BGN Ganti Pimpinan: Dari Pakar Serangga ke Sarjana Biologi

BGN Ganti Pimpinan: Dari Pakar Serangga ke Sarjana Biologi
Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang.(Sumber:NET)

JAKARTA - Posisi kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) kini resmi berganti. Institusi yang sebelumnya dinakhodai oleh Dadan Hindayana yang berlatar pakar serangga, sekarang dipimpin oleh Nanik S Deyang yang memiliki latar belakang Sarjana Biologi.

Sebelum mengemban tugas sebagai Kepala BGN, Dadan lebih dikenal di ranah akademis selaku seorang ahli serangga. Ia merupakan lulusan terbaik pada program studi Hama dan Penyakit Tanaman.

Dadan meraih gelar doktornya di Universitas Gottfried Wilhelm Leibniz Hannover, Jerman, lewat predikat Dr. rer. Hort, yakni sebuah gelar akademis jenjang doktoral untuk rumpun tumbuhan dan tanaman.

Saat ini, susunan pimpinan BGN mengalami perombakan. Presiden RI Prabowo Subianto mengubah komposisi pada posisi Kepala BGN beserta dua Wakil Kepala BGN yang sebelumnya dijabat oleh Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung.

Sarjana Biologi

Demi menggantikan posisi yang ditinggalkan Dadan, Presiden memercayakan jabatan tersebut kepada Nanik S Deyang, yang pada periode sebelumnya menjalankan tugas sebagai Wakil Kepala BGN.

Dalam sesi konferensi pers perdananya setelah dikukuhkan sebagai Kepala BGN, Nanik memberikan klarifikasi jika latar belakang pendidikannya merupakan Sarjana Biologi, bukannya Kehutanan.

"Saya Nanik S. Deyang, Sarjana Biologi ya, saya ulang bukan Sarjana Kehutanan, Sarjana Biologi," tutur Nanik di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).

Dalam mengelola lembaga tersebut, Nanik bakal dibantu oleh dua Wakil Kepala BGN yang baru, yakni Agustina Arumsari serta Mayjen TNI Trenggono.

Saat memperkenalkan rekannya, Nanik mengutarakan bahwa Agustina mempunyai rekam jejak sekitar 34 tahun dalam bidang pengawasan serta audit, bahkan pernah mengisi jabatan Wakil Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

"Tugas dari Pak Presiden, beliau akan mengawasi super ketat tata kelola dan keuangan negara yang di BGN," tegas dia.

Berikutnya, Nanik pun memperkenalkan Mayjen TNI Trenggono selaku Wakil Kepala BGN lainnya. Ia memastikan bahwa Trenggono saat ini sedang mengurus proses pengunduran dirinya dari status militer aktif.

"Sebelum ditanyakan soal TNI aktif, proses pengunduran diri beliau sudah berjalan dan saat ini masih dalam proses penyelesaian," kata Nanik.

Koreksi Kalau Salah

Nanik juga mengharapkan masyarakat bersedia memberikan koreksi bilamana dirinya melakukan kesalahan saat memimpin institusi yang mengawal program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut.

"Mohon doanya, mohon dukungannya, dan mohon dikoreksi kalau kami salah," kata Nanik dalam jumpa pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).

Dijelaskan oleh Nanik, BGN sangat membutuhkan masukan dari publik untuk menyukseskan pelaksanaan program Makan Gizi Gratis (MBG).

Pada kesempatan yang sama, ia berniat menggelar konferensi pers secara rutin seminggu sekali sepanjang masa baktinya sebagai bentuk transparansi kepada publik.

"Insyaallah kami bisa bertatap muka setiap minggu atau maksimal dua minggu sajalah, soalnya saya juga masih sidak ya," ucap Nanik.

Kejar Kualitas

Menanggapi adanya dugaan kasus korupsi dalam tata kelola program MBG yang sedang diproses Kejaksaan Agung, Nanik mengungkapkan sudah meminta persetujuan dari Prabowo supaya tidak sekadar mengejar aspek kuantitas program.

"Nah, jadi gini dampaknya ya, kemarin kami bertiga dipanggil Presiden dan kami sudah menyampaikan ke beliau, 'Tahun 2026 ini mohon Bapak kami tidak mengejar kuantitas, kami akan perbaiki kualitas'," ujar Nanik.

Nanik menegaskan bahwa di bawah manajemen barunya, BGN tidak hanya terfokus pada pemenuhan target 82 juta sasaran penerima MBG, tetapi juga memastikan unit dapur MBG menghasilkan makanan yang benar-benar padat gizi.

Strategi yang diterapkan, BGN bakal melakukan langkah refocusing supaya penyaluran MBG diarahkan ke sekolah-sekolah yang kondisinya dinilai amat membutuhkan.

"Misalnya nanti akan kami juga kalau ada sekolah-sekolah yang mahal gitu kan kami tanya apakah masih perlu MBG? Nah, ini yang kami alihkan ke 3T," ucap Nanik.

Lewat kebijakan refocusing ini, Nanik optimis jumlah penerima manfaat program justru berpotensi meningkat. Skema program MBG pun diyakini tetap berjalan optimal di tengah adanya kebijakan pengetatan anggaran.

"Kami concern hal pertama yang kami lakukan adalah untuk melakukan efisiensi anggaran, sehingga meskipun sekarang sudah dipotong Rp 2 (triliun), tinggal Rp 268 (triliun), kami berharap masih bisa menurunkan lagi, namun tidak mengurangi sasaran," ujar Nanik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index