Jejak Kelam Pangandaran 1934: Wabah Malaria Lumpuhkan Wisata

Senin, 18 Mei 2026 | 12:08:17 WIB
Ilustrasi Malaria. (Sumber: NET)

PANGANDARAN - Kawasan wisata Pangandaran sesungguhnya telah ramai didatangi oleh para pelancong semenjak zaman penjajahan Belanda.

Kendati demikian, pada tahun 1934 silam, wilayah pesisir pantai ini tercatat pernah dihantam oleh persebaran wabah nyamuk malaria.

Situasi tersebut tidak muncul secara mendadak, melainkan dipicu oleh melonjaknya angka kedatangan pelancong ke Pangandaran pada masa itu.

Catatan sejarah tersebut diabadikan dalam laporan surat kabar kolonial Belanda yang dipublikasikan pada 4 Desember 1934.

Koran Harian Hindia Belanda yang mengusung artikel berjudul "Peringatan: Malaria Pangandaran" itu menjadi sebuah kabar yang terbilang mencemaskan bagi masyarakat luas saat itu.

Berdasarkan rincian dalam berita tersebut, area Pangandaran dilaporkan masih terafiliasi ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Tasikmalaya.

Catatan itu diperoleh dari hasil goresan tangan seorang praktisi medis yang bertugas di Distrik Tasikmalaya.

Di bawah ini merupakan teks hasil alih bahasa yang dipublikasikan di dalam surat kabar Harian Hindia Belanda tersebut:

"Mengingat semakin meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke kota pesisir Pangandaran di Kabupaten Tasikmalaya, saya rasa perlu untuk memperingatkan, melalui surat kabar Anda, tentang malaria yang melanda di sana, yang setelah menunjukkan kecenderungan penurunan yang signifikan selama beberapa tahun, kini tiba-tiba kembali merebak setelah datangnya musim hujan. Bermalam di pasanggrahan saat ini berarti berisiko tertular penyakit."

"Penyebab ledakan ini harus dicari pada sejumlah reklamasi lahan secara diam-diam, atau lebih tepatnya penggundulan hutan, di sepanjang tepi dua sungai yang mengalir ke laut di Pangandaran. Sungai-sungai ini telah berada di bawah kendali Dinas Kesehatan Masyarakat untuk beberapa waktu dan dipatroli pada waktu-waktu tertentu, menyebabkan malaria secara bertahap menurun."

Aktivitas alih fungsi lahan yang dijabarkan di atas, yang berada di bantaran sungai yang rendah sekaligus digenangi air, berjalan di luar sepengetahuan lembaga kesehatan itu beserta Departemen Kehutanan.

Hal ini memicu terjadinya lonjakan populasi nyamuk Anopheles secara masif tanpa ada pencegahan, dengan dampak yang sangat fatal bagi kondisi kesehatan penduduk.

Melalui laporan itu, jajaran pemerintah daerah pada masa tersebut mengimbau bahwa salah satu pemicu merebaknya penyakit malaria ialah adanya aktivitas penebangan pohon secara ilegal di luar pengawasan Dinas Kehutanan setempat.

Di samping itu, pihak berwenang kala itu mengabarkan bahwa menginap di salah satu hotel Pangandaran yang pada masa sekarang beralih fungsi menjadi area pemindahan pedagang sama saja dengan mendekatkan diri pada ancaman malaria, disebabkan titik tersebut padat didatangi oleh turis asing.

Situasi dalam arsip pemberitaan kuno tersebut memperlihatkan bahwa area Pangandaran mempunyai catatan historis sebagai wilayah yang pernah diinvasi oleh wabah nyamuk malaria.

Maka tidak mengejutkan apabila pada masa sekarang di kawasan Pangandaran didirikan sebuah museum nyamuk sebagai simbol pengingat sekaligus laboratorium riset nyamuk di area selatan Jawa Barat.

Saat ini, lokasi tersebut malahan sudah berubah rupa menjadi sebuah objek wisata edukasi pilihan di Pangandaran.

Terkini