Profil Dadan Hindayana: Lulusan Terbaik IPB yang Jadi Tersangka

Profil Dadan Hindayana: Lulusan Terbaik IPB yang Jadi Tersangka
Dadan Hindayana Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).(Sumber:NET)

JAKARTA - Perjalanan karier beserta status Dadan Hindayana sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang memegang kendali atas program Makan Bergizi Gratis (MBG) berbalik drastis hanya dalam semalam.

Dirinya resmi diberhentikan dari posisi tersebut oleh Presiden Prabowo Subianto pada Selasa (2/6/2026). 

Memasuki Rabu petang, Kejaksaan Agung RI menetapkan Dadan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi dana MBG.

Mengenakan rompi tahanan berwarna merah muda, Dadan langsung digelandang ke Rutan Salemba, Jakarta Pusat. Tidak sendirian, dua mantan pejabat teras BGN lainnya ikut terseret menjadi tersangka, yaitu eks Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung.

Jauh sebelum masuk ke dalam program bentukan Prabowo tersebut, Dadan dikenal luas sebagai seorang akademisi. 

Berdasarkan data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) tertanggal 14 Maret 2025, Dadan tercatat mempunyai total harta kekayaan mencapai Rp 9.022.400.000 atau berkisar Rp 9 miliar tanpa kepemilikan utang.

Riwayat Pendidikan Dadan Hindayana

Dadan Hindayana dilahirkan pada 10 Juli 1967 di Garut, Jawa Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan jenjang SMA di kawasan Cimahi, Dadan melanjutkan studi S1 di IPB (Institut Pertanian Bogor) dengan mengambil Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan (HPT), Fakultas Pertanian IPB. 

Saat meraih gelar insinyur (Ir.) pada tahun 1990, Dadan berhasil menyandang predikat sebagai lulusan terbaik.

Dirinya kemudian meneruskan jenjang pendidikan ke Jerman lewat program penyetaraan di Universitas Rheinischen Friedrich-Wilhelms Bonn (1995-1997). 

Pada tahun 2000, ia sukses meraih gelar Doktor Entomologi Terapan dari Universitas Gottfried Wilhelm Leibniz Hannover. 

Berdasarkan KBBI, entomologi diartikan sebagai bidang ilmu yang mempelajari perihal jenis sekaligus kehidupan serangga.

Melansir dari laman Alumni IPB, Kamis (4/6/2026), disertasi milik Dadan mengulas tentang interaksi predator serangga. 

Karya ilmiah ini berhasil menembus publikasi internasional yang diakui secara global dan telah mendapatkan ratusan sitasi sampai sekarang.

Riwayat Karier Dadan Hindayana

Sejak tahun 1992, Dadan mengawali perjalanannya sebagai pengajar di Departemen Proteksi Tanaman IPB. 

Beberapa mata kuliah yang diampunya meliputi ekologi serangga serta pengendalian hama terpadu. 

Hingga saat ini, Dadan tercatat sudah menelurkan lebih dari 20 publikasi ilmiah.

Salah satu artikel ilmiahnya yang terbit di jurnal Ecology (1996) sukses dijadikan landasan utama dalam penyusunan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) yang diimplementasikan di bermacam-macam negara kawasan Asia hingga Afrika.

Selama berkiprah di IPB, Dadan juga mengambil peran dalam pembenahan institusi. Saat mengemban tugas sebagai Direktur Pengembangan Institusi dan Usaha Penunjang IPB (2003–2008), Dadan mengawasi sejumlah proyek krusial, di antaranya perizinan operasional Botani Square, pembangunan IPB Agrimart, hingga penataan area luar kampus Dramaga.

Ia kemudian sempat dipercaya untuk menakhodai Sekolah Tinggi Pertanian Kelautan (STPK) Banau Halmahera Barat (2014–2022). 

Di samping itu, Dadan juga pernah bertindak selaku konsultan bagi Kementerian Pertanian serta Kementerian Pertahanan, dengan andil mulai dari manajemen rumput lapangan di Gelora Bung Karno hingga menjabat penengah dalam resolusi konflik agraria di Pulau Taliabu.

Dadan Hindayana secara resmi dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada 19 Agustus 2024 oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

Penghargaan yang Pernah Diraih Dadan Hindayana

Dadan sempat memperoleh apresiasi internasional dari PBB lewat Food and Agriculture Organization (1992) serta penghargaan domestik dari Bappenas (1994) berkat jasanya di bidang pengendalian hama. 

Dirinya juga telah mengantongi tiga tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya dari Presiden RI atas masa pengabdian X, XX, dan XXX tahun yang masing-masing diterima pada 2007, 2019, serta 2023.

Lebih dari itu, ia sempat dianugerahi dua tanda kehormatan sekaligus oleh Presiden Prabowo Subianto dalam tenggat waktu yang berdekatan.

Pertama, pada 25 Agustus 2025, ia menerima Bintang Mahaputra Utama karena dinilai menorehkan jasa yang luar biasa pada sektor kesehatan dan gizi masyarakat lewat perumusan kebijakan strategis di BGN, pembenahan program kesehatan ibu dan anak, serta kampanye diversifikasi pangan.

Selanjutnya pada 13 Februari 2026, ia kembali diberikan penghargaan tanda kehormatan Bintang Jasa Utama karena dinilai sukses mengawal sekaligus melakukan akselerasi pada program prioritas nasional, terutama MBG.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index