Menghidupkan Spirit Soekarno dalam Diri Presiden Prabowo Subianto

Menghidupkan Spirit Soekarno dalam Diri Presiden Prabowo Subianto
Presiden Prabowo Subianto. (FOTO:NET)

JAKARTA - Kisah masa belia Prabowo Subianto yang dituangkan dalam buku Petite Histoire (Sejarah Kecil) Indonesia oleh jurnalis kawakan Rosihan Anwar mengulas momen saat ia terlibat perkelahian dengan rekan asingnya di sekolah.

Kejadian ini dialami oleh ia ketika bertempat tinggal di luar negeri dalam masa pengasingan guna mendampingi ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo.

Pada masa itu, Sumitro populer sebagai rival politik Soekarno yang kerap berbeda pandangan secara tajam.

Melihat putranya pulang dengan kondisi acak-acakan pasca berkelahi, Pak Mitro selaku ayah langsung menginterogasi Prabowo mengenai latar belakang perkelahian tersebut.

Respons dari Prabowo remaja rupanya di luar perkiraan Sumitro lantaran ia menerangkan bahwa rekan asingnya tersebut telah menghina Soekarno yang notabene adalah kepala negaranya.

Setelah mendengar kesaksian sang anak, Sumitro sama sekali tidak memperlihatkan kemarahan ataupun menghukumnya.

Ia malah merasa kagum kepada putranya yang masih sangat belia namun telah mempunyai rasa nasionalisme tinggi terhadap tanah airnya, sebuah kualitas langka untuk anak seusianya.

Prabowo remaja malahan berbalik mengajukan pertanyaan kepada Sumitro yang menuntut jawaban seketika bahwa ketidaksepahaman politik antara ayahnya dan Soekarno tidak boleh menjadi alasan untuk berdiam diri ketika orang luar merendahkan Soekarno.

Momen masa lalu inilah yang diindikasikan menjadi tonggak awal hadirnya rasa kagum dan kecintaan mendalam dari Prabowo, yang sekarang diamanahkan rakyat sebagai Presiden ke-8 Indonesia, terhadap sang proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia tersebut.

Prabowo dipahami sebagai figur yang berkarakter tegas, terbuka, serta sangat lugas dalam mengekspresikan opini maupun perasaannya.

Dalam berbagai kesempatan, termasuk saat peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, dua bulan lalu, Prabowo menegaskan secara gamblang bahwa Bung Karno bukan merupakan aset milik dari satu golongan partai politik saja.

Pernyataan yang kerap diulang-ulang ini menyalurkan pesan politik yang kuat untuk siapa saja yang berniat mengklaim Soekarno secara sepihak, bahwa rasa cinta dan kagum kepada Soekarno tidak dapat ditakar dari silsilah keluarga atau kedekatan organisasi di masa lampau saja.

Langkah ini melainkan lebih kepada proses menginternalisasi pemikiran, konsep ideologi kerakyatan, serta semangat perjuangan Soekarno yang tetap relevan hingga kini.

Dalam alam pikir Prabowo, jika Soekarno dianalogikan sebagai nyala api, maka ia memosisikan diri sebagai bara yang bertugas mengawal agar api tersebut tidak padam.

Prabowo terlihat totalitas dalam merepresentasikan dirinya supaya tampak selaras dengan Soekarno.

Gaya vokalnya saat berpidato terdengar lantang, tegas, dan bergemuruh, sangat identik dengan Soekarno yang tersohor sebagai orator ulung sekaligus pemersatu massa.

Tidak ketinggalan ia juga mengadopsi gestur menunjuk ke atas serta ke depan, hingga mengetuk meja yang identik dengan cara Soekarno saat membakar semangat rakyat lewat pidatonya.

Ia pun memilih memakai baju safari yang identik dengan Soekarno, yaitu setelan safari dengan empat saku di bagian depan atas masukan dari penjahit kepercayaannya, Yasbun, sejak tahun 2004.

