Nilai Tukar Rupiah

Update Nilai Tukar Rupiah vs Dolar AS Selasa 24 Februari 2026, Ini Perkiraan Pergerakannya

Update Nilai Tukar Rupiah vs Dolar AS Selasa 24 Februari 2026, Ini Perkiraan Pergerakannya
Update Nilai Tukar Rupiah vs Dolar AS Selasa 24 Februari 2026, Ini Perkiraan Pergerakannya

JAKARTA - Pasar keuangan domestik kembali menyoroti pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa, 24 Februari 2026. 

Setelah mencatat penguatan signifikan pada sesi sebelumnya, rupiah kini menghadapi fase penyesuaian di tengah minimnya rilis data ekonomi baru serta meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap sentimen global dan domestik. Dinamika ini membuat pergerakan rupiah diperkirakan cenderung fluktuatif sepanjang hari.

Mengacu pada data Bloomberg, rupiah pada penutupan perdagangan sebelumnya menguat sebesar 86 basis poin atau 0,51% ke level Rp16.802 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada saat yang sama, indeks dolar AS justru mengalami pelemahan 0,34% dan berada di posisi 97,46. Kondisi tersebut mencerminkan tekanan yang cukup besar terhadap mata uang Negeri Paman Sam, sekaligus memberi ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah, untuk menguat.

Namun demikian, penguatan rupiah yang terjadi dinilai cukup agresif sehingga membuka potensi terjadinya aksi ambil untung atau profit taking pada perdagangan hari ini.

Penguatan Rupiah Ditopang Pelemahan Dolar AS

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa penguatan rupiah tidak lepas dari pelemahan tajam dolar AS. Tekanan terhadap dolar muncul setelah rilis data pertumbuhan ekonomi AS yang berada jauh di bawah ekspektasi pasar. Selain itu, keputusan Mahkamah Agung AS yang menganulir tarif Presiden Donald Trump turut menambah sentimen negatif terhadap dolar.

Menurut Lukman, kombinasi sentimen tersebut menciptakan ruang penguatan yang cukup besar bagi rupiah pada perdagangan sebelumnya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa lonjakan tersebut berpotensi diikuti oleh koreksi jangka pendek.

“Rupiah pada Selasa [24/2/2026] diperkirakan bergerak pada rentang Rp16.750 - Rp16.900 per dolar AS,” katanya.

Dengan kata lain, meskipun rupiah masih berpeluang bertahan di zona penguatan, ruang pergerakannya diperkirakan akan lebih terbatas dibandingkan hari sebelumnya.

Minim Data Ekonomi, Pasar Kembali Cermati Sentimen Lama

Absennya rilis data ekonomi penting baik dari dalam negeri maupun global membuat pelaku pasar cenderung kembali mencermati sentimen-sentimen sebelumnya. Dalam kondisi seperti ini, fokus investor akan lebih tertuju pada isu struktural dan kebijakan yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia.

Beberapa sentimen domestik yang menjadi perhatian antara lain kondisi defisit anggaran, prospek pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI), serta sentimen di pasar ekuitas terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pergerakan indeks MSCI dinilai penting karena dapat memengaruhi aliran dana asing ke pasar keuangan Indonesia.

Selain itu, pasar juga menantikan arah kebijakan moneter BI ke depan. Pergerakan nilai tukar rupiah akan menjadi salah satu indikator utama dalam menentukan ruang pelonggaran suku bunga lanjutan.

Tekanan Eksternal Masih Membayangi Rupiah

Dari sisi eksternal, investor juga masih mencermati perkembangan kebijakan tarif Presiden Donald Trump serta dinamika geopolitik di Timur Tengah. Kedua faktor ini berpotensi memicu volatilitas pasar global dan memengaruhi sentimen risiko investor terhadap aset-aset negara berkembang.

Tim analis BMI, unit dari Fitch Solutions, menyampaikan bahwa kekhawatiran investor terhadap kebijakan pemerintah akan terus berkontribusi pada tekanan terhadap rupiah. Risiko tersebut terutama berkaitan dengan kondisi defisit fiskal dan isu independensi bank sentral.

Selain itu, tekanan terhadap rupiah juga diperkuat oleh peringatan dari MSCI mengenai potensi penurunan peringkat Indonesia, serta keputusan Moody’s yang menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif.

“Oleh karena itu, risiko kebijakan pemerintah domestik menghadirkan ancaman terbesar bagi mata uang dengan membuat investor merasa tidak nyaman,” papar BMI dalam risetnya.

Risiko Depresiasi dan Implikasi bagi Kebijakan BI

BMI juga menilai bahwa pertumbuhan ekspor yang lebih lemah, ditambah dengan sentimen penghindaran risiko global, berpotensi memberikan tekanan depresiasi lanjutan terhadap rupiah. Faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa laju pelonggaran kebijakan moneter pada 2026 kemungkinan akan berlangsung lebih bertahap.

Pergerakan nilai tukar diperkirakan akan menjadi penentu utama bagi kecepatan dan besaran penyesuaian BI Rate ke depan. Jika tekanan terhadap rupiah semakin meningkat, ruang pelonggaran suku bunga akan semakin terbatas.

“Meningkatnya risiko defisit fiskal, dan kemungkinan ketegangan perdagangan yang kembali muncul yang semakin melemahkan ekspor dapat mengakibatkan mata uang melemah di bawah Rp17.500 per dolar AS. Hal itu memaksa BI untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama,” tulis BMI.

Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa ini diperkirakan akan berlangsung hati-hati, dengan pelaku pasar cenderung menunggu kepastian arah kebijakan dan perkembangan sentimen global sebelum mengambil posisi yang lebih agresif.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index