Harga Sapi Naik, Pedagang Kecil di Bandung Senang Perang Harga Reda

Rabu, 20 Mei 2026 | 13:55:02 WIB
Sapi yang disediakan BWD Farm di Jalan Bendul Merisi Selatan. (Sumber: NET)

BANDUNG - Fenomena lonjakan harga komoditas sapi hidup di wilayah Kota Bandung rupanya tidak sepenuhnya direspons negatif oleh kalangan pelaku usaha daging sapi.

Sektor pedagang berskala kecil justru memandang kenaikan harga tersebut membawa dampak positif karena membuat tensi persaingan harga di area pasar menjadi lebih kondusif.

Seorang pedagang daging sapi yang beroperasi di Pasar Andir, Dodi, memaparkan bahwa banderol harga sapi yang terlampau murah kerap memicu pedagang bermodal raksasa untuk mendongkrak kapasitas pemotongan sapi dalam jumlah yang masif.

"Mereka bisa memotong hingga enam sampai delapan ekor sapi per hari, jauh di atas pedagang kecil rata-rata hanya satu ekor," kata dia, saaat ditemui Tribun Jabar di Rumah Potong Hewan (RPH) Ciroyom, Selasa (19/5/2026).

Menurut penjelasan Dodi, dinamika tersebut memicu harga komoditas daging sapi di lingkar pasar ditekan hingga menyentuh level serendah mungkin.

Taktik semacam itu lazimnya diimplementasikan oleh para bandar atau pedagang besar supaya perputaran stok persediaan daging mereka berjalan dengan kilat.

Akan tetapi, iklim tersebut memicu barisan pedagang kecil kian kepayahan dalam berkompetisi.

Sektor margin profit yang diperoleh pedagang kecil pun ikut menyusut drastis lantaran mereka tidak mengantongi ruang yang lapang untuk memangkas harga jual.

“Kalau sapi murah, orang-orang yang motong banyak itu jualnya murah. Harga jadi dibanting-banting, akhirnya yang rugi pedagang kecil,” kata Dodi.

Dodi menguraikan bahwa level kapasitas usaha yang dimiliki pedagang kecil berbanding terbalik jika disandingkan dengan kepunyaan pedagang besar.

Ia mengonfirmasi dirinya cuma melakukan aktivitas pemotongan sebanyak satu ekor sapi saja di setiap harinya.

Kuantitas yang minim tersebut mengakibatkan lapak pedagang kecil tidak mempunyai keleluasaan penuh dalam menyetel nominal harga jual ke konsumen.

Potret yang kontras dialami oleh golongan pedagang besar yang sanggup menjagal enam sampai delapan ekor sapi dalam satu hari.

Seturut pandangan Dodi, pelaku usaha dengan volume pemotongan yang masif tersebut jauh lebih gampang memanipulasi pergerakan harga di ranah pasar.

“Kalau saya sehari cuma satu ekor. Yang ngerusak harga itu yang potongannya banyak, ada yang enam, ada yang delapan,” ujarnya.

Dodi memberikan penilaian, tren kenaikan harga sapi hidup yang bergulir pada saat ini memaksa para pedagang besar untuk bertindak lebih waspada dan selektif dalam memesan stok pasokan.

Kondisi tersebut mengakibatkan praktik perang harga di lapangan tidak sekencang atau seagresif layaknya ketika nominal harga sapi berada di posisi yang murah.

Menurut pandangannya, atmosfer pasar justru berubah menjadi jauh lebih nyaman bagi eksistensi pedagang kecil lantaran tidak banyak kompetitor yang bernyali menjagal sapi dalam kapasitas besar.

“With harga seperti ini malah lebih nyaman. Orang jadi enggak sembarangan motong banyak,” katanya.

Walau demikian, Dodi tidak menepis anggapan bahwa nominal harga sapi pada periode sekarang sudah dikategorikan masuk dalam level yang tinggi.

Akselerasi kenaikan itu tetap menggelontorkan beban tekanan tersendiri terhadap ekosistem pasar serta mengerek naik nilai jual daging sapi bagi para konsumen.

Kendati begitu, ia menyebutkan barisan pedagang kecil masih berpeluang mengantongi sisa keuntungan sepanjang mereka jeli dalam berburu pasokan stok dengan harga yang lebih miring.

“Memang mahal, tapi kalau pintar cari barang yang lebih murah, masih ada untung,” ujarnya.

Di tengah bergulirnya tren kenaikan harga daging sapi, sekumpulan pedagang dilaporkan mengambil keputusan untuk menggelar aksi mogok berjualan selama kurun waktu dua hari.

Namun, Dodi menetapkan pilihan untuk tetap mengoperasikan lapak dagangannya.

Ia mengonfirmasi langkah tersebut diambil sesudah menjalin komunikasi intensif dengan rekan sesama pedagang dari area pasar lainnya, termasuk di antaranya pedagang dari Pasar Ujungberung.

Gerakan mogok dagang tersebut dipicu oleh lonjakan harga modal daging sapi dari pihak rumah potong hewan yang diinformasikan terkerek naik hingga menyentuh Rp 10.000 per kilogram.

Untuk saat ini, nominal harga jual komoditas daging sapi di tingkat eceran pasar dikabarkan telah menembus angka sekitar Rp 150.000 per kilogram.

Berdasarkan hasil pemantauan di area lapangan, sejumlah pasar tradisional kedapatan tetap memilih konsisten menjalankan aksi mogok berjualan.

Salah satu potret kelumpuhan aktivitas dagang tersebut di antaranya terpantau melanda kawasan Pasar Kosambi, Kota Bandung.

Dodi menaruh harapan besar agar jajaran instansi pemerintah tidak sekadar mencurahkan fokus pada misi menstabilkan harga daging sapi semata.

Menurut pandangannya, pihak otoritas juga wajib mencermati aspek keseimbangan ekosistem persaingan roda bisnis antara kelompok pedagang kecil menghadapi gurita pedagang besar.

Pola kompetisi yang dinilai terlampau timpang dicemaskan bakal memicu nasib pedagang kecil semakin tersudut dan tertekan.

“Harapannya harga bisa lebih stabil, jadi semua pedagang bisa jalan,” kata dia.

Terkini