Langkah Strategis Jatim Amankan Target Swasembada Gula Nasional

Jumat, 29 Mei 2026 | 14:35:13 WIB
Buruh tebang mengangkut tebu. (Sumber: NET)

SURABAYA - Bentangan tanaman tebu yang hijau di kawasan Jawa Timur bukan cuma menjadi potret lahan pertanian biasa yang tumbuh di bawah terik matahari.

Di balik deretan tanaman yang menjulang tinggi tersebut, tersimpan rangkaian kisah mengenai ketahanan pangan, rekam jejak industri nasional, tingkat kesejahteraan para petani, hingga perjuangan besar negara demi menekan angka ketergantungan pada impor gula.

Iring-iringan truk pengangkut tebu yang bergerak menuju ke sejumlah unit pabrik gula di area Kediri, Situbondo, Malang, hingga Magetan sepanjang beberapa pekan belakangan ini mengindikasikan bahwa aktivitas industri gula di Jawa Timur telah kembali bergerak aktif.

Kegiatan operasional penggilingan tebu terus dipacu tanpa mengenal jeda.

Suara sirene dari pabrik-pabrik mulai terdengar nyaring, sementara para petani tebu menanti perolehan hasil rendemen dan pihak pemerintah terus berupaya keras mencapai target swasembada.

Wilayah Jawa Timur hingga detik ini memang masih memegang peranan krusial sebagai jantung pertanaman tebu dan pasokan gula berskala Nasional.

Lebih dari separuh total kebutuhan komoditas gula di Indonesia dipasok dari provinsi ini.

Berdasarkan rilis data resmi dari Pemprov Jatim, total volume produksi gula kristal putih di wilayah tersebut pada tahun 2025 sukses menembus angka sekitar 1,34 juta ton yang sekaligus menjadi torehan tertinggi dalam kurun waktu satu dekade terakhir.

Capaian angka produksi yang masif tersebut menempatkan posisi Jawa Timur berada jauh di atas provinsi-provinsi lainnya dalam hal penyediaan stok gula berskala Nasional.

Kondisi positif ini memicu tingkat optimisme dari pihak pemerintah menjadi semakin kuat.

Penerapan program bongkar ratoon atau langkah peremajaan tanaman tebu secara berkala kini mulai digulirkan secara serentak di bermacam-macam daerah.

Kawasan Kediri, Probolinggo, Magetan, hingga Malang saat ini tengah saling berlomba untuk memperluas area lahan perkebunan sekaligus mendongkrak produktivitas hasil panennya.

Pihak pemerintah pusat bahkan menetapkan kawasan Jawa Timur sebagai pilar utama dalam menyukseskan pemenuhan target swasembada gula konsumsi secara Nasional pada tahun 2026.

Namun di samping hal tersebut, sejarah panjang tata kelola gula di tanah air telah memberikan satu pelajaran yang berharga bagi semua pihak.

Agenda swasembada nyatanya bukan semata-mata berbicara mengenai kuantitas hasil panen yang berlimpah atau kontinuitas operasional mesin pabrik yang berputar secara terus-menerus.

Tantangan riil yang dihadapi di lapangan sebenarnya jauh lebih kompleks dan kerap kali tidak nampak apabila hanya ditinjau dari perolehan angka statistik produksi semata.

Ambisi Baru

Sektor industri pergulaan di dalam negeri pada dasarnya tengah berada di antara persimpangan dua era yang berbeda.

Pada satu sisi, terdapat semangat yang besar untuk melaksanakan program modernisasi serta mengejar pemenuhan target besar yang dicanangkan oleh negara.

Namun di sisi lainnya, jalannya operasional pabrik masih banyak yang bertumpu pada keberadaan mesin-mesin tua peninggalan era kolonial yang memiliki tingkat efisiensi kerja sangat terbatas.

Meskipun sejumlah pabrik gula di wilayah Jawa Timur dilaporkan sudah mulai mengeksekusi program revitalisasi, kendala mendasar di sektor hulu belum sepenuhnya dapat diselesaikan.

Tingkat perolehan rendemen tebu pada beberapa pabrik terpantau masih tertahan di kisaran angka 7 hingga 8 persen saja.

Hal tersebut memiliki arti bahwa dari setiap 100 kilogram tebu yang masuk ke dalam proses penggilingan, kuantitas gula yang dihasilkan nilainya masih tergolong minim.

Oleh karena itu, langkah peningkatan mutu bibit, peremajaan tanaman tebu secara berkala, hingga peningkatan efisiensi pada proses penggilingan menjadi fokus pekerjaan utama dalam rangka mengejar target swasembada.

