JAKARTA - Pelayanan akomodasi bagi para jemaah haji reguler asal Indonesia di Madinah mengukir sejarah baru pada pelaksanaan ibadah haji 1447 H/2026 M.
Pada tahun ini, belasan ribu jemaah haji reguler akan mendapatkan fasilitas tempat menginap mewah setara bintang 5 yang umumnya hanya melekat pada program haji khusus.
Kabar menggembirakan tersebut disampaikan secara langsung oleh Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), Maria Assegaff, dalam acara konferensi pers yang ditayangkan secara langsung lewat saluran YouTube Kemenhaj, Minggu (7/6/2026).
"Tahun ini yang berbeda dibandingkan dengan sebelumnya, hampir sekitar 17 ribu jemaah haji reguler Indonesia akan menempati hotel setaraf bintang 5 di Madinah yang biasa identik dengan program haji khusus," kata Maria.
Maria menerangkan, penaikan kelas fasilitas penginapan ini merupakan bentuk komitmen dari pihak pemerintah demi mewujudkan kesetaraan kualitas pelayanan untuk seluruh jemaah haji Indonesia.
Meski demikian, ia menggarisbawahi bahwa aspek kemewahan bukanlah fokus utama, melainkan kemudahan akses para jemaah untuk menjalankan ibadah di Masjid Nabawi.
"Nilai utama yang kami hadirkan adalah kemudahan akses bagi jemaah untuk dapat beribadah di Masjid Nabawi. Hotel-hotel tersebut berada pada lokasi yang sangat dekat, bahkan sampai 50 meter saja dari Masjid Nabawi," jelasnya.
Lewat jarak yang terhitung sangat dekat tersebut, waktu perjalanan jemaah dari tempat menginap menuju masjid dapat dipangkas secara drastis.
Fasilitas ini secara otomatis bakal meminimalkan kelelahan fisik para jemaah, terutama dalam menunjang kenyamanan aktivitas ibadah saban hari selama berada di Kota Madinah.
Penyediaan akomodasi premium dengan letak yang strategis ini pun menjadi bagian dari keberhasilan program Haji Ramah Lansia yang digulirkan oleh pemerintah.
Maria menegaskan, para jemaah yang memiliki keterbatasan kondisi fisik akan dijadikan sebagai prioritas utama untuk menempati jajaran hotel yang posisinya dekat dengan Masjid Nabawi tersebut.
"Ini juga bagian dari program haji kami ramah lansia, disabilitas, dan perempuan. Hotel dengan akses terdekat ke Masjid Nabawi ini diprioritaskan bagi jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, dan tentunya jemaah berkebutuhan khusus," tegas Maria.
Pihak pemerintah menaruh harapan, melalui mobilisasi yang semakin mudah serta suasana penginapan yang tenang, para jemaah bisa beribadah dengan tingkat kekhusyukan yang lebih tinggi.
"Dengan mobilitas yang lebih mudah dan juga tentunya dengan lingkungan yang lebih nyaman, kami berharap jemaah dapat lebih fokus beribadah dan menikmati pengalaman spiritual yang lebih khusyuk selama berada di Kota Madinah," imbuhnya.
Peningkatan fasilitas akomodasi ini disiapkan berbarengan dengan dimulainya perpindahan jemaah haji untuk gelombang kedua dari kota Makkah menuju kota Madinah pada hari ini.
Perpindahan tersebut sekaligus menjadi penanda dari fase akhir dari seluruh rangkaian pelayanan bagi jemaah di Arab Saudi sebelum nantinya bertolak kembali ke tanah air melewati Bandara Amir bin Abdul Aziz Madinah.
Sampai dengan memasuki hari operasional yang ke-48, Kemenhaj menyatakan bahwa seluruh pelaksanaan ibadah haji berjalan secara aman, tertib, dan terpantau baik.
Mobilisasi secara massal dari Makkah menuju Madinah pun telah dipersiapkan dengan sangat matang, mulai dari kesiapan ribuan unit armada bus antarkota hingga pengelolaan barang bagasi.
"Operasional pergerakan jemaah dari Makkah menuju Madinah melibatkan ribuan jemaah, bahkan juga bus antarkota, pengaturan barang bawaan serta koordinasi lintas sektor pelayanan. Jadi seluruh proses ini telah dipersiapkan secara matang agar berlangsung tertib, aman, nyaman, dan juga tentunya tepat waktu," urai Maria.
Kemenhaj pun memberikan imbauan kepada para jemaah supaya senantiasa mematuhi segala instruksi dari petugas di area lapangan, menjaga dokumen perjalanan berupa paspor, serta membawa barang bawaan dalam jumlah sewajarnya demi kelancaran proses perpindahan kota tersebut.
Para petugas haji juga diminta untuk mencurahkan perhatian sekaligus pendampingan yang lebih intensif kepada jemaah yang memiliki risiko kesehatan tinggi sepanjang perjalanan.
Sebab bagi Kemenhaj, standar dari kesuksesan pelaksanaan haji di tahun ini terletak pada aspek kenyamanan para jemaah.
"Kementerian Haji dan Umrah meyakini bahwa keberhasilan penyelenggaraan haji diukur dari tingkat kepuasan dan kenyamanan jemaah. Karena itu, setiap inovasi layanan yang kami hadirkan selalu berorientasi pada kenyamanan dan keselamatan jemaah dalam menunaikan rukun Islam kelima dengan sebaik-baiknya," pungkas Maria.