JAKARTA - Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Komersialisasi dan Transportasi Minyak dan Gas Bumi Satya Hangga Yudha Widya Putra memberikan dorongan terhadap pemanfaatan gas alam cair (LNG) ritel sebagai bahan bakar alternatif bagi warga masyarakat.
Berdasarkan pemaparan Hangga dalam rilis keterangannya di Jakarta, Selasa, optimalisasi LNG saat ini menjadi pilihan transisi yang sangat potensial guna menggeser penggunaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar serta Pertalite di sektor transportasi maupun logistik.
"Saat ini, Indonesia mengalami surplus produksi gas sebesar 2.500 MMCSFD," ujarnya saat kunjungannya ke anak usaha PT Solusi Prakarsa Metana (SPM), Elenji di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Hangga mengimbuhkan bahwa pasokan komoditas LNG Indonesia untuk masa depan diproyeksikan bakal kian melimpah seiring masuknya Blok Andaman ke Arun, agenda pengembangan Bontang lewat Geng North, Blok Geliga dan Gula, FLNG Genting, sampai megaproyek INPEX Masela.
Kendati demikian, ia melanjutkan, RI sampai sekarang masih dibayangi oleh catatan defisit besar di sektor LPG akibat volume produksi domestik baru sanggup menyuplai 20 persen dari total kebutuhan pasar.
Direktur SPM Saxa Wiza Reyhan memberikan paparan bahwa Indonesia didokumentasikan sebagai salah satu produsen LNG terbesar dengan volume produksi menyentuh angka 28,8 juta ton per tahun serta total kapasitas nasional berukuran sebesar 35,9 MTPA, sementara pada momen yang sama, masyarakat menyerap LPG impor sebanyak 6,91 juta metrik ton.
Menurut pandangannya, rasio angka konversi LNG jika disandingkan dengan LPG impor berada pada perbandingan satu banding tujuh, yang mengartikan bahwa optimalisasi potensi LNG domestik secara mandiri bakal memberikan napas panjang bagi ketahanan energi nasional.
Dalam proses implementasi di lapangan, Elenji memperkenalkan sebuah inovasi terobosan LNG retail non-pipeline dengan memanfaatkan tabung vessel gas liquid (VGL) yang berkapasitas daya tampung 175 liter sebagai formula substitusi LPG nonsubsidi pada sektor komersial serta industri.
Bersandarkan pada hasil riset, satu buah unit tabung VGL memiliki nilai kesetaraan dengan dua tabung LPG ukuran berat 50 kilogram dengan mengantongi empat keunggulan pokok, yakni keperluan area ruang penyimpanan yang jauh lebih mini di kawasan komersial, tingkat stabilitas energi yang tinggi, sangat ideal untuk operasional bisnis yang berjalan intensif, berbasis gas domestik murni yang menekan frekuensi pengisian ulang, serta mengantongi tingkat tekanan yang tergolong rendah.
Komisaris Utama SPM Marcus Daniel Lelerury memberikan pernyataan bahwa inovasi baru ini disokong oleh jalannya proyek pembangunan infrastruktur LNG filling station (LFS) perdana di Indonesia untuk wilayah Jabodetabek.
"Keunggulan utama sistem LNG berbasis VGL ini adalah sifatnya yang portabel, modular, scalable, serta tidak bergantung pada jaringan pipa, sehingga sangat ideal untuk didistribusikan antarpulau menggunakan kapal maupun truk tangki di negara kepulauan seperti Indonesia," sebutnya.
Menurut penjelasannya, melalui studi kasus yang diambil pada fasilitas SPBG Gandul, Cinere, Depok, Jawa Barat, langkah konversi operasional dari penggunaan LPG ke LNG terbukti sanggup menelurkan penghematan pengeluaran biaya energi mencapai kisaran 26 persen bagi para konsumen industri.