Dedi Mulyadi Dorong Penguatan Masjid Kampung Menggunakan Dana Desa

Rabu, 10 Juni 2026 | 13:13:36 WIB
Gubernur Dedi Mulyadi.(Sumber:NET)

BANDUNG - Menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan arah pembangunan tempat ibadah di wilayahnya bakal mengalami pergeseran pendekatan.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak lagi memprioritaskan kemegahan arsitektur masjid, melainkan lebih memperkokoh fungsi sosial serta spiritual masjid di tingkat lingkungan warga.

Langkah ini dipaparkan sebagai bagian dari refleksi Tahun Baru Islam yang sekaligus menjadi momen evaluasi terhadap kontribusi masjid di tengah kehidupan sosial masyarakat.

Dedi Mulyadi menerangkan bahwa Jawa Barat saat ini telah memiliki banyak masjid besar dengan fasilitas yang memadai.

Oleh sebab itu, keperluan yang lebih mendesak saat ini ialah memperkuat masjid kecil atau tajug di tingkat kampung supaya faedahnya dapat dirasakan langsung oleh warga sekitar.

"Kalau masjid-masjid yang megah itu sudah banyak di Jawa Barat. Yang diperlukan hari ini adalah mengembangkan masjid-masjid dan tajug yang ada di lingkungan masyarakat," ujar Dedi di Masjid Raya Al Jabbar, