Jebakan Paylater Bikin Gen Z Sulit Ambil Kredit Rumah

Jumat, 29 Mei 2026 | 17:36:01 WIB

JAKARTA - Kemudahan dalam mengakses pinjaman digital membuat banyak pengguna layanan tunda bayar (paylater) mengaku kebablasan. Akibat kurangnya kontrol, mereka akhirnya terjebak dalam tumpukan tunggakan yang menguras penghasilan bulanan, bahkan sampai menggagalkan rencana untuk menyicil rumah impian.

Rendahnya pemahaman masyarakat mengenai risiko finansial, ditambah dengan lemahnya sistem penyaringan risiko gagal bayar dari penyedia layanan, menjadi pemicu utama mengapa fitur Buy Now Pay Later (BNPL) ini berubah menjadi pusaran utang yang mencekik. Fenomena ini pun kian marak dibahas di media sosial, di mana banyak netizen membagikan tangkapan layar tagihan mereka yang membengkak hingga bikin sesak napas.

Berdasarkan data industri, jumlah pengguna baru layanan ini melonjak hingga 55% sejak masa pandemi. Ironisnya, profil pengguna yang mengalami kendala pembayaran justru didominasi oleh kelompok usia yang semakin muda, bahkan di bawah 19 tahun. Banyak dari mereka yang belum memiliki penghasilan tetap namun mudah disetujui karena sistemnya yang serba digital. Fitur konsumtif ini akhirnya menjadi jalan pintas bagi kelompok non-bankable untuk membeli barang-barang seperti gawai dan produk fesyen.

Pengalaman Pengguna: Dari Iseng Jadi Impian Rumah yang Kandas

Seorang pengguna berusia 23 tahun mengaku mulai mengaktifkan fitur ini saat masih kuliah demi bisa belanja secara leluasa tanpa diketahui orang tua. Meski awalnya merasa cicilannya kecil, ia akhirnya kelabakan saat tagihannya menembus angka Rp5 juta dan terpaksa meminta bantuan orang tua untuk melunasi pos tersebut.

Kisah yang lebih pelik dialami oleh Toni (nama samaran), yang memanfaatkan paylater untuk membeli ponsel dan laptop demi kepraktisan dibanding harus menabung lama. Namun, promosi yang agresif membuatnya tidak terkontrol hingga total utangnya mencapai empat kali lipat dari gaji bulanan.

Demi keluar dari jerat tersebut, Toni terpaksa menjual dan menggadaikan seluruh aset pribadinya. Sialnya, hingga kini ia belum sepenuhnya terbebas dan masih kesulitan mengatur keuangan. Dampak paling fatal yang ia rasakan adalah ia tidak bisa mengambil KPR (Kredit Pemilikan Rumah) karena skor kredit BI checking miliknya rusak total akibat riwayat penunggakan tersebut.

Mengapa Generasi Muda Mudah Terjebak?

Kelompok Gen Z menjadi sasaran empuk karena sifat mereka yang sangat adaptif terhadap teknologi digital. Berbeda dengan lembaga keuangan konvensional yang menerapkan survei ketat ke rumah, penyedia layanan digital saat ini hanya mengandalkan algoritma rekam jejak transaksi belanja atau riwayat perjalanan digital untuk menentukan limit kredit.

Kondisi ini diperparah dengan tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia yang masih berada di bawah 50%. Banyak konsumen yang tergiur oleh promo diskon, cashback, dan tawaran dana tambahan tanpa memikirkan bunga riil serta denda keterlambatan yang mengintai di balik jebakan pinjaman online berkedok tunda bayar ini.

Tips Bijak Menggunakan Paylater dan Mengelola Keuangan

Agar tidak terjebak dalam lingkaran utang yang merusak masa depan finansial, penting bagi kita untuk menerapkan beberapa langkah mitigasi berikut:

Pahami Skala Prioritas: 
Evaluasi kembali apakah barang yang dibeli merupakan kebutuhan mendesak atau sekadar keinginan konsumtif. Jika tidak menghasilkan perputaran uang balik, sebaiknya belilah secara tunai.

Batasi Rasio Utang: 
Pastikan seluruh total cicilan bulanan yang Anda miliki tidak melanggar batas aman, yaitu maksimal 30% dari total pendapatan bersih.

Pahami Cara Melunasi Utang: 
Jika sudah mulai menumpuk, segera stop penggunaan aplikasi, catat seluruh daftar tagihan, dan buat strategi prioritas pelunasan dari yang berbunga paling tinggi atau berwaktu paling mepet.

Jaga Skor Kredit Anda: 
Ingatlah bahwa setiap transaksi paylater yang legal tercatat dalam sistem negara. Sekali Anda gagal bayar, riwayat buruk tersebut akan mempersulit Anda di masa depan saat ingin mengajukan kredit penting seperti rumah atau modal usaha.

Terkini