Jembatan Ambruk di Cunca Wulang, Dua Turis Austria Tewas

Selasa, 26 Mei 2026 | 12:02:57 WIB
Proses evakuasi dua jenazah WNA Austria yang jatuh di Manggarai Barat.(Sumber:NET)

LABUAN BAJO - Sektor pariwisata di wilayah Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), tengah diselimuti suasana duka yang mendalam. 

Dua orang turis asing asal negara Austria dilaporkan meninggal dunia setelah terjatuh di objek wisata alam Air Terjun Cunca Wulang, yang berlokasi di Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat.

Peristiwa nahas tersebut terjadi pada hari Minggu (24/5/2026). Kedua korban diketahui bernama Jurgen dan Astrid. 

Mereka mengembuskan napas terakhir di lokasi kejadian karena jembatan kayu yang menjadi akses penyeberangan di atas aliran sungai mendadak runtuh.

Seorang saksi mata yang juga menjadi pemandu lokal untuk korban, Muhardin, menceritakan kronologi dari kejadian memilukan itu. 

Berdasarkan keterangannya, kedua warga negara asing (WNA) tersebut tiba di kawasan wisata Air Terjun Cunca Wulang sekitar pukul 09.20 WITA dengan ditemani oleh sopir pribadi bernama Julius Mam (45). 

Setelah menyelesaikan proses administrasi di loket tiket, Jurgen dan Astrid langsung berjalan kaki menuju area air terjun dengan dipandu oleh Muhardin.

Petaka terjadi sewaktu mereka tiba di sebuah jembatan gantung kayu yang melintang setinggi kurang lebih 10 meter di atas aliran sungai yang dipenuhi bebatuan. 

Kedua korban bermaksud mengabadikan momen kebersamaan mereka dalam bentuk rekaman video pendek. Mereka kemudian menyerahkan telepon genggam kepada Muhardin dan meminta untuk direkam dari arah belakang.

"Mereka berjalan beriringan sambil tersenyum hangat ke arah kamera. Mereka sempat meminta saya, 'Tolong ambil video kami dari belakang saat kami menyeberang jembatan ini, ya,'" kenang Muhardin dengan suara bergetar dan tatapan mata yang masih menyiratkan trauma mendalam saat memberikan keterangan kepada pihak kepolisian.

Baru melangkah sekitar 10 meter di atas bentangan jembatan gantung tersebut, struktur kayu yang menjadi pijakan mereka mendadak patah.

"Tiba-tiba terdengar suara kayu patah yang sangat keras, seperti dahan pohon besar yang tumbang. Dalam hitungan detik, jembatan langsung ambruk total. Saya melihat mereka berdua jatuh bebas ke bawah dan langsung menghantam batu-batu sungai yang besar di dasar jurang," tutur Muhardin.

Seketika itu juga, Muhardin langsung berlari kembali ke pos tiket untuk berteriak meminta bantuan kepada warga setempat.

Sekretaris Desa Cunca Wulang, Benediktus Hartono, membenarkan adanya insiden maut tersebut. 

Ia menjelaskan bahwa runtuhnya jembatan kayu itu diakibatkan oleh robohnya tiang penyangga di bagian bawah jembatan.

“Korbannya langsung jatuh mengenai batu besar di bawah jembatan. Memang kondisi di lokasi dipenuhi bebatuan,” ujar Benediktus saat dikonfirmasi, Minggu (24/5/2026).

Berdasarkan informasi awal, rombongan pelancong sebelumnya sempat melintasi jembatan tersebut tanpa kendala sama sekali. 

Namun, jembatan itu mendadak runtuh tepat saat giliran rombongan wisatawan asal Austria yang sedang melintas di atasnya.

Menurut pandangan Benediktus, kondisi fisik jembatan sebenarnya dinilai masih aman untuk dilewati jika dilihat secara kasat mata, sebab kerusakan pada tiang penopang bawah yang telah lapuk memang tidak kelihatan dari permukaan atas.

Terlebih lagi, fasilitas jembatan tersebut sudah pernah diperbaiki pada tahun 2023 lalu. Ia menduga bahwa ambruknya jembatan itu dipicu oleh adanya kelebihan muatan.

“Secara kasat mata jembatan masih layak dilintasi karena bagian penyangga yang usang tidak terlihat dari atas. Apalagi jembatan ini sudah pernah renovasi pada tahun 2023. Kemungkinan karena beban berlebihan sehingga penyangganya patah,” tambah Benediktus.

