Kisah Decky Degei: Komandan Upacara Berkaki Satu di Papua Tengah

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:22:01 WIB
Siswa kelas X SMA Mepa Boarding School, Decky Degei. (Sumber: NET)

JAYAPURA - Nama Decky Degei, siswa SMA Mepa Boarding School, Nabire Barat, Papua Tengah, menjadi perbincangan di media sosial setelah aksinya menjadi komandan upacara pada Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei 2026, viral.

Meski hanya memiliki satu kaki, Decky tetap berdiri tegap memimpin upacara tanpa tongkat maupun alat bantu penyangga.

“Saya tidak takut, tapi saya justru senang. Biar saya ada keterbatasan tapi saya senang karena akan tampil di depan gubernur dan teman-teman. Keterbatasan ini tidak menghalangi saya untuk beraktivitas seperti teman-teman lainnya,” kata Decky kepada Kompas.com.

Selama kurang lebih 40 menit, siswa asal Kabupaten Paniai itu tetap berdiri lurus memimpin jalannya upacara di tengah terik matahari.

Bahkan saat peserta lain duduk mendengarkan amanat, Decky tetap mempertahankan sikap sempurna sebagai komandan upacara.

Decky mengaku persiapannya menjadi komandan upacara dilakukan dalam waktu singkat.

Ia baru ditunjuk pada 30 April 2026 dan langsung berlatih bersama temannya, Daniel Yeimo.

“Saya ditunjuk jadi komandan upacara itu hari Kamis 30 April, jadi Daniel Yeimo yang latih saya untuk pimpin upacara. Latihan juga kami hanya dua hari Kamis dengan Jumat karena besoknya sudah tampil,” ujarnya.

Meski baru pertama kali menjadi komandan upacara, Decky mengaku tidak gugup.

Ia justru merasa bangga karena dapat tampil di hadapan Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa dan peserta upacara lainnya.

Decky menuturkan dirinya lahir dalam kondisi normal di Kampung Ekauwiya, Distrik Topiyai, Kabupaten Paniai.

Namun saat berusia empat tahun, ia mengalami kecelakaan di Argapura yang membuat kaki kirinya harus diamputasi.

“Saya itu lahir normal sampai umur 4 tahun saya kecelakaan di Argapura, jadi setelah itu saya punya kaki harus diamputasi,” katanya.

Setelah kecelakaan itu, Decky kembali ke kampung halamannya di Paniai dan belajar berjalan serta menyesuaikan diri dengan kondisi fisiknya.

Meski begitu, ia tidak menyerah dan tetap bersekolah seperti anak-anak lainnya.

Setelah lulus SMP, Decky mendapat informasi tentang sekolah gratis di Nabire, yakni Mepa Boarding School.

“Setelah tamat SMP, mama kasih info kalau ada sekolah gratis di Nabire, jadi saya langsung kasih tau mama untuk datang ke Nabire. Saya datang dari Paniai ke Nabire dan daftar sendiri tidak ada yang temani,” jelasnya.

Decky kini menjadi bagian dari angkatan pertama di Mepa Boarding School bersama 95 siswa lainnya.

Di sekolah berasrama itu, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari olahraga hingga organisasi sekolah.

“Sekolah di sini harus bangun jam 04.00 WIT, tapi saya tetap ikut aturan. Saya juga bermain dan beraktivitas dengan teman-teman lainnya. Saya tidak ingin keterbatasan saya menjadi penghalang untuk melakukan aktivitas di sekolah,” tuturnya.

Decky memiliki cita-cita menjadi kepala dinas pendidikan dan membangun sekolah di pedalaman Paniai.

“Cita-cita saya ingin jadi kepala dinas pendidikan dan nanti kembali ke Paniai untuk bangun sekolah bagi anak-anak di pedalaman Paniai karena banyak anak putus sekolah karena terbatasnya sekolah,” ujarnya.

Ia juga ingin membangun sekolah berasrama agar anak-anak dari wilayah pedalaman dapat mengakses pendidikan tanpa harus meninggalkan kampung halaman.

Kepala Sekolah Mepa Boarding School Engelbertus Otu menyebut Decky sebagai siswa yang disiplin dan mudah beradaptasi.

“Decky ini selalu mau dengar dan belajar hal baru di sekolah. Dia juga tidak pernah menarik diri dari pergaulan dengan teman-teman di asrama,” kata Engelbertus.

Sementara itu, teman dekat Decky, Daniel Yeimo, mengatakan Decky selalu aktif mengikuti seluruh kegiatan sekolah.

“Decky juga selalu semangat dan ikut dalam semua aktivitas sekolah, mulai dari main voli, bola kaki, lari dan olahraga lainnya,” kata Daniel.

Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa mengatakan pemerintah berkomitmen memberikan akses pendidikan yang layak bagi seluruh anak di Papua Tengah.

“Decky adalah pemimpin upacara terbaik di Hardiknas 2026. Ini artinya pendidikan yang kami bangun sementara berjalan dalam jalur untuk menciptakan SDM handal di Papua Tengah,” ujar Meki.

Terkini