INA Tetap Pertahankan Saham BBRI dan BMRI meski Rugi Rp 18,46 T

 INA Tetap Pertahankan Saham BBRI dan BMRI meski Rugi Rp 18,46 T
Chief Financial Officer INA Eddy Porwanto.(FOTO:NET)

JAKARTA - Indonesia Investment Authority (INA) menegaskan komitmennya untuk tetap setia pada strategi investasi jangka panjang walaupun portofolio saham perbankannya tengah mencatatkan floating loss akibat gejolak pasar.

Pihak manajemen menggarisbawahi bahwa naik turunnya harga saham, termasuk pada kepemilikan di saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI), tidak mengikis kepercayaan INA pada fundamental investasi maupun arah strategi investasi lima tahun mendatang lewat program INA dua poin nol.

Chief Financial Officer INA Eddy Porwanto mengungkapkan, kepemilikan saham BBRI serta BMRI ialah bagian dari modal awal yang diperoleh INA sejak lembaga ini didirikan dan sampai saat ini tetap dipertahankan di dalam portofolio investasi.

"Kalau kami lihat sejarahnya, saham-saham itu merupakan bagian dari modal awal yang diberikan kepada INA. Sampai sekarang masih kami simpan dan kami pegang," ujar Eddy di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Menurut dirinya, volatilitas yang tengah melanda pasar modal saat ini ialah sebuah dinamika yang lumrah terjadi dan tidak menjadi alasan bagi INA untuk mengubah strategi investasinya.

"Memang saat ini pasar modal sedang mengalami volatilitas. Namun kalau melihat sejak aset tersebut diberikan kepada kami hingga saat ini, bahkan ke depan, kami percaya prospek return dari saham-saham tersebut masih sangat kuat. Posisi kami masih solid dan kami tetap akan mempertahankan kepemilikan itu sebagai investasi jangka panjang," katanya.

Eddy mengimbuhkan, INA tetap berkonsentrasi pada pembentukan nilai dalam jangka panjang ketimbang mendikte pergerakan harga saham dalam jangka pendek.

Sementara itu, Chief Executive Officer INA, Oki Ramadhana, mengutarakan bahwa lembaganya kini tengah menapak fase baru lewat strategi INA dua poin nol setelah merampungkan fase pembangunan fondasi organisasi pada lima tahun pertama.

Menurut Oki, fokus utama INA selama lima tahun ke depan ialah memperlebar investasi pada berbagai sektor prioritas yang sanggup mengakselerasi transformasi ekonomi nasional, termasuk advanced materials, manufaktur, infrastruktur, energi, serta ekonomi digital.

"Setelah melewati lima tahun pertama membangun fondasi, kami memasuki fase INA 2.0. Fokus kami adalah memperkuat investasi di sektor-sektor prioritas sekaligus memperluas investasi ke sektor advanced materials dan manufaktur yang mendukung industrialisasi Indonesia," ujarnya.

Bukan hanya memperluas sektor investasi, INA pun bakal menerapkan strategi Indonesia Nexus, yaitu menaruh investasi pada aneka dana global yang mempunyai relasi strategis dengan Indonesia.

Lewat metode tersebut, INA mengharapkan bisa menjaring lebih banyak investor internasional untuk menanamkan modal di sektor-sektor masa depan di Indonesia.

Oki menilai kehadiran INA pun menjadi salah satu sarana untuk mendongkrak kepercayaan investor asing di tengah bermacam tantangan investasi di Indonesia.

Menurut dirinya, INA memegang peran sebagai rekan investasi yang mampu menghubungkan investor global dengan proyek-proyek strategis nasional melalui tata kelola yang kokoh dan proses investasi yang transparan.

"Yang kami bangun bukan hanya investasi, tetapi juga kepercayaan. Dengan INA ikut berinvestasi, investor global memiliki keyakinan yang lebih besar untuk masuk ke Indonesia dan mendukung pembangunan ekonomi jangka panjang," kata Oki.

Merujuk pada laporan keuangan INA periode 2024–2025, sovereign wealth fund Indonesia tersebut mencatatkan kerugian yang belum direalisasikan (unrealized loss) senilai Rp 18,46 triliun yang bersumber dari merosotnya nilai investasi pada saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

Situasi ini membikin nilai investasi INA pada kedua emiten perbankan BUMN tersebut menyusut menjadi Rp 64,99 triliun hingga akhir tahun 2025, atau anjlok 15,2 persen bila disandingkan dengan posisi awal tahun 2024 yang mencapai Rp 76,64 triliun.

Tekanan terhadap kedua saham tersebut terpantau masih berlanjut di pasar modal.

Pada penutupan sesi perdagangan Rabu (1/7/2026), saham BMRI melemah sebesar 1,04 persen ke level Rp 3.810 per lembar saham.

Di sisi lain, saham BBRI mengalami koreksi yang lebih dalam, yakni sebesar 2,2 persen, sehingga bertengger di level Rp 2.670 per lembar saham pada penutupan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index