Terlepas dari tragedi memilukan ini, Air Terjun Cunca Wulang pada dasarnya merupakan salah satu destinasi wisata di Manggarai Barat yang menyuguhkan pesona alam luar biasa sebagai alternatif berlibur di Labuan Bajo selain Taman Nasional Komodo. 

Sering mendapatkan julukan sebagai Green Canyon versi NTT, air terjun ini dikelilingi oleh pemandangan tebing batu kapur yang kokoh dengan aliran air jernih bernuansa kebiruan atau hijau toska. 

Suasana udara di sekitarnya pun terasa sangat sejuk karena lokasinya berada di tengah kawasan hutan lebat.

Para pelancong biasanya memanfaatkan tempat ini untuk melepas penat, berenang, atau menguji nyali dengan melompat dari atas tebing tinggi.

Berikut adalah rincian data teknis serta informasi operasional mengenai objek wisata Air Terjun Cunca Wulang:

Jalur Trekking: Akses menuju ke titik lokasi berupa anak tangga, jembatan, serta jalan setapak sepanjang 4 kilometer dengan estimasi waktu tempuh sekitar 45 menit perjalanan.

Harga Tiket Masuk Cunca Wulang: Dipatok berkisar antara Rp 30.000 sampai Rp 50.000 per orang (biaya tersebut sudah mencakup jasa pemandu wisata atau bergantung pada kebijakan pengelola).

Jam Operasional: Buka setiap hari mulai pukul 06.00 sampai dengan pukul 17.00 WITA.

Lokasi: Berlokasi di wilayah trans Flores, berjarak sekitar 40 kilometer atau dapat ditempuh dalam waktu 1 jam 27 menit dari pusat kota Manggarai Barat (secara administratif mencakup area Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling hingga Desa Pota Wangka, Kecamatan Boleng).

Pihak pengelola memberikan peringatan bahwa arus air dapat menjadi sangat kencang saat musim penghujan tiba, sehingga para wisatawan dilarang keras untuk berenang ketika cuaca sedang hujan demi menjaga keselamatan jiwa.

Selain keberadaan air terjun, kawasan alam ini sejatinya juga menyimpan daya tarik tersembunyi lain berupa sungai bawah tanah sepanjang 2 kilometer yang berada sekitar 1 kilometer dari lokasi Air Terjun Cunca Wulang. 

Karakteristik aliran airnya berbeda dengan sungai Cunca Wulang karena mengalir menuju Sungai Wae Ranteng yang terus mengalir sepanjang tahun dengan lebar sekitar 10 meter.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Cunca Wulang, Feliks Janggu, menerangkan bahwa aliran air tersebut tampak lenyap masuk ke dalam sebuah gua yang dinamai oleh masyarakat lokal sebagai Liang Rodak. 

Sampai saat ini, warga sekitar baru bisa menjelajahi lorong terowongan tersebut sejauh 100 meter karena terhambat oleh adanya pusaran air yang sangat dalam di dalam gua.

“Sementara kami hanya bisa rekomendasikan pintu masuk ke terowongannya saja,” kata Feliks.

Karena jalur aksesnya yang harus melewati area kolam dalam pada tebing yang terjal serta menembus kawasan hutan yang membingungkan, titik sungai bawah tanah ini dimasukkan ke dalam kategori wisata minat khusus dan belum dibuka secara bebas oleh penduduk sekitar. 

Para wisatawan pada umumnya hanya diarahkan untuk berhenti di titik lokasi Air Terjun Cunca Wulang saja.

Jika ada pelancong yang tetap bersikeras ingin mengeksplorasi sungai bawah tanah ini, mereka diwajibkan untuk menyewa sekurang-kurangnya dua orang ranger (pemandu) dengan tarif jasa minimal sebesar Rp 150.000 per orang demi memprioritaskan faktor keamanan.

Pihak Pokdarwis Cunca Wulang sendiri hingga kini terus berbenah melakukan pembersihan rute serta menjalin komunikasi dengan Dinas Pariwisata terkait penataan standarisasi paket wisata di area tersebut.

“Saya sebagai ketua Pokdarwis Cunca Wulang menjaminkan tempat ini layak menjadi spot wisata minat khusus, atau wisatawan umum dengan tetap etik yang ketat saat menyambangi spot wisata serta mengikuti serius setiap instruksi ranger,” pungkas Feliks.

Terkini