JAKARTA - Tren wisata di Indonesia disebut bergeser ke kelompok kecil, yang disebut sebagai multi-generation trip atau liburan lintas generasi.
"Masyarakat sekarang lebih suka untuk bepergian dalam kelompok kecil, bukan lagi dalam jumlah besar seperti zaman dulu yang berbus-bus. Dan banyak sekali yang multi-generation traveler, jadi orangtua, kakek-nenek, anaknya, cucunya," kata Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo), Pauline Suharno, dilansir dari Antara, Selasa (19/5/2026).
Pola liburan zaman dulu yang menggunakan bus besar saat ini disebut sudah mulai ditinggalkan oleh kelompok keluarga.
Perjalanan dengan bus besar saat ini lebih banyak digunakan untuk kegiatan lain.
Contohnya adalah kegiatan study tour sekolah serta acara karyawan perusahaan.
Menurut Pauline, masyarakat saat ini jauh lebih menghargai waktu kebersamaan.
Kumpul bersama seluruh anggota keluarga menjadi momen yang sangat berharga bagi mereka.
Tren perjalanan bersama keluarga besar ini ternyata sudah terjadi semenjak masa pandemi COVID-19.
Ada hal menarik terkait pembiayaan untuk jenis liburan seperti ini.
Pauline mengungkapkan, perjalanan ini biasanya membutuhkan dukungan dana atau donatur, yang mana umumnya dilakukan oleh orangtua yang sudah mapan secara finansial.
Fenomena ini tidak hanya marak di Indonesia karena tren senada juga sedang terjadi di seluruh dunia saat ini.
Membawa banyak generasi dalam satu perjalanan tentu mengubah gaya liburan.
Pauline menjelaskan bahwa tren perjalanan sekarang cenderung menjadi lebih santai.
Agenda perjalanan harus bisa menyesuaikan dengan ritme fisik masing-masing generasi.
Setiap usia memiliki kapasitas energi dan kebiasaan yang berbeda-beda.
"Yang tua udah enggak bisa jalan sampai malam, anak-anak juga mungkin bangunnya agak siang santai. Karena buat mereka berlibur bukan lagi seperti dulu yang bangun jam 6, jam 7 makan pagi, jam 8 sudah keluar hotel, buru-buru balik hotel lagi setelah makan malam. Udah enggak seperti itu, tapi lebih ke experiencing (pengalaman) sendiri," jelas Pauline.
Dalam menentukan tujuan wisata, ada beberapa kriteria yang menjadi prioritas utama.
Wisatawan saat ini cenderung memilih destinasi dengan akses transportasi yang murah, serta harus nyaman untuk semua usia.
Selain itu, tempat wisata harus mudah dijangkau dengan menggunakan transportasi publik.
Perkembangan teknologi modern membawa dampak besar pada cara seseorang berlibur.
Kemudahan transportasi yang nyaman membuat segalanya menjadi lebih lancar dan tanpa hambatan atau seamless.
Faktor-faktor ini membuat para wisatawan semakin mandiri saat melakukan bepergian.
Akibatnya, penggunaan jasa agen perjalanan di sejumlah destinasi wisata disebut mulai berkurang.
Pauline lantas memberikan contoh saat wisatawan berlibur ke Singapura dan Malaysia.
Wisatawan nasional asal Indonesia sebagian besar sudah merasa sangat terbantu kedua negara tersebut.
Mereka memanfaatkan fasilitas transportasi publik yang terintegrasi dengan baik, menggunakan aplikasi transportasi online untuk berpindah tempat, serta menggunakan platform navigasi digital Google Maps guna memudahkan mobilitas.
Meski wisatawan semakin mandiri, bisnis agen perjalanan tidak sepenuhnya mati.
Pauline menilai agen perjalanan masih memiliki peluang besar dengan menjual paket wisata ke destinasi tertentu yang memiliki kendala khusus.
Kendala utama biasanya berupa kesulitan bahasa dan sistem pembayaran yang berbeda.
"Jadi kami menjual paket-paket wisata di mana mengalami kesulitan bahasa, masih dibutuhkan jasa travel agent untuk menjalankan suatu perjalanan paket wisata," ucap Pauline.
"Contoh ke China, problem (masalah) bahasa mau bayar enggak ngerti caranya. Nah, itu pasar besar buat travel agent Indonesia," tambah dia.