Krisis Demografi, Jerman Buka Pintu Luas bagi Pekerja Terampil RI

Selasa, 07 Juli 2026 | 13:07:57 WIB
Orang-orang beraktivitas di Erfurt, ibu kota Negara Bagian Thüringen, Jerman.(FOTO:NET)

BERLIN - Serupa dengan mayoritas negara industri lainnya, Jerman saat ini dihadapkan pada persoalan populasi pekerja yang menua secara masif lantaran generasi baby boomer kelahiran 1946-1964 mulai memasuki fase purna tugas.

Dalam kurun waktu 15 tahun ke depan, diperkirakan ada sekitar 13,4 juta penduduk Jerman dari kelompok baby boomer yang akan mengakhiri masa kerjanya.

Jumlah tersebut merepresentasikan sekitar 31 persen dari total populasi pekerja di negara bersangkutan.

Persentase tersebut terhitung amat besar dan diprediksi menjadi kecenderungan jangka panjang, sebagaimana disampaikan David Kipp selaku peneliti Divisi Penelitian Isu Global pada Institut Jerman untuk Urusan Internasional dan Keamanan dalam pemaparannya di Berlin, 29 Juni.

Ia memaparkan bahwa untuk saat ini Jerman mencatatkan rasio kelahiran sebesar 1,3 anak per wanita, sebuah angka yang hampir menyentuh titik terendah dalam sejarah.

Kondisi tersebut juga memperlihatkan penurunan drastis dari masa keemasan pada kisaran tahun 2010, yang mana kala itu angkanya sempat menyentuh rasio 1,6.

Kebutuhan akan suplai pekerja ahli di Jerman sendiri memiliki variasi yang berbeda di tiap kawasan.

Sebagai contoh, wilayah Negara Bagian Thuringia diproyeksikan memerlukan pasokan pekerja ahli dalam jumlah yang jauh lebih masif jika dibandingkan dengan area lainnya.

Dengan total 45 juta populasi pekerja yang tercatat pada saat ini, Jerman diprediksi hanya akan memiliki sekitar 35 juta tenaga kerja pada tahun 2060 apabila tidak ditopang oleh arus migrasi bersih.

Atas dasar hal itu, Jerman memerlukan sekitar 288.000 arus migrasi bersih di tiap tahunnya demi menjaga agar kuantitas tenaga kerjanya berada dalam kondisi yang berimbang.

Kebutuhan mendesak itu utamanya menyasar kelompok tenaga ahli di sektor medis, pelayanan sosial, penitipan anak, sektor edukasi, hingga tenaga teknis guna menyokong konversi di sektor energi.

Kipp turut memaparkan data riset terkait Migrasi Legal ke Jerman yang memperlihatkan adanya tren penurunan jumlah migrasi bersih tenaga kerja asal negara-negara Eropa semenjak tahun 2012, termasuk pekerja dari Polandia, Latvia, Hongaria, Republik Ceko, Lithuania, Slovenia, Slovakia, serta Estonia.

Penyusutan angka tersebut pada akhirnya memicu peningkatan kebutuhan pasokan imigrasi pekerja yang berasal dari negara-negara di luar Uni Eropa, seperti halnya China, Bosnia dan Herzegovina, Kosovo, Turkiye, Rusia, serta beberapa negara lainnya.

Di tengah problem kependudukan yang tengah melanda negara tersebut, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Jerman memberikan dorongan bagi para pekerja ahli dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari Indonesia, untuk berkarir dan menetap di Jerman.

"Kami ingin orang-orang datang. Kami membutuhkan mereka. Di semua partai politik, imigrasi tenaga terampil sangat disambut dan dibutuhkan. Dan kami juga ingin orang-orang datang dan tinggal," kata Perwakilan Khusus untuk Imigrasi Tenaga Terampil Kemlu Jerman Dr. Martin Bergfelder di Berlin, 1 Juli.

Langkah dorongan tersebut bukan sekadar diperuntukkan bagi warga yang telah mempunyai kualifikasi mumpuni dan selaras untuk berkarir di Jerman, melainkan pula bagi warga yang berminat mengambil bagian dalam pelatihan vokasi maupun menempuh studi di Jerman.

