PURWAKARTA - Anggota DPR RI Komisi VIII Atalia Praratya berpendapat bahwa Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein telah mendiskreditkan kaum wanita lewat sebuah lagu berbahasa Sunda dengan judul "Lalaki Langit, Lalanang Bejat".
"Hari ini kami mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?," kata Atalia melalui unggahan akun Instagramnya @ataliapr, Rabu.
Atalia Praratya mengunggah lagu buatan Binzein tersebut pada 19 Januari 2026 melalui akun Instagram pribadinya.
Menurut pandangannya, lagu itu bukan sebuah karya melainkan refleksi dari pola pikir yang berpotensi merusak.
Ia pun mempertanyakan status lagu itu sebagai karya atau bukan lantaran liriknya dapat diartikan sebagai bentuk penghinaan terhadap perempuan.
"Jujur saya tidak habis pikir, se-positif apapun saya memaknai lagu ini. Saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan" ungkapnya.
Atalia merasa heran mengapa dari banyaknya pilihan kosakata bahasa Sunda yang elok serta pesan positif yang mampu menaikkan martabat kehidupan, justru narasi yang mendiskreditkan perempuan yang diangkat.
"Sebodoh apapun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi. Saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kami untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," katanya.
Di bawah ini adalah lirik lagu berbahasa Sunda buatan Bupati Purwakarta yang dianggap oleh Atalia telah merendahkan kaum wanita:
Nuhun Gusti Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Cacak mun jadi awewe
Es-Em-Pe Kelas Tilu Tos karuron tujuh kali
Nuhun Gusti Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Teu kudu meuli kutang
Itu busana leuwih gede batan susu
Nuhun Gusti
Tos nyiptakeun kurng jadi lalaki
Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek
Alatan telat bulan
Nuhun Gusti
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata
Sakalina ngiceup hese beunta
(Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku jadi laki-laki
Andai saja jadi perempuan
SMP kelas tiga sudah keguguran tujuh kali
Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku jadi laki-laki
Tidak usah membeli bra, yang busanya lebih besar daripada payudara
Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku jadi laki-laki
Tidak usah keluyuran mencari apotek, karena telat datang bulan
Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku jadi laki-laki
Tidak usah melukis alis dan bulu mata yang sekali berkedip susah melek Lelaki langit, Lelaki bejat)
Di sisi lain, saat dimintai keterangan, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein menyatakan bahwa lagu itu dibuat bukan dengan tujuan memojokkan atau menyinggung kelompok tertentu, terutama kaum wanita.
Ia menjelaskan bahwa karya berupa puisi dan lagu tersebut sudah digubah sejak beberapa tahun yang lalu sebagai refleksi atas dirinya sendiri.
"Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal," katanya.
Lirik yang ada di dalam lagu tersebut dipandang sebagai wujud kejujuran atas ketidaksempurnaan dirinya di masa lampau.
Ia menganggap karya ini sebagai sarana kontemplasi spiritual serta emosional dari kisah perjalanan hidupnya.
Walau begitu, ia tetap menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan serta rasa tidak nyaman yang sempat muncul akibat lirik lagu tersebut.
"Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri," katanya.