Capaian angka tersebut memperlihatkan bahwa tingkat produktivitas masih sangat terbuka untuk dioptimalkan kembali, baik pada area perkebunan maupun di dalam pabrik.

Faktor kondisi cuaca, mutu dari bibit tanaman, penerapan sistem irigasi, hingga durasi waktu pengangkutan tebu menjadi variabel penentu utama kadar gula yang ada di dalam batang tebu.

Maka dari itu, pelaksanaan program bongkar ratoon dinilai sebagai sebuah langkah yang sangat krusial.

Tanaman tebu yang dibiarkan tumbuh terlalu lama tanpa adanya proses peremajaan secara berkala akan mengalami penurunan drastis dalam hal produktivitas.

Pihak pemerintah saat ini terus memotivasi pemakaian varietas tanaman unggul yang dinilai lebih kuat terhadap kondisi kekeringan serta mempunyai kadar gula yang jauh lebih tinggi.

Penerapan langkah ini salah satunya sudah mulai terlihat di daerah Magetan melalui pengenalan varietas Panjalu, sementara wilayah lainnya fokus memperluas lahan tanam dan membenahi sistem tata kelola perkebunan.

Upaya tersebut menjadi penting karena kendala utama pergulaan di Indonesia tidak hanya dipicu oleh keterbatasan area lahan, melainkan juga akibat rendahnya angka produktivitas per hektare.

Di samping hal itu, agenda modernisasi pada sektor pabrik juga menjadi tantangan besar tersendiri.

Banyak unit pabrik gula masih terbentur masalah efisiensi pemanfaatan energi, terjadinya kehilangan kandungan gula pada saat proses produksi berjalan, hingga tingginya biaya operasional pabrik.

Dampaknya, tingkat harga produk gula domestik sering kali kalah bersaing apabila disandingkan dengan produk gula impor.

Keadaan seperti ini pada akhirnya memicu sebuah ironi di lapangan.

Para petani terus didorong untuk menaikkan kapasitas produksi mereka, namun kondisi pasar domestik terkadang justru mengalami banjir pasokan gula rafinasi yang merembes ke sektor pasar konsumsi.

Kondisi tersebut mengakibatkan tingkat harga gula di tingkat petani menjadi sangat rentan merosot ketika masa panen raya datang.

Permasalahan mendasar inilah yang kini mulai mendapatkan perhatian dari pihak pemerintah daerah di wilayah Jawa Timur.

Proses swasembada dirasa tidak akan cukup apabila hanya berfokus pada upaya menaikkan jumlah produksi semata.

Negara juga wajib memberikan jaminan agar ekosistem pada sistem perdagangan dapat berjalan secara sehat sekaligus mampu memberikan perlindungan bagi para petani tebu.

Petani Bertahan

Pada sejumlah wilayah yang menjadi pusat komoditas tebu, masa giling pada dasarnya menjadi faktor pendorong roda perekonomian masyarakat lokal.

Warung-warung makan menjadi ramai pembeli, para sopir truk memperoleh order pekerjaan, buruh angkut mendapat penghasilan tambahan, dan pabrik gula bertransformasi menjadi pusat penggerak ekonomi di desa.

Akan tetapi di balik perputaran ekonomi tersebut, para petani tebu nyatanya masih harus menghadapi tekanan kerja yang tidak mudah.

Komponen biaya produksi di lapangan terus membengkak, salah satunya dipicu oleh kenaikan harga pupuk serta ongkos tenaga kerja.

Kondisi cuaca juga menjadi semakin sulit untuk diperkirakan.

Ketika masa kemarau berlangsung terlalu lama, tanaman tebu akan mengalami kekurangan pasokan air, sedangkan jika hujan turun terlalu dekat dengan jadwal masa panen, tingkat kadar gula di dalamnya akan mengalami penurunan.

Tantangan ini belum ditambah dengan adanya kendala pada proses regenerasi pelaku petani.

Banyak generasi muda di wilayah pedesaan yang tidak lagi memandang sektor pertanian tebu sebagai bidang usaha yang menjanjikan bagi masa depan mereka.

Mereka cenderung memilih untuk pergi mencari pekerjaan di wilayah perkotaan atau masuk ke sektor industri lain yang dinilai menawarkan kepastian lebih baik.

Padahal target pencapaian swasembada gula tidak akan pernah bisa terwujud tanpa adanya keberlanjutan dari eksistensi para petani tebu rakyat.

Saat ini sebagian besar pasokan bahan baku untuk kebutuhan pabrik gula di Jawa Timur masih bergantung pada hasil produksi lahan petani kecil.