Kemlu Jerman bersama dengan Badan Kerja Sama Internasional Jerman (GIZ), Goethe Institut, serta Kamar Dagang dan Industri Jerman (IHK) terus bersinergi guna mengampanyekan dan menyediakan data yang akurat mengenai peluang berkarir dan menetap di Jerman.

Pihak otoritas Jerman menempatkan agenda perekrutan pekerja ahli sebagai bagian penting dari taktik kemitraan bilateral dengan sejumlah negara sahabat, termasuk Indonesia.

Negara tersebut juga terus berupaya membenahi birokrasi guna mengoptimalkan tata kelola keimigrasian, yang salah satu langkahnya lewat pembentukan Badan Kerja dan Tinggal (Work and Stay Agency).

Lembaga tersebut mengintegrasikan layanan digital satu pintu guna memangkas jalur birokrasi agar terkesan lebih simpel, cepat, serta efisien.

Otoritas Jerman pula menaruh perhatian pada aspek fundamental seumpama penyediaan tempat tinggal, fasilitas sekolah untuk anak, hingga proses pembauran sosial.

Fasilitas sokongan tersebut diharapkan dapat membantu para pekerja dari luar negara untuk lebih mudah menyesuaikan diri selepas bertempat tinggal di negara bersangkutan.

Kebutuhan yang tinggi atas pasokan pekerja ahli mendorong pihak Jerman untuk memperdalam hubungan kerja sama dengan pihak Indonesia lewat skema Kemitraan Keterampilan Global (Global Skills Partnership/GSP).

Hubungan kerja sama tersebut, yang disepakati sewaktu agenda kunjungan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier ke Jakarta pada 15 Juni 2026, menitikberatkan pada penguatan kemitraan strategis antar kedua belah pihak, terkhusus dalam urusan pembenahan sumber daya manusia (SDM).

Di dalam sesi diskusi bilateral antara Presiden Steinmeier bersama Presiden RI Prabowo Subianto, kedua pihak otoritas secara legal menandatangani Letter of Intent (LoI) menyangkut GSP, yang difokuskan pada urusan penyaluran tenaga ahli di sektor keperawatan.

Melalui pemanfaatan sistem tersebut, para tenaga medis yang berasal dari Indonesia bakal memperoleh pembekalan dengan standar global sebelum dikirimkan, sehingga dipastikan siap berkompetisi di bursa kerja Jerman yang menerapkan standar kelulusan yang tinggi.

Di samping pada sektor keperawatan, hubungan kerja sama GSP turut membuka celah penyaluran bakat tenaga kerja Indonesia di berbagai lini industri lainnya.

Presiden Prabowo di dalam dialog tersebut mendorong pihak otoritas Jerman untuk memperlebar komitmen hubungan kerja sama pada sejumlah lini yang memerlukan kompetensi teknologi tingkat tinggi.

Kedua pucuk pimpinan tersebut turut bersepakat untuk menjajaki program pembenahan keahlian di sektor teknologi canggih, digitalisasi, serta sektor industri ramah lingkungan.

Melalui jalinan kerja kerja sama tersebut, kurikulum pelatihan yang menyeluruh bakal disusun guna menyelaraskan tingkat kompetensi para pekerja asal Indonesia dengan kriteria yang dibutuhkan oleh industri global.

Prabowo mengutarakan bahwa penguatan hubungan kerja sama ini selaras dengan langkah Indonesia dalam memacu agenda transfer teknologi, peningkatan mutu SDM, serta mendorong proses alih pengetahuan tatkala para pekerja tersebut kembali menuju tanah air.

Hubungan kerja sama dalam urusan penyaluran pekerja ahli dari Indonesia ke Jerman diharap mampu memunculkan jalan keluar yang saling memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak.

Jerman sukses mendapatkan pasokan pekerja yang diperlukan, sedangkan di sisi lain Indonesia memperoleh kesempatan emas untuk mengatrol mutu SDM sekaligus mempercepat jalannya proses alih pengetahuan.

Terkini