Pengembangan Potensi Logam Tanah Jarang Mamuju Masuk Tahap Serius

Rabu, 13 Mei 2026 | 14:19:44 WIB
Logam tanah (FOTO: NET)

MAMUJU - Pemerintah saat ini tengah melakukan pengembangan terhadap potensi rare earth element (REE) atau logam tanah jarang (LTJ) yang menjadi komoditas krusial dunia untuk kebutuhan industri pertahanan, perangkat elektronik, hingga komponen baterai kendaraan listrik.

Pemerintah juga sedang mempersiapkan rencana proyek hilirisasi logam tanah jarang yang berlokasi di Mamuju, Sulawesi Barat.

Rencana besar ini tengah dimatangkan lewat agenda rapat yang digelar di Kantor BP BUMN, Jakarta, pada Selasa (12/5/2026).

Pertemuan tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi di antaranya Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Agus Subiyanto, Kepala Badan Industri Mineral (BIM) Brian Yuliarto, CTO Danantara Sigit Puji Santosa, serta Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno.

Tri Winarno mengungkapkan bahwa inti dari pembahasan dalam rapat tersebut adalah mengenai teknis pengembangan logam tanah jarang di wilayah Mamuju.

Kendati demikian, pihak Dirjen Minerba belum memberikan penjelasan secara mendalam mengenai detail teknis pengembangan di wilayah tersebut.

"Pembahasan ini aja, apa, Mamuju. Ini lah pengembangan seperti apa untuk rare elemen kira-kira gitu. Ya saya kan diundang," ujar Tri saat ditemui usai rapat di BP BUMN, Jakarta.

Sebelumnya, Brian Yuliarto selaku Kepala BIM menyebutkan bahwa entitas BUMN baru di bawah Danantara, yakni Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), bakal mengeksekusi pilot project hilirisasi logam tanah jarang di Mamuju.

Brian menjelaskan bahwa proyek percontohan ini dijalankan beriringan dengan proses administrasi serta rekomendasi yang telah diajukan kepada Kementerian ESDM terkait penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP) untuk Perminas.

"Mungkin ini yang dalam waktu dekat akan segera kami lakukan yaitu pilot teknologi hilirisasi rare earth yang ada di Mamuju," ujarnya dalam RDP dengan Komisi XII DPR, Senin (9/2/2026).

Perminas direncanakan akan membangun dua fasilitas downstreaming sebagai proyek percontohan pengolahan logam tanah jarang yang menggunakan riset dari perguruan tinggi.

Fasilitas tersebut diharapkan mampu memproses pemisahan serta pemurnian logam tanah jarang, sehingga bahan baku mentah (ore) bisa dikonversi menjadi mixed rare earth atau elemen bernilai ekonomi tinggi.

Langkah mandiri ini diambil karena banyak negara pemilik teknologi serupa enggan melakukan kerja sama strategis dengan pihak luar.

"Kami coba teknologi-teknologi yang sudah dikembangkan di kampus untuk mengekstraksi atau merubah dari mineral ore yang mengandung logam tanah jarang menjadi mixed rare earth oxide," katanya.

Lebih lanjut, Perminas menyatakan terbuka untuk kolaborasi dengan pihak swasta maupun mitra lain demi memperkuat struktur industri hilirisasi di tanah air.

"Sehingga diharapkan kami bisa menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia juga menjadi pemain yang strategis untuk industri rare earth ini, mineral rare earth, yang diharapkan juga memberikan daya tarik bagi negara lain untuk berani juga masuk bersama-sama Indonesia mendirikan industri-industri downstreaming," ujarnya.

Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian ESDM, eksplorasi potensi logam tanah jarang memang difokuskan di Mamuju, Sulawesi Barat dan Parmonangan, Sumatera Utara.

Proses eksplorasi ini dikerjakan dalam dua tingkatan, mulai dari tahap awal seperti pemetaan dan pengeboran, hingga eksplorasi detail melalui uji ekstraksi serta karakterisasi.

Hasil dari pengeboran menunjukkan kadar total logam tanah jarang tertinggi berada di wilayah Mamuju dengan angka mencapai 4.571 ppm.

 

Halaman :

Terkini