Tren Wisata Bergeser ke Liburan Lintas Generasi Bersama Keluarga

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:47:31 WIB
Ilustrasi liburan bersama keluarga. (Sumber:NET)

JAKARTA- Tren berwisata di tanah air dilaporkan mengalami pergeseran ke arah kelompok kecil, yang dikenal dengan istilah multi-generation trip atau perjalanan lintas generasi.

"Masyarakat sekarang lebih suka untuk bepergian dalam kelompok kecil, bukan lagi dalam jumlah besar seperti zaman dulu yang berbus-bus. Dan banyak sekali yang multi-generation traveler, jadi orangtua, kakek-nenek, anaknya, cucunya," ujar Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo), Pauline Suharno, dikutip dari Antara, Selasa (19/5/2026).

Kebiasaan berlibur di masa lampau yang mengandalkan bus berukuran besar kini mulai ditinggalkan oleh kelompok keluarga. Mobilitas menggunakan bus besar saat ini lebih sering dimanfaatkan untuk keperluan lain, seperti kegiatan study tour sekolah ataupun acara rekreasi karyawan perusahaan.

Mengapa tren wisata lintas generasi ini semakin diminati?

Orangtua jadi donatur

Menurut Pauline, masyarakat pada masa sekarang jauh lebih menghargai esensi dari waktu kebersamaan. Berpelesir dan berkumpul bersama seluruh anggota keluarga inti hingga besar menjadi sebuah momen yang amat bernilai bagi mereka.

Tren melakukan perjalanan bersama keluarga besar ini rupanya sudah mulai terbentuk sejak masa pandemi COVID-19. Terdapat hal memikat mengenai pola pembiayaan untuk kategori liburan semacam ini. Pauline membeberkan bahwa perjalanan ini umumnya memerlukan sokongan dana atau donatur, yang mana biasanya disediakan oleh orangtua yang telah mapan secara finansial.

Fenomena tersebut tidak cuma berkembang di Indonesia, lantaran tren serupa juga tengah melanda seluruh dunia saat ini.

Ritme perjalanan yang jauh lebih santai

Mengajak banyak generasi sekaligus dalam satu kali perjalanan pastinya mengubah pola liburan. Pauline menerangkan bahwa tren perjalanan saat ini memiliki kecenderungan menjadi lebih rileks. 

Garis besar rencana perjalanan wajib mampu menyesuaikan diri dengan kondisi fisik dari tiap-tiap generasi, sebab setiap rentang usia mempunyai kapasitas energi serta kebiasaan yang berlainan.

"Yang tua udah enggak bisa jalan sampai malam, anak-anak juga mungkin bangunnya agak siang santai. Karena buat mereka berlibur bukan lagi seperti dulu yang bangun jam 6, jam 7 makan pagi, jam 8 sudah keluar hotel, buru-buru balik hotel lagi setelah makan malam. Udah enggak seperti itu, tapi lebih ke experiencing (pengalaman) sendiri," urai Pauline.

Saat menetapkan destinasi tujuan wisata, terdapat sejumlah kriteria yang dijadikan sebagai prioritas utama. Para pelancong saat ini lebih condong memilih destinasi dengan akses transportasi yang ramah di kantong, serta wajib menyajikan kenyamanan bagi seluruh tingkatan usia. 

Di samping itu, lokasi wisata pun harus mudah diakses lewat moda transportasi publik.

Imbas perkembangan teknologi modern turut memberikan pengaruh masif terhadap cara seseorang menghabiskan waktu libur mereka. Ketersediaan transportasi yang nyaman menjadikan segala proses perjalanan berjalan lebih lancar dan tanpa hambatan (seamless).

Berbagai faktor ini memicu para pelancong menjadi kian mandiri ketika bepergian. Dampaknya, tingkat pemakaian jasa agen perjalanan di sejumlah titik destinasi wisata dilaporkan mulai menyusut.

Pauline kemudian mencontohkan situasi ketika wisatawan berwisata ke Singapura dan Malaysia. Sebagian besar wisatawan nasional asal Indonesia dirasa sudah sangat terbantu di kedua negara tetangga tersebut. 

Mereka dapat memaksimalkan fasilitas transportasi publik yang sudah terintegrasi dengan sangat baik, mengoperasikan aplikasi transportasi daring untuk berpindah lokasi, hingga memakai platform navigasi digital Google Maps demi mempermudah mobilitas.

Peluang untuk jasa agen perjalanan

Kendati para pelancong kini semakin mandiri, lini bisnis agen perjalanan tidak lantas sepenuhnya mati.

Pauline berpandangan bahwa agen perjalanan masih memiliki ceruk peluang yang besar dengan menawarkan paket wisata ke destinasi-destinasi tertentu yang mempunyai kendala khusus. Hambatan utama yang kerap ditemui biasanya berupa kendala bahasa serta sistem pembayaran yang berbeda.

"Jadi kami menjual paket-paket wisata di mana mengalami kesulitan bahas, masih dibutuhkan jasa travel agent untuk menjalankan suatu perjalanan paket wisata," sebut Pauline.

"Contoh ke China, problem (masalah) bahasa mau bayar enggak ngerti caranya. Nah, itu pasar besar buat travel agent Indonesia," pungkas dia.

Terkini