SURABAYA - Riuh tawa anak-anak di pekarangan sekolah senantiasa menjadi pertanda bahwa asa suatu bangsa tengah berkembang.
Namun, di balik giatnya aktivitas menuntut ilmu, terdapat ruang lain yang turut membentuk pola pikir mereka.
Ruang tersebut tidak terbatas oleh dinding maupun jam pelajaran, melainkan hadir melalui layar gawai yang senantiasa berada dalam genggaman setiap harinya.
Di sanalah berbagai informasi, konten hiburan, serta aneka ideologi saling bersaing menarik perhatian, termasuk paham radikalisme, intoleransi, hingga terorisme.
Ancaman radikalisme yang menyasar anak tidak lagi identik dengan pertemuan tertutup atau ceramah rahasia.
Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara penyebarannya menjadi lebih personal, halus, dan sulit dideteksi.
Algoritma pada media sosial mampu menyajikan konten yang terus berulang sesuai dengan ketertarikan penggunanya.
Saat seorang anak mulai terpikat pada konten tertentu, sistem digital secara otomatis menyajikan materi yang semakin ekstrem tanpa mereka sadari.
Situasi ini bukan sekadar asumsi semata.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) lewat beragam kajian mengenai pencegahan ekstremisme menegaskan bahwa ruang digital telah menjadi medium utama dalam menyebarkan ideologi kekerasan.
Kelompok ekstrem kerap memanfaatkan aplikasi percakapan, permainan digital, forum daring, serta media sosial untuk menjaring generasi muda yang sedang mencari jati diri.
Indonesia pun tengah menghadapi tantangan serupa.
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) berkali-kali mengingatkan bahwa penyebaran paham radikal kini lebih dominan terjadi di ruang digital ketimbang melalui interaksi tatap muka.
Target utamanya adalah kelompok usia muda yang memiliki intensitas tinggi dalam penggunaan internet.
Oleh sebab itu, upaya melindungi anak dari radikalisme tidak lagi bisa dipahami sekadar sebagai urusan keamanan negara.
Persoalan ini telah menjadi bagian integral dari pendidikan karakter, perlindungan hak anak, ketahanan keluarga, hingga kesehatan mental.
Kesadaran inilah yang mulai dibangun oleh Pemerintah Kota Surabaya melalui sinergi bersama Densus 88 Antiteror Polri.
Penghargaan dari Kapolri yang diterima Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi belum lama ini bukan sekadar apresiasi formal, melainkan pengakuan terhadap upaya pencegahan yang menempatkan masyarakat, sekolah, serta keluarga sebagai pertahanan utama dalam menghadapi penyebaran paham ekstrem.
Melawan radikalisme pada anak sejatinya tidak cukup dengan pendekatan hukum.
Penindakan bagi pelaku penyebar paham ekstrem memang perlu dilakukan, tetapi akar masalahnya berada jauh sebelum proses hukum itu dimulai.
Anak yang merasa kurang mendapat perhatian keluarga, merasa kesepian, mengalami perundungan, atau kehilangan ruang untuk berdialog lebih rentan mencari pengakuan di dunia maya.
Di sinilah kelompok radikal sering kali menawarkan narasi sederhana, memberikan rasa memiliki, serta membangun identitas baru yang lambat laun menjauhkan anak dari nilai-nilai kebangsaan.
Maka dari itu, tindakan pencegahan harus dimulai dari dalam rumah.
Orang tua tidak cukup hanya dengan membatasi durasi penggunaan gawai.
Yang lebih esensial adalah membangun komunikasi hangat melalui percakapan sehari-hari.
Anak yang terbiasa berdiskusi bersama keluarga akan lebih terbuka dalam menyampaikan rasa penasaran, kegelisahan, atau informasi yang mereka dapatkan dari internet.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu fokus Pemkot Surabaya melalui surat edaran mengenai pendampingan penggunaan gawai, penguatan komunikasi antara orang tua dan anak, serta edukasi tentang pentingnya deep talk di lingkungan keluarga.
Langkah ini membuktikan bahwa literasi digital bukan hanya soal kemampuan mengoperasikan teknologi, melainkan juga kemampuan dalam menyaring, memahami, serta mengkritisi informasi.
Peran sekolah juga tidak kalah krusial.
Guru kini menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibandingkan sepuluh tahun lalu.
Mereka tidak lagi hanya mengajar mata pelajaran, namun berperan sebagai pendamping dalam menumbuhkan empati, kemampuan berpikir kritis, serta karakter siswa.
