MADIUN - Di bawah sengatan terik matahari yang menyengat, seorang pria lansia bernama Miyarno (72) tetap terlihat penuh kesabaran menanti kedatangan para pelanggan di lapak dagangan hewan kurban miliknya yang berlokasi di Jalan D.I Panjaitan, Kelurahan Pandean, Kecamatan Taman, Kota Madiun.
Walaupun dirinya sudah menggelar dagangan selama empat hari berturut-turut, area berjualan miliknya itu masih terlihat lengang dan belum banyak didatangi oleh masyarakat.
Sampai dengan hari Rabu (20/5/2026), dari total belasan ekor kambing yang ia jajakan di sana, tercatat baru dua ekor saja yang berhasil terjual kepada konsumen.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan situasi pada tahun lalu, di mana satu minggu sebelum perayaan Hari Raya Idul Adha tiba, masyarakat sudah berbondong-bondong meramaikan lapak dagangannya.
“Tahun ini sepi pembeli dibandingkan tahun lalu. Tahun lalu sepekan menjelang hari raya sudah banyak datang ke sini melihat dan menawar,” ujar Miyarno, Rabu (20/5/2026) siang.
Rasa heran pun berkecamuk di dalam benak Miyarno lantaran harga pasaran kambing pada periode ini sebenarnya jauh lebih miring, tetapi jumlah peminatnya justru merosot tajam.
Ia sendiri mengaku sama sekali tidak paham mengenai faktor yang menyebabkan daya beli masyarakat terhadap hewan kurban menjadi menurun drastis saat ini.
“Padahal harga kambing tahun ini lebih murah. Tahun ini uang Rp 1,5 juta sudah mendapatkan satu ekor kambing. Sementara tahun lalu, harga seekor kambing yang siap dijadikan hewan kurban paling murah Rp 1,8 juta,” jelas Miyarno.
Ia menaruh harapan besar agar angka penjualan hewan kurbannya dapat mengalami lonjakan yang signifikan saat waktu pelaksanaan Idul Adha sudah semakin dekat.
Apalagi berkaca dari pengalaman sebelumnya, cukup banyak masyarakat muslim yang memutuskan untuk melangsungkan prosesi penyembelihan pada hari kedua perayaan.
“Makanya saya jualan kambing sampai H+1 agar warga dapat membeli kambing yang siap dijadikan hewan kurban,” tutur Miyarno.
Aktivitas berdagang kambing musiman menjelang hari raya kurban ini ternyata telah ditekuni oleh pria paruh baya tersebut selama 15 tahun belakangan.
Dalam siklus tahunan yang dilewatinya, jumlah hewan ternak yang dijajakan olehnya biasanya mampu habis terjual hingga mencapai 15 ekor.
Proses perjuangan yang harus dilewati olehnya demi mengais rezeki dari berjualan hewan kurban ini pun terbilang penuh dengan tantangan yang tidak ringan.
Dirinya dituntut untuk mengoperasikan tempat berjualan tersebut secara penuh selama 24 jam nonstop demi mengantisipasi kedatangan pelanggan.
Bahkan ketika ada masyarakat yang datang berniat membeli pada waktu tengah malam sekalipun, ia akan tetap berupaya memberikan pelayanan dengan sebaik mungkin.
“Malam hari saya juga biasa jaga. Kalau tidak bisa saya minta orang lain untuk berjaga. Namun kalau ada transaksi orang itu menghubungi saya,” kata Miyarno.
Guna memaksimalkan omzet, ia tidak sekadar bertumpu pada penjualan konvensional di tempat, melainkan juga menerima pemesanan daring lewat pesan singkat di telepon genggamnya.
Apabila kesepakatan harga sudah tercapai dengan pelanggan, hewan ternak tersebut akan segera diantarkan olehnya langsung menuju ke alamat rumah sang pembeli.
Untuk momen kali ini, ada sebanyak 15 ekor kambing yang dikumpulkan dan dipajang olehnya di lokasi penjualan tersebut.
Sembilan ekor di antaranya merupakan hewan ternak hasil peliharaannya sendiri, sedangkan sisa kambing lainnya ia pasok dari peternak lokal di wilayah Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun serta Kabupaten Magetan.
Melihat situasi pasar yang masih belum menunjukkan tanda-tanda keramaian, ia kini hanya bisa berserah diri dan menerima keadaan dengan lapang dada.
Harapan terbesarnya saat ini adalah seluruh persediaan kambingnya bisa habis terjual menjelang hari H pelaksanaan kurban, meskipun keuntungan yang diraupnya nanti tergolong tipis.
"Mohon doanya semoga laris dan cepat habis. Kalau stok habis nanti saya ambil lagi di peternak di Kabupaten Madiun. Dan meski untung sedikit saya selalu bersyukur,” demikian Miyarno.