JAKARTA - Pasar kendaraan new energy vehicle (NEV) di China mulai memasuki fase baru.
Setelah diramaikan perang harga, kini sejumlah produsen mulai menaikkan banderol akibat kenaikan biaya produksi.
Dikutip Carnewschina, dilaporkan lebih dari 15 pabrikan otomotif telah melakukan penyesuaian harga, baik untuk kendaraan maupun fitur tambahan.
Sejumlah nama besar seperti BYD, Xiaomi, hingga beberapa merek joint venture mulai merasakan tekanan dari naiknya biaya rantai pasok.
Salah satu pemicunya ialah lonjakan harga bahan baku baterai dan cip memori otomotif.
Kondisi tersebut membuat produsen semakin sulit mempertahankan strategi diskon agresif yang selama ini mendominasi pasar mobil listrik di China.
BYD misalnya, mengumumkan kenaikan harga paket ADAS 'God’s Eye B' berbasis LiDAR untuk lini Dynasty, Ocean, dan Fangchengbao mulai 1 Mei 2026.
Opsi tersebut naik dari 9.900 yuan atau sekitar Rp 22,5 juta menjadi 12.000 yuan, setara Rp 27,3 juta.
Langkah serupa dilakukan GAC Aion yang merevisi harga beberapa modelnya.
Aion Y Younger dan Aion S Plus kini dijual lebih mahal antara 3.000 yuan hingga 6.000 yuan, atau sekitar Rp 6,8 juta sampai Rp 13,6 juta.
Tekanan biaya tidak hanya dirasakan merek lokal.
Seri ID.
milik Volkswagen (VW) disebut mengalami penyesuaian hingga 7.000 yuan atau sekitar Rp 15,9 juta.
Sementara Toyota bZ4X naik sekitar 6.000 yuan atau setara Rp 13,6 juta.
Mobil listrik Xiaomi SU7 juga mengalami kenaikan harga.
Seluruh variannya, mulai Standard, Pro, hingga Max, terkoreksi sebesar 4.000 yuan atau sekitar Rp 9 juta.
Di sisi hulu, harga lithium carbonate untuk kebutuhan baterai meningkat drastis.
Jika pada Juli 2025 masih berada di level 75.000 yuan per ton atau sekitar Rp 170 juta, kini nilainya mendekati 200.000 yuan per ton, setara Rp 455 juta.
Lonjakan juga terjadi pada cip memori otomotif.
Permintaan industri AI generatif disebut menyerap kapasitas produksi semikonduktor, sehingga pasokan untuk sektor otomotif semakin terbatas.
Dalam tiga bulan terakhir, harga cip penyimpanan otomotif naik sekitar 180 persen, sedangkan memori DDR5 kelas atas melonjak lebih dari 300 persen.
Menurut estimasi UBS, kenaikan harga cip menambah biaya produksi kendaraan pintar sekitar 3.000 yuan hingga 7.000 yuan per unit, atau sekitar Rp 6,8 juta sampai Rp 15,9 juta.
Selain itu, harga aluminium dan tembaga juga terus meningkat.
Dampaknya, biaya bahan baku untuk sebuah mobil listrik ukuran menengah bertambah sekitar 1.800 yuan atau hampir Rp 4 juta.
Tekanan biaya tersebut mulai memukul profitabilitas industri otomotif China.
Data China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan margin laba industri otomotif domestik turun menjadi 3,2 persen pada kuartal pertama 2026.
Bahkan, pada Januari-Februari 2026 margin keuntungan sempat menyentuh 2,9 persen, level terendah dalam 10 tahun terakhir.
Sekretaris Jenderal CPCA Cui Dongshu mengatakan, produsen NEV premium masih memiliki ruang untuk menyerap kenaikan biaya.
Namun, merek di segmen menengah ke bawah mulai kesulitan menjaga profitabilitas.
Situasi ini membuat persaingan akan bergeser dari strategi diskon besar menuju penyesuaian harga akibat meningkatnya biaya produksi.