Dampak Masalah Gigi Terhadap Kesehatan Mental dan Emosional Anak

Rabu, 03 Juni 2026 | 14:36:48 WIB
Penelitian menunjukkan stres dan kecemasan dapat memicu kebiasaan buruk seperti menggertakkan gigi (FOTO: NET)

JAKARTA - Merawat kebersihan serta kesehatan gigi pada anak-anak kerap kali dinilai hanya sebagai langkah untuk menghindari risiko gigi berlubang ataupun rasa nyeri.

Padahal, berdasarkan hasil studi terkini didapatkan bahwa kondisi kesehatan area mulut memiliki hubungan yang sangat kuat dengan perkembangan mental serta kestabilan emosional anak.

Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh C.S. Mott Children's Hospital National Poll on Children's Health, tercatat bahwa lebih dari sepertiga populasi anak-anak menghadapi gangguan pada gigi mereka.

Sejumlah pakar berpendapat bahwa gangguan kesehatan ini dapat berdampak langsung pada tingkat rasa percaya diri, kecakapan dalam bergaul, hingga kondisi psikologis mereka.

Kondisi kesehatan mulut anak dapat memberikan dampak signifikan terhadap status kesehatan mentalnya.

Persoalan seputar gigi nyatanya masih terus membayangi satu dari setiap tiga anak.

Merujuk pada laporan Parents, Selasa, (2/6/2026), sebuah studi yang mengamati 1.801 orang tua yang memiliki anak di rentang usia 4 hingga 17 tahun menunjukkan bahwa di atas 36 persen anak-anak sempat mengalami kendala kesehatan gigi dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

Beberapa kendala yang paling dominan muncul di antaranya adalah gigi yang berlubang atau keropos, terjadinya perubahan warna pada gigi, rasa ngilu akibat gigi sensitif, sampai masalah pada jaringan gusi.

Fenomena ini menjadi sebuah indikator nyata bahwa urusan menjaga kesehatan mulut masih menjadi sebuah persoalan sekaligus tantangan yang cukup berat bagi sebagian besar keluarga.

Para ahli yang melakukan studi juga mendapati fakta bahwa kelompok anak yang tidak disiplin dalam merawat kebersihan gigi mereka mempunyai peluang yang jauh lebih besar untuk terkena infeksi mulut ketimbang kelompok anak yang teratur membersihkannya saban hari.

Kelalaian dalam membersihkan gigi dapat memicu timbulnya beraneka rupa gangguan kesehatan.

Data dari jajak pendapat tersebut memperlihatkan bahwa hanya ada sekitar tiga dari total lima orang tua yang mengonfirmasi bahwa buah hati mereka terbiasa menggosok gigi dua kali dalam sehari.

Bukan hanya itu saja, anak dengan jenis kelamin laki-laki tercatat memiliki tingkat kedisiplinan yang lebih rendah untuk menggosok gigi maupun menggunakan benang gigi jika disandingkan dengan anak perempuan.

Dipaparkan oleh seorang dokter spesifik gigi sekaligus tokoh yang menginisiasi sistem perawatan mulut Supermouth, drg. Kami Hoss, problem medis yang paling sering timbul akibat dari minimnya kesadaran menjaga kebersihan mulut adalah terjadinya pembusukan gigi yang memicu gigi berlubang.

"Gigi berlubang menjadi masalah nomor satu, diikuti gingivitis, erosi enamel, dan ketidakseimbangan mikrobioma mulut yang dapat menyebabkan bau mulut kronis, gigi berlubang berulang, serta penyakit gusi dini," jelas Hoss.

Keadaan medis tersebut tidak sekadar mendatangkan rasa sakit dan tidak nyaman bagi fisik anak, namun dinilai mampu menghambat jalannya rutinitas harian mereka, termasuk dalam proses belajar di sekolah serta ketika bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Kondisi higienitas gigi yang buruk berpotensi mengganggu stabilitas mental seorang anak.

Konsekuensi negatif dari buruknya higienitas area mulut ternyata tidak cuma berhenti pada gangguan fisik semata, melainkan merembet hingga ke ranah psikis anak.

Studi ilmiah yang dirilis lewat American Journal of Orthodontics menerangkan bahwa bentuk dan kondisi gigi menduduki posisi sebagai salah satu bagian fisik yang paling rawan dan sering dijadikan sebagai objek perundungan atau bullying pada anak-anak yang berada di usia sekolah.

Terkini