Sebagai contoh di Pabrik Gula (PG) Assembagoes, Situbondo, mayoritas pasokan tebunya bersumber dari lahan-laman yang dikelola langsung oleh rakyat.

Oleh karena itu, pola pendekatan dalam pengembangan sektor industri gula tidak boleh hanya berorientasi pada aspek kuantitas produksi saja.

Tingkat kesejahteraan dari para petani harus diletakkan sebagai pusat perhatian yang utama.

Pihak pemerintah wajib memperkuat penyediaan skema pembiayaan dengan bunga murah bagi para petani tebu, memperluas keterjangkauan akses terhadap bibit unggul, membenahi fasilitas irigasi, serta menjaga stabilitas harga gula saat musim panen raya tiba.

Penerapan sistem digitalisasi dalam tata niaga juga dinilai penting agar para petani bisa memperoleh akses informasi harga secara lebih transparan.

Perkara lain yang kerap kali terabaikan adalah sektor pengembangan pada bidang industri turunan dari komoditas tebu.

Sepanjang masa ini, focus utama yang berjalan masih berkutat pada penyediaan produk gula konsumsi, padahal komoditas tebu menyimpan potensi besar untuk diolah menjadi sektor energi terbarukan, produk bioetanol, pembangkit listrik biomassa, hingga bahan pupuk organik.

Negara Brasil dapat dijadikan sebagai satu contoh nyata bagaimana komoditas tebu tidak sekadar dipandang sebagai bahan pemenuhan pangan, melainkan dioptimalkan sebagai sumber energi nasional.

Indonesia sejatinya mempunyai peluang besar untuk melangkah ke arah yang sama, terlebih saat dunia internasional kini mulai gencar mencari alternatif energi dengan tingkat emisi yang rendah.

Jika hal ini diintegrasikan dengan program hilirisasi, maka nilai ekonomi dari komoditas tebu akan bernilai jauh lebih besar dan tidak hanya bergantung pada fluktuasi harga gula saja.

Daulat Pangan

Program swasembada gula sesungguhnya bukan sekadar pemenuhan target berupa angka statistik tahunan belaka.

Agenda ini menyangkut perihal kedaulatan pangan sekaligus kemampuan dari sebuah negara untuk dapat berdiri tegak di atas kekuatan basis produksinya sendiri.

Indonesia tercatat pernah mengecap masa keemasan dalam industri gula pada masa pemerintahan kolonial dahulu.

Namun setelah melewati masa puluhan tahun, negara dengan karakteristik tanah yang subur ini justru berubah status menjadi salah satu negara pengimpor gula terbesar di dunia.

Kondisi riil tersebut menunjukkan bahwa dinamika permasalahan gula bukan semata-mata menjadi urusan di bidang pertanian saja, melainkan berkaitan erat dengan sistem tata kelola industri serta regulasi kebijakan perdagangan.

Wilayah Jawa Timur saat ini tengah berupaya keras untuk membalikkan situasi tersebut.

Adanya semangat program bongkar ratoon, perluasan area lahan, peningkatan angka rendemen, hingga langkah modernisasi pabrik menjadi sinyal bahwa sektor industri gula nasional sedang mencari momentum untuk bangkit kembali.

Walaupun demikian, target pencapaian swasembada harus terus dikawal dengan baik agar tidak berakhir hanya sebagai slogan musiman semata.

Peningkatan jumlah produksi yang berhasil dicapai wajib dibarengi dengan adanya bentuk keberpihakan nyata kepada nasib petani, pembenahan pada jalur distribusi, proteksi terhadap pasar domestik, serta langkah transformasi industri ke arah yang lebih modern.

Di tengah situasi perubahan iklim global serta ketidakpastian kondisi ekonomi dunia, kemampuan dalam memproduksi bahan pangan mandiri menjadi satu hal yang krusial.

Gula mungkin saja tampak sebagai hal yang sederhana ketika tersaji di atas meja makan, namun jalan panjang menuju swasembada memberikan gambaran nyata betapa rumitnya menyelaraskan keseimbangan antara pihak petani, sektor industri, kondisi pasar, dan peran negara.

Kawasan perladangan tebu di Jawa Timur saat ini tengah mengemban amanah harapan besar tersebut.

Langkah ikhtiar dari negara kini sedang melangkah maju, membawa sebuah bangsa yang sekian lama bergantung pada jalur impor, agar suatu hari nanti bisa kembali berdiri mandiri berkat manisnya hasil jerih payah sendiri.

Terkini