keji kepada YTR dalam rentang waktu kurang lebih dua tahun, Taufik akhirnya berhasil diringkus oleh personel kepolisian pada Selasa (24/6/2026).

Saat ini, pelaku tengah mendekam di sel tahanan demi menjalani proses penyidikan intensif guna mempertanggungjawabkan segala tindakannya di hadapan hukum yang berlaku.

Kasus hukum ini terus menyita perhatian luas dari masyarakat lantaran mempertontonkan adanya lingkaran kekerasan yang terus berulang, baik yang menyasar internal keluarga sendiri maupun orang lain di luar lingkungan rumah.

Terkini