Eropa Dikepung Gelombang Panas, Penjualan AC dan Kipas Melonjak

Eropa Dikepung Gelombang Panas, Penjualan AC dan Kipas Melonjak
Warga Antri Membeli kipas angin listrik saat gelombang panas di Paris.(FOTO:NET)

JAKARTA - Terjangan gelombang panas ekstrem di benua Eropa tidak hanya sukses memecahkan rekor suhu udara, melainkan ikut mengubah perilaku warga dalam menyikapi cuaca yang kian menyengat.

Permintaan terhadap beraneka macam alat pendingin, mulai dari penyejuk udara (AC), kipas angin, hingga metode pendinginan pasif, terpantau melonjak sangat tajam di beberapa negara.

Tingkat suhu di pelbagai wilayah Eropa dikabarkan telah menembus angka 40 derajat Celsius.

Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, sampai Inggris menjadi deretan negara yang menerima dampak paling parah.

Cuaca ekstrem ini tidak sekadar menghambat sektor transportasi dan menambah beban kerja rumah sakit, tetapi juga memicu lonjakan konsumsi listrik secara drastis.

Selama bertahun-tahun, mayoritas hunian di Eropa memang dirancang guna mengunci suhu hangat ketika musim dingin tiba, bukan untuk meredam panas yang ekstrem.

Oleh karena itu, saat gelombang panas melanda, banyak bangunan yang mengalami kesulitan dalam menjaga stabilitas suhu ruangan agar tetap nyaman.

Imbasnya, masyarakat mulai berbondong-bondong mencari beragam alternatif pendingin.

Angka penjualan AC portabel, kipas angin, tirai penangkal panas, hingga lapisan kaca jendela mengalami peningkatan yang pesat.

Di sejumlah kota besar, pihak pemerintah setempat bahkan berinisiatif membuka cooling centers atau posko ruang pendingin bagi penduduk yang rentan terhadap sengatan cuaca panas.

Lonjakan permintaan ini pada akhirnya ikut mendongkrak angka penjualan berbagai jenama barang elektronik.

Samsung Electronics mengabarkan bahwa penjualan produk AC mereka di pasar-pasar utama seperti Italia, Spanyol, dan Prancis sukses tumbuh hingga dua digit pada paruh pertama tahun ini.

Pihak perusahaan memprediksi tingkat permintaan tersebut bakal tetap tinggi mengingat gelombang panas diproyeksikan bertahan sampai puncak musim panas nanti.

LG Electronics pun membeberkan bahwa lini produksi unit AC di Korea Selatan telah dipacu beroperasi dengan kapasitas penuh sejak April demi memenuhi lonjakan permintaan, baik dari pasar domestik maupun mancanegara.

Sementara itu, produsen asal China, Midea, menyebutkan bahwa produk AC portabel komersial PortaSplit milik mereka laris manis hingga kehabisan stok di pelbagai jalur penjualan.

Bahkan di beberapa negara tertentu, harga jual untuk unit bekasnya sempat melompati harga produk baru akibat begitu tingginya permintaan dari konsumen.

Produsen asal Jepang, Mitsubishi Electric, ikut membukukan kenaikan performa penjualan AC, khususnya di wilayah Prancis, Spanyol, Inggris, dan Jerman.

Menurut pemaparan perusahaan tersebut, situasi cuaca ekstrem ini membuat masyarakat Eropa mulai menganggap mesin pendingin ruangan sebagai sebuah kebutuhan pokok, bukan lagi sekadar fasilitas pelengkap rumah semata.

Akan tetapi, masifnya penggunaan AC ini turut melahirkan sebuah tantangan baru bagi lingkungan.

Semakin banyak alat pendingin yang dinyalakan, maka akan semakin besar pula volume konsumsi daya listrik yang dihabiskan.

Di beberapa negara, lonjakan drastis dari penggunaan AC ini sudah mulai membebani jaringan listrik nasional mereka.

Persoalan lain juga ikut bermunculan dari sektor pasokan energi.

Suhu air sungai yang terpantau meningkat menyebabkan beberapa fasilitas pembangkit listrik terpaksa memangkas kapasitas produksi mereka lantaran kondisi air tidak lagi efektif untuk mendinginkan reaktor maupun mesin turbin.

Para pakar mengategorikan fenomena ini sebagai cooling paradox atau paradoks pendinginan.

Di satu sisi, perangkat AC menjadi instrumen teknologi yang sangat krusial demi melindungi keselamatan warga dari paparan suhu ekstrem.

Namun di sisi lain, pengaplikasian pendingin ruangan secara masif justru berpotensi mendongkrak konsumsi energi serta emisi karbon jika pasokan listriknya masih bergantung pada bahan bakar fosil.

Oleh sebab itu, banyak negara kini mulai menggalakkan pengembangan teknologi pendingin yang jauh lebih hemat energi.

Selain memproduksi AC berteknologi efisien, sejumlah alternatif lain seperti sistem ventilasi alami, pemasangan atap reflektif, peneduh eksterior bangunan, hingga penyediaan ruang terbuka hijau di perkotaan saat ini kian gencar diterapkan guna membantu menurunkan suhu tanpa perlu bergantung penuh pada daya listrik.

Fenomena gelombang panas yang kian sering melanda ini pada akhirnya ikut merombak cara pandang masyarakat Eropa terhadap eksistensi pendingin ruangan.

Bila sebelumnya perangkat AC dinilai bukan sebagai kebutuhan primer, kini alat tersebut mulai dipandang sebagai bagian dari instrumen strategi adaptasi dalam menghadapi perubahan iklim global.

Seorang warga London, Tom Lydon, mengaku akhirnya membeli AC portabel setelah suhu di apartemennya terus meningkat.

"Saya dulu mengira tidak akan pernah membutuhkan AC di Inggris. Sekarang, saya tidak bisa membayangkan melewati musim panas tanpa alat ini," ujarnya, dikutip CGTN.

Kendati demikian, para peneliti tetap memberikan peringatan bahwa mesin pendingin ruangan bukanlah satu-satunya jalan keluar tunggal.

Menurut pandangan mereka, integrasi antara teknologi pendingin hemat energi, rancangan arsitektur bangunan yang lebih adaptif terhadap cuaca panas, serta langkah nyata pengurangan emisi gas rumah kaca merupakan tahapan krusial agar peradaban masyarakat mampu bertahan menghadapi gelombang panas yang diproyeksikan bakal semakin sering terjadi akibat dampak perubahan iklim.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index