Demi memperkuat kemiripan tersebut, ia tidak canggung mengenakan peci hitam berbahan beludru dengan posisi agak miring ke kiri, meniru gaya khas Soekarno yang merepresentasikan keberpihakan pada rakyat kecil.

Hampir tidak ada tokoh lain yang menyamai totalitas Prabowo dalam mengadopsi gaya berbusana Soekarno.

Sosok Soekarno seakan hadir kembali lewat penampakan fisik dari Prabowo.

Saat berhasil memenangkan Pilpres satu putaran pada Februari 2024 dengan mengantongi 58,6 persen dari total suara sah nasional untuk menjadi Presiden RI ke-8, titik temu antara Prabowo dan Soekarno semakin benderang karena keduanya sama-sama menjabat sebagai presiden sekaligus panglima tertinggi militer.

Jabatan sebagai presiden ini menjadi peluang bagi Prabowo untuk mengimplementasikan gagasan-gagasan Soekarno ke dalam praktik politik dan kebijakan pemerintahan yang ia jalankan.

Momen ini sekaligus menjadi pembuktian paling sakral atas kekagumannya pada Soekarno, bukan sekadar meniru hal luar seperti cara berorasi dan berbusana, melainkan menyangkut cara pandang kepemimpinan dan seni mengelola kekuasaan negara.

Memang tidak ditampik jika sebagian kebijakannya saat ini masih kental dipengaruhi oleh pemikiran serta visi masa lalu ayahnya, Sumitro, seperti pembentukan Danantara dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Akan tetapi, jika publik memperhatikan dan mendengarkan dengan lebih cermat, napas pemikiran Soekarno sesungguhnya jauh lebih kuat memengaruhi isi kepala Prabowo.

Hal yang jarang disadari oleh publik adalah sebuah kenyataan bahwa Soekarno dan Prabowo sama-sama seorang poliglot yang fasih menguasai berbagai bahasa asing.

Soekarno tercatat menguasai bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Arab, Prancis, serta Jepang.

Sementara itu, Prabowo memiliki kecakapan dalam berbahasa Inggris, Prancis, Belanda, dan Jerman.

Keahlian dalam berbahasa asing yang dimiliki oleh kedua tokoh ini mempunyai kesamaan proses, yakni sama-sama ditempa sejak usia muda.

Penguasaan bahasa asing tersebut mempermudah keduanya untuk menyerap ilmu pengetahuan secara luas dari berbagai buku literatur barat yang pada zaman dulu dikategorikan sebagai barang langka.

Di kemudian hari, ketika keduanya mempunyai ketertarikan yang sama pada bidang politik internasional dan diplomasi, kecakapan bahasa asing ini yang menjadi fondasi utamanya.

Kemampuan berbahasa asing secara fasih yang ditunjang dengan pemahaman mendalam terhadap budaya luar negeri mengantarkan keduanya untuk terjun langsung menjadi motor penggerak diplomasi, hal yang memicu dominasi Prabowo saat ini dalam menjalankan diplomasi secara personal.

Langkah ini bahkan terkesan meminimalkan peran dari instansi diplomatik nasional lainnya.

Prabowo menaruh kekaguman yang besar pada konsep geopolitik milik Soekarno.

Di tengah kuatnya pengaruh teori geopolitik barat dari para pakar dunia—seperti Alfred Thayer Mahan dengan teori negara maritim, Rudolf Kjellen dengan konsep ruang hidup, hingga Halford Mackinder dengan teori jantung bumi.

Soekarno di zamannya sebagai pemimpin dari negara berkembang yang baru merdeka mampu tampil visioner melalui gagasan geopolitik yang digali langsung dari akar kebudayaan bangsa.

Konsep geopolitik Soekarno terwujud dalam wawasan nusantara yang tidak hanya bertumpu pada faktor geografis semata seperti wilayah darat atau laut, melainkan mengintegrasikan unsur ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan keamanan dengan kondisi geografi, demografi, dan kekayaan alam.

