Imbas Sentimen Global, Rupiah Anjlok ke Posisi Rp17.630 per Dolar AS

Senin, 18 Mei 2026 | 13:46:07 WIB
Mata uang rupiah ke dolar AS di Money Changer Valuta Artha Mas, Jakarta.(Sumber:NET)

JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah memulai transaksi pertama di pekan ini dengan bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan acuan dari data Refinitiv, mata uang Garuda pada sesi perdagangan hari Senin (18/5/2026) dibuka pada teritori negatif.

Rupiah terpantau merosot tajam hingga menginjak angka 0,97 persen dan mengalami penyusutan nilai menuju level Rp17.630/US$.

Kondisi ini berbalik arah dari hasil transaksi penutupan di akhir pekan sebelumnya pada hari Rabu (13/5/2026) sebelum memasuki masa libur panjang.

Pada saat itu, nilai tukar rupiah sejatinya ditutup dengan performa menguat sebesar 0,17 persen menuju posisi Rp17.460/US$.

Di sisi lain, pergerakan indeks dolar AS atau DXY pada pukul 09.00 WIB kedapatan bergerak naik sebesar 0,09 persen ke posisi 99,370.

Fluktuasi nilai tukar rupiah pada aktivitas perdagangan hari ini diproyeksikan masih bakal disetir oleh sentimen dari luar negeri.

Satu di antara pemicu utamanya bersumber dari jalan buntu proses negosiasi antara pihak AS dan Iran demi mengakhiri perselisihan, yang memicu tingginya animo permintaan terhadap dolar AS di pasar internasional.

Beban berat ini tampak dari grafik pergerakan indeks dolar AS yang konsisten merangkak naik sejak pekan kemarin.

Mata uang dolar AS menguat sepanjang lima hari berturut-turut pada sesi perdagangan hari Jumat lalu serta berada pada rute peningkatan mingguan yang paling masif dalam kurun waktu dua bulan belakangan.

Lonjakan kinerja dolar AS ini terjadi berbarengan dengan bergesernya proyeksi pasar atas arah kebijakan moneter dari bank sentral AS, The Federal Reserve atau yang akrab disebut The Fed.

Kalangan pelaku pasar mulai mengendus adanya kans kenaikan tingkat suku bunga yang kembali terbuka, selepas beberapa rilis data ekonomi AS memperlihatkan beban harga yang masih terus merangkak naik.

Situasi tersebut pada gilirannya ikut mengatrol tingkat pengembalian modal atau yield US Treasury yang terus merangkak naik.

Tingkat yield bagi obligasi otoritas pemerintah AS dengan tenor waktu 10 tahun kedapatan sempat menyentuh angka 4,581 persen, yang merupakan rekor tertinggi dalam periode satu tahun, di tengah kecemasan inflasi imbas pecahnya perang Iran sekaligus terhambatnya operasional lalu lintas di wilayah Selat Hormuz.

Beberapa jajaran petinggi The Fed dalam bermacam kesempatan belakangan ini pun memberikan penegasan bahwa upaya meredam laju inflasi agar tetap terarah masih menempati skala prioritas paling utama.

Malahan, sebagian dari pejabat tersebut tidak menutup mata atas opsi kenaikan tingkat suku bunga yang bisa saja kembali diaplikasikan jika tekanan harga terus mengalami lonjakan.

Mengacu pada data CME FedWatch, para pelaku pasar saat ini memproeksikan peluang bagi The Fed untuk mengatrol tingkat suku bunga paling sedikit sebesar 25 basis poin pada agenda rapat bulan Desember mendatang menyentuh angka 48,4 persen.

Persentase ini melonjak sangat drastis jika dikomparasikan dengan data pekan sebelumnya yang sekadar bertengger di angka 14,3 persen.

Keperkasaan mata uang dolar AS di pasar internasional pada akhirnya dapat mempersempit celah penguatan bagi mata uang dari negara-negara lain, tidak terkecuali rupiah.

Keadaan ini memicu posisi rupiah tetap berada dalam kondisi rentan bergerak di bawah tekanan pada sesi pembukaan perdagangan awal pekan ini.

Terkini