Harga Mobil Listrik China Naik Akibat Lonjakan Biaya Produksi

Senin, 18 Mei 2026 | 15:29:39 WIB
Mobil Listrik China.(Sumber:NET)

JAKARTA - Industri kendaraan new energy vehicle (NEV) di China kini tengah memasuki babak baru.

Setelah sempat diramaikan oleh fenomena perang harga, saat ini sejumlah produsen justru mulai mengerek harga jual akibat membengkaknya biaya produksi. 

Bersumber dari Carnewschina, dilaporkan ada lebih dari 15 agen pemegang merek otomotif yang telah melakukan penyesuaian harga, baik untuk unit kendaraan maupun opsi fitur tambahan.

Sejumlah raksasa otomotif seperti BYD, Xiaomi, hingga beberapa merek joint venture mulai tertekan oleh kenaikan biaya di sektor rantai pasok.

 Salah satu faktor utamanya adalah lonjakan harga bahan baku komponen baterai serta cip memori otomotif. 

Kondisi ini membuat para produsen kian sulit mempertahankan strategi diskon besar-besaran yang sebelumnya sangat mendominasi pasar mobil listrik di China.

BYD contohnya, telah mengumumkan kenaikan harga untuk paket ADAS 'God’s Eye B' berbasis LiDAR pada jajaran lini Dynasty, Ocean, dan Fangchengbao yang berlaku mulai 1 Mei 2026. Opsi teknologi tersebut naik dari yang awalnya 9.900 yuan atau berkisar Rp 22,5 juta menjadi 12.000 yuan, atau setara dengan Rp 27,3 juta.

Langkah serupa turut diambil oleh GAC Aion yang merevisi banderol beberapa modelnya. Varian Aion Y Younger dan Aion S Plus kini dipasarkan lebih mahal dengan kenaikan antara 3.000 yuan hingga 6.000 yuan, atau sekitar Rp 6,8 juta sampai Rp 13,6 juta.

Tekanan biaya produksi ini ternyata tidak hanya memukul merek-merek lokal. Seri ID. kepunyaan Volkswagen (VW) dikabarkan mengalami penyesuaian harga naik hingga 7.000 yuan atau sekitar Rp 15,9 juta.

 Sementara itu, Toyota bZ4X ikut naik sekitar 6.000 yuan atau setara dengan Rp 13,6 juta. Mobil listrik pintar Xiaomi SU7 pun tidak luput dari kenaikan harga. 

Seluruh varian yang tersedia, mulai dari Standard, Pro, hingga Max, harganya terkoreksi naik sebesar 4.000 yuan atau sekitar Rp 9 juta.

Melihat ke sisi hulu, harga komoditas lithium carbonate yang menjadi kebutuhan utama baterai memang meningkat sangat drastis. 

Jika pada Juli 2025 harganya masih berada di level 75.000 yuan per ton atau sekitar Rp 170 juta, saat ini nilainya sudah mendekati angka 200.000 yuan per ton, atau setara Rp 455 juta. Lonjakan yang signifikan juga melanda sektor cip memori otomotif. 

Tingginya permintaan dari industri AI generatif dilaporkan menyerap sebagian besar kapasitas produksi semikonduktor, sehingga alokasi pasokan untuk sektor otomotif menjadi semakin terbatas. 

Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, harga cip penyimpanan otomotif terkerek naik sekitar 180 persen, sedangkan untuk memori jenis DDR5 kelas atas melonjak hingga lebih dari 300 persen.

Berdasarkan hasil estimasi dari UBS, kenaikan harga cip ini menambah beban biaya produksi kendaraan pintar sekitar 3.000 yuan hingga 7.000 yuan per unit, atau berkisar Rp 6,8 juta sampai Rp 15,9 juta.

Bukan hanya itu, pergerakan harga aluminium dan tembaga juga terus merangkak naik. 

Dampaknya, ongkos komponen bahan baku untuk satu unit mobil listrik ukuran menengah bertambah sekitar 1.800 yuan atau mendekati Rp 4 juta.

Imbas tekanan biaya ini pun mulai menggerus profitabilitas industri otomotif di Negeri Tirai Bambu tersebut. 

Data dari China Passenger Car Association (CPCA) memperlihatkan bahwa margin laba industri otomotif domestik menyusut hingga menyentuh angka 3,2 persen pada kuartal pertama 2026. Bahkan, sepanjang periode Januari-Februari 2026 yang lalu, margin keuntungan sempat anjlok ke angka 2,9 persen, yang menjadi level terendah dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Sekretaris Jenderal CPCA Cui Dongshu mengatakan, produsen NEV premium masih memiliki ruang untuk menyerap kenaikan biaya. Namun, merek di segmen menengah ke bawah mulai kesulitan menjaga profitabilitas. Situasi ini membuat persaingan akan bergeser dari strategi diskon besar menuju penyesuaian harga akibat meningkatnya biaya produksi.

Terkini