JAKARTA - Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 70 tahun Honda menderita kerugian dalam skala yang masif.
Begini paparan dari pimpinan tertinggi Honda mengenai kondisi pelik tersebut.
Honda membukukan rapor merah besar pertamanya di sepanjang sejarah perjalanannya sebagai sebuah perusahaan terbuka yang terdaftar di bursa.
Amblesnya keuntungan ini tidak lepas dari langkah transformasi yang terlampau agresif menuju tren kendaraan listrik sehingga memaksa perseroan mesti menanggung pengeluaran modal yang sangat masif di tengah situasi masa depan yang penuh spekulasi.
Perusahaan otomotif ini mencatatkan defisit bersih mencapai 424 miliar yen atau setara dengan Rp 46 triliun pada periode tahun fiskal 2025 yang rampung Maret lalu.
Jumlah kerugian yang bersumber dari lini bisnis EV bahkan menyentuh angka 1,58 triliun yen.
"Menanggapi perubahan drastis dalam lingkup bisnis kendaraan listrik, kami segera melakukan restrukturisasi operasi dan investasi kendaraan listrik kami," ucap CEO Honda Toshihiro Mibe dalam konferensi pers dikutip Japan Times.
Honda sejatinya dapat dikategorikan sebagai pionir dalam hal konversi ke kendaraan listrik di antara jajaran manufaktur asal Negeri Sakura.
Pabrikan otomotif dengan lambang huruf H tersebut bahkan berani mengucurkan dana investasi raksasa pada sektor produksi kendaraan listrik yang ditargetkan khusus untuk pasar Amerika Serikat.
Kendati begitu, strategi tersebut ternyata tidak berbuah manis.
Pergeseran dinamika pasar serta regulasi terbaru pemerintah AS mengenai alokasi subsidi bagi kendaraan listrik memaksa pihak manajemen perseroan untuk mengkaji kembali rencana strategis mereka.
"Honda belum pernah mencatat kerugian sebelumnya, namun pencatatan kerugian besar kali ini merupakan langkah manajemen untuk menghindari beban keuangan di masa depan dan memastikan perusahaan kembali ke jalur pertumbuhan yang kokoh," tambah Mibe.
Beruntung bagi perseroan, sektor bisnis lini sepeda motor Honda terpantau masih menorehkan performa yang gemilang utamanya untuk wilayah India serta Brasil, yang bahkan sukses mencetak rekor baru dalam volume penjualan dan perolehan laba.
Sementara itu untuk estimasi performa pada tahun fiskal yang berjalan saat ini, pihak Honda memproyeksikan perolehan laba operasional berada di angka 500 miliar yen serta keuntungan bersih menyentuh 260 billion yen.
Pihak manajemen korporasi menegaskan bakal tetap memikul beban kerugian yang timbul dari agenda perluasan pasar pada varian mobil bertenaga listrik murni.
Sebagai wujud tindakan nyata, Honda memproyeksikan pengalihan alokasi sumber daya riset dan pengembangan (R&D) serta fasilitas lini produksi menuju ke varian kendaraan hibrida atau hybrid.
Honda menetapkan target untuk memperkenalkan sebanyak 15 varian mobil hibrida baru pada periode tahun fiskal 2029, dengan fokus utama di wilayah pasar Amerika Utara.
Pihak Honda juga memproklamirkan bakal memusatkan ketersediaan sumber daya mereka pada negara-negara yang memiliki pertumbuhan roda ekonomi yang akseleratif serta memposisikan India sebagai ceruk pasar yang paling utama.
Tidak sebatas itu, perseroan juga berniat merancang produk kendaraan yang selaras dengan preferensi selera konsumen setempat serta menyuguhkan varian khusus bagi pasar India yang dimulai pada tahun 2028 mendatang.
Honda bakal mengoptimalkan basis kekuatan mereka yang sudah mapan pada sektor bisnis roda dua di India sekaligus menangkap peluang konversi kenaikan penjualan mobil dari kalangan konsumen pemilik sepeda motor.
Di luar wilayah India, Honda menegaskan bakal terus mendistribusikan mobil listrik di dalam negeri Jepang, kawasan Asia, serta zona pasar lainnya dengan menyesuaikan tingkat adopsi serta kesiapan di pasar domestik masing-masing.
"Di Amerika Utara, kami akan memantau kondisi pasar dan tren pelanggan dengan cermat sambil melakukan persiapan yang dilakukan untuk menghadirkan produk yang kompetitif pada waktu yang tepat," tegas Mibe.