Studi Lancet: 1,2 Miliar Orang Alami Gangguan Mental

Senin, 25 Mei 2026 | 14:52:15 WIB
Ilustrasi depresi.(Sumber:NET)

JAKARTA - Jumlah masyarakat yang mengidap gangguan mental di tingkat global mengalami kenaikan yang signifikan seiring dengan kemajuan teknologi serta pola hidup masyarakat modern saat ini.

Persoalan kesehatan tersebut kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda. 

Bersumber dari penelitian paling aktual yang dimuat pada 23 Mei 2026 di jurnal Lancet, tercatat ada hampir 1,2 miliar populasi dunia yang mengalami masalah gangguan mental di sepanjang tahun 2023.

Angka yang terus merangkak naik ini merefleksikan terjadinya lonjakan mencapai 95,5 persen apabila dikomparasikan dengan data yang ada pada tahun 1990.

Menyadur informasi dari CNN, kenaikan yang paling masif dijumpai pada persoalan kecemasan serta depresi, yang memuncaki tipe gangguan dengan jumlah kasus terbanyak pada tahun 2023. 

Pada urutan berikutnya ditempati oleh kelompok sisa gangguan kepribadian yang tidak dibarengi dengan gangguan mental ataupun penyalahgunaan zat tertentu lainnya.

Riset ini pun memetakan kecenderungan dari 12 tipe gangguan mental yang dikategorikan berlandaskan variabel usia, gender, wilayah geografis, hingga aspek sosiodemografis di 204 negara serta wilayah. "Kami memasuk fase yang lebih mengkhawatirkan dari memburuknya beban gangguan mental secara global," tulis peneliti dalam studi.

Varian gangguan mental lainnya yang ikut dimasukkan dalam indikator riset ini mencakup bipolar, skizofrenia, gangguan spektrum autisme, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH), anoreksia, bulimia, distimia, gangguan perilaku, serta disabilitas intelektual perkembangan yang belum diketahui secara pasti aspek pemicunya. 

Di samping itu, distimia sendiri ialah jenis depresi jangka panjang dengan tingkat intensitas yang cenderung ringan, yang biasa diidentifikasi juga sebagai gangguan depresi persisten.

Kelompok ahli mengidentifikasi adanya tren kenaikan pada seluruh tipe gangguan, termasuk peningkatan sebesar 158 persen untuk problem kecemasan dan kenaikan hingga 131 persen pada isu depresi jika dikomparasikan dengan data di tahun 1990.

Berbanding terbalik, jenis gangguan yang paling jarang dijumpai ialah anoreksia, bulimia, serta skizofrenia, walaupun kondisinya tidak dapat dikategorikan langka, dengan proyeksi masing-masing berada di angka 4 juta, 14 juta, dan 26 juta kasus di sepanjang tahun 2023.

Menilik dari peta distribusinya, mayoritas gangguan mental lebih banyak dialami oleh kelompok perempuan. 

Walau demikian, untuk problem autisme, gangguan perilaku, ADHD, gangguan kepribadian, serta disabilitas intelektual yang belum teridentifikasi faktor pemicunya justru lebih mendominasi pada kelompok laki-laki.

Laporan ilmiah tersebut pun membedah lebih mendalam mengenai perkiraan dampak dari pandemi COVID-19 terhadap dinamika level kesehatan mental publik. Kendati tren kecemasan, depresi, dan gangguan sejenisnya telah mulai merangkak

naik sebelum masa pandemi, kondisi depresi semakin meningkat tajam selama dan sesudah krisis global tersebut serta belum kembali ke titik awal.

Di sisi lain, grafik problem kecemasan berada di posisi paling tinggi dan terus bertahan stagnan hingga tahun 2023. Isu kesehatan mental saat ini berubah menjadi pemicu utama disabilitas, dengan kelompok perempuan serta rentang usia 15-39 tahun sebagai kelompok yang paling terdampak.

Meskipun tingginya rasio pada kaum perempuan ialah fenomena yang lumrah, para pakar menggarisbawahi bahwa puncak kasus yang menyasar kelompok usia 15-19 tahun menjadi rekor baru yang pertama kali didapati dalam sejarah riset Global Burden of Disease (GBD). "Selama ini, kami selalu melihat puncaknya terjadi pada usia paruh baya," ujarnya.

Kepala kedokteran psikiatri dan perilaku di Virginia Tech Carilion School of Medicine, Dr Robert Trestman, memaparkan bahwa tahapan usia muda adalah fase yang sangat rentan sekaligus esensial bagi tingkatan perkembangan otak, kecakapan sosial, dan kapasitas intelektual.

Melalui perspektifnya, proses tumbuh kembang yang terhambat pada masa emas tersebut berpotensi memicu efek domino jangka panjang. "Banyak faktor yang memicu atau memperburuk kondisi kesehatan mental," kata para ahli.

Beraneka stimulan tersebut beberapa di antaranya mencakup aspek genetika, kerentanan ekonomi, faktor trauma, fasilitas kesehatan yang terbatas atau mahal, konflik serta instabilitas politik, situasi perang, krisis pangan, aksi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), masalah citra tubuh (body image), tindakan diskriminasi, berkurangnya interaksi sosial, hingga ancaman kerusakan lingkungan. "Sayangnya kami tidak memiliki banyak data tentang penyebab peningkatan ini di kalangan kaum muda," kata Santomauro.

Terkini