JAKARTA - Menjelang perhelatan Piala Dunia 2026 di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat pada 11 Juni sampai 19 Juli mendatang, persiapan ajang ini justru diiringi beragam kontroversi.
Bukan sekadar antusiasme, berbagai isu mulai dari biaya tiket hingga hak siar kini menjadi bahan perbincangan serius di kalangan pecinta sepak bola.
Kritik pun bermunculan terhadap penyelenggaraan yang dianggap kian komersial serta kurang memperhatikan kenyamanan para suporter.
Selain itu, situasi politik global turut memberikan pengaruh pada dinamika menjelang turnamen sepak bola terbesar di dunia ini.
Melansir dari berbagai sumber, terdapat lima topik utama yang kini tengah menjadi sorotan tajam sebelum dimulainya Piala Dunia 2026:
1. Lonjakan Harga Tiket dan Fan Festival sebagai Solusi Tingginya harga tiket pertandingan menjadi salah satu poin yang paling banyak dikritik.
Penerapan sistem dynamic pricing serta pasar resale yang liar di Amerika Serikat bahkan disinyalir membuat harga tiket final menyentuh angka 2 juta dollar AS.
Situasi ini memicu protes dari penggemar, politisi, hingga pengamat, sehingga beberapa kota tuan rumah menyediakan alternatif berupa fan festival tanpa biaya.
Di kota-kota seperti Toronto, New York City, Atlanta, dan Vancouver, para penggemar dapat menikmati suasana pertandingan di area publik secara gratis.
Berdasarkan laporan CNN pada Senin (11/5/2026), minat terhadap festival ini sangat besar, terbukti dengan habisnya tiket gratis gelombang pertama di Toronto dalam waktu empat jam saja.
2. Ketegangan Geopolitik Antara Iran, AS, dan Israel Aspek politik luar negeri juga membayangi persiapan turnamen ini.
Konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran menimbulkan keraguan terkait faktor keamanan serta partisipasi timnas Iran.
Walaupun sempat ada kekhawatiran, Presiden FIFA Gianni Infantino memastikan tim nasional Iran akan tetap berlaga di Piala Dunia 2026.
Meski demikian, pihak pemerintah Iran tetap menuntut adanya jaminan serta kejelasan mengenai keamanan dan sikap dari negara-negara tuan rumah.
3. Debat Mengenai Komersialisasi Berlebihan FIFA juga mendapat kritik terkait dugaan praktik komersialisasi yang dianggap berlebihan.
Salah satu pemicunya adalah penjualan kaus edisi terbatas kota tuan rumah yang dibanderol sekitar 375 dollar AS per potong dengan jumlah yang sangat terbatas.
Mengutip Al Jazeera, banyak suporter menganggap langkah ini membuktikan bahwa pengalaman menonton kini lebih mementingkan aspek bisnis daripada aksesibilitas penonton.
Di jagat media sosial, para penggemar menyindir bahwa produk tersebut lebih mirip barang koleksi mewah ketimbang simbol perayaan olahraga.
4. Ketidakpastian Hak Siar di India dan China Persoalan hak siar di dua pasar besar dunia, India dan China, juga menjadi perhatian penting.
Hingga saat ini, belum tercapai kesepakatan resmi terkait penyiaran pertandingan di kedua negara tersebut, padahal China menyumbang durasi tontonan digital yang sangat besar pada edisi 2022.
Kondisi ini membuat jutaan penggemar terancam kesulitan mengakses siaran resmi turnamen.
FIFA menyatakan telah menjalin kemitraan penyiaran di lebih dari 175 wilayah, namun belum adanya kesepakatan di dua negara tersebut tetap memicu tanda tanya.
5. Inovasi Format: Tiga Upacara Pembukaan dan Hiburan Dunia Piala Dunia 2026 akan mencetak sejarah dengan mengadakan tiga upacara pembukaan secara terpisah di setiap negara tuan rumah.
Meksiko akan memulai turnamen dengan pertunjukan musik, diikuti oleh Amerika Serikat dan Kanada yang akan menghadirkan deretan bintang internasional.
Artis seperti Katy Perry, Alanis Morissette, Michael Bublé, hingga bintang K-pop Lisa dijadwalkan tampil, sementara Shakira dipastikan merilis lagu resmi meski tidak naik ke panggung pembukaan.
Mendekati satu bulan sebelum sepak mula, ajang ini tampaknya masih akan terus menuai perdebatan.
Meski menjanjikan skala terbesar dengan 48 peserta, isu harga tiket dan politik membuat euforia yang dirasakan belum sepenuhnya merata.