Pemkot Surabaya bersama Densus 88 juga memperkuat edukasi bagi para guru agar mampu mendeteksi perubahan perilaku peserta didik yang berpotensi terpapar ideologi ekstrem.
Langkah ini penting karena perubahan sikap biasanya tampak lebih awal sebelum pernyataan radikal muncul.
Penguatan Organisasi Pelajar Surabaya, Forum Anak Surabaya, Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS), hingga Kampung Pancasila menunjukkan bahwa pencegahan radikalisme dilakukan dengan membangun lingkungan sosial yang sehat.
Anak tidak hanya diberitahu hal yang salah, tetapi juga diajak secara aktif membangun ruang toleransi, kepedulian terhadap sesama, serta dialog.
Pendekatan ini perlu diwujudkan lewat penguatan literasi media, pendidikan berpikir kritis, serta penanaman nilai-nilai kebangsaan sejak dini.
Upaya tersebut tidak cukup hanya mengandalkan pengawasan, tetapi juga membangun kemampuan anak dalam memilah informasi, menerima perbedaan, serta menolak ajakan yang mengarah pada intoleransi maupun paham kekerasan.
Indonesia memiliki modal sosial yang kuat.
Nilai Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, budaya gotong royong, serta keberagaman suku dan agama merupakan benteng alami yang selama ini menjaga persatuan.
Tantangannya adalah memastikan nilai-nilai tersebut tetap hidup dalam keseharian anak, bukan sekadar dihafal dalam buku teks sekolah.
Indonesia sedang melangkah menuju Indonesia Emas 2045.
Bonus demografi diproyeksikan menjadi peluang besar apabila generasi mudanya tumbuh produktif, cerdas, sehat, serta memiliki karakter kebangsaan yang tangguh.
Sebaliknya, jika generasi muda justru terpapar radikalisme, intoleransi, dan kekerasan ideologis, bonus demografi tersebut dapat berubah menjadi tantangan sosial yang berat.
Oleh karena itu, investasi terbesar bangsa sebenarnya bukan hanya membangun pelabuhan, jalan, atau kawasan industri, melainkan juga membangun manusia.
Kolaborasi lintas sektor seperti yang dilakukan di Surabaya menunjukkan arah yang harus terus diperkuat.
Aparat keamanan, pemerintah daerah, keluarga, sekolah, komunitas pemuda, organisasi masyarakat, hingga perusahaan teknologi harus berada dalam ekosistem perlindungan anak yang selaras.
Di sisi lain, platform digital memiliki tanggung jawab yang besar.
Algoritma yang dapat merekomendasikan berbagai konten semestinya mampu lebih efektif dalam menekan penyebaran propaganda ekstrem dan materi yang mengandung kekerasan.
Hal ini membutuhkan kerja sama antara penyedia layanan digital, pemerintah, serta masyarakat sipil guna menjadikan ruang digital sebagai tempat yang lebih aman bagi anak.
Pendidikan literasi digital pun harus berkembang, dari sekadar mengajarkan cara menggunakan internet menjadi pendidikan tentang etika digital, kemampuan memverifikasi informasi, mengenali propaganda, memahami perbedaan, serta cara damai menyelesaikan konflik.
Keterampilan tersebut akan menjadi modal penting bagi generasi muda dalam menghadapi arus informasi global yang deras.
Di saat yang sama, masyarakat perlu menghilangkan stigma terhadap pendekatan pencegahan ini.
Melindungi anak dari radikalisme tidak berarti menumbuhkan sikap curiga terhadap lingkungan sekitar.
Sebaliknya, yang dibangun adalah budaya saling mengingatkan, saling peduli, dan membuka ruang dialog sebelum bibit intoleransi tumbuh menjadi tindakan yang membahayakan.
Anak-anak tidak dilahirkan dengan membawa kebencian.
Mereka belajar dari apa yang mereka dengar, lihat, dan rasakan dari lingkungan sekitar setiap harinya.
Karena itu, tugas utama orang dewasa bukan hanya sekadar mengawasi akses digital mereka, tetapi juga menjadi teladan yang mengajarkan semangat hidup bersama, kasih sayang, serta penghormatan terhadap perbedaan.
Di tengah derasnya arus informasi digital, benteng terkuat tetaplah keluarga yang penuh kehangatan, sekolah yang membimbing, masyarakat yang inklusif, serta negara yang hadir melalui kebijakan pro-perlindungan anak.
Dari sanalah harapan Indonesia Emas 2045 dapat terwujud, tidak hanya melalui generasi yang cerdas, namun juga generasi yang toleran, berkarakter, serta mampu menjaga persatuan dalam keberagaman.