Wawasan nusantara ini memiliki kaitan erat dengan konsep ketahanan nasional, yakni kemampuan suatu bangsa untuk bertahan di tengah berbagai tantangan dan ancaman yang menghadang.

Soekarno mempraktikkan teori geopolitik ciptaannya secara brilian lewat pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955 serta pembentukan Gerakan Non-Blok pada 1961 untuk menghimpun negara-negara baru agar bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan negara maju.

Prestasi diplomasi di zaman Soekarno inilah yang berusaha dihidupkan kembali oleh Prabowo lewat kunjungan diplomasi ke berbagai negara, menjalin hubungan multilateral, serta berkomitmen tidak ikut terseret dalam persaingan kekuatan besar dunia seperti Amerika, Rusia, dan Tiongkok, mirip dengan strategi Soekarno dalam menyikapi era perang dingin.

Tanpa mengecilkan besarnya pengaruh Soekarno bagi Prabowo, hal menarik yang patut dicermati dari perjalanan politik kedua tokoh ini adalah keteguhan mereka untuk berjuang membangun negeri lewat jalur partai politik.

Soekarno merupakan tokoh pendiri Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1927, sedangkan Prabowo memilih berjuang di dunia politik dengan mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada tahun 2008.

Saat ini, situasi politik di tingkat nasional maupun internasional terus berkembang dinamis disertai berbagai macam tantangan baru.

Semangat Soekarno yang sangat kuat mewarnai arah politik Prabowo kini tengah menghadapi fase pengujian oleh waktu.

Besarnya pengaruh Amerika Serikat dalam peta politik dunia membuat Prabowo tampak mulai goyah dan condong berlawanan dengan prinsip anti-Barat ala Soekarno setelah memutuskan bergabung ke dalam Board of Peace (BoP).

Indonesia terancam kehilangan jati diri dalam aspek kebudayaan seperti yang tertuang dalam ajaran Trisakti Soekarno tatkala Prabowo berniat memasukkan bahasa asing seperti Prancis dan Portugis ke dalam mata pelajaran sekolah nasional.

Padahal, kenyataannya masih banyak warga di wilayah terdepan, terluar, dan terpencil yang bahkan belum mahir dalam menggunakan bahasa Indonesia.

Target untuk mewujudkan kemandirian ekonomi sesuai mandate Trisakti Soekarno juga masih harus dibuktikan oleh sejarah, apakah strategi ekspor komoditas utama lewat satu pintu benar-benar ditujukan demi kedaulatan negara atau malah menjadi celah korupsi baru bagi oknum di dalam negeri.

Napas pemikiran Soekarno diyakini akan terus mengiringi jalannya karier politik Prabowo ke depan.

Meskipun persaingan menuju Pilpres 2029 masih terhitung lama, namun dinamika politik elektoral di masa mendatang tampaknya akan tetap diwarnai oleh unsur-unsur Soekarno.

PDI-P yang menempatkan diri sebagai pewaris sah pemikiran Soekarno menjadi satu-satunya partai yang memilih berada di luar lingkaran pemerintahan pendukung Prabowo saat ini demi menjalankan fungsi penyeimbang atau penantang di masa depan.

Di sisi lain, terdapat figur Jokowi yang telah memulai pergerakan politik lebih awal bersama dengan PSI.

Jokowi, walaupun tidak terlalu sering menyamakan penampilan fisiknya dengan Soekarno, dinilai sebagai sosok penerus taktik serta pemikiran politik Soekarno yang sangat piawai.

Baik PDI-P, Jokowi, maupun Prabowo diprediksi akan terjebak dalam situasi saling berebut pengaruh Soekarno.

Apakah Prabowo yang saat ini memegang kendali kekuasaan mampu keluar sebagai pemenang dalam mengimplementasikan pemikiran Soekarno secara nyata? Waktu yang akan memberikan jawaban.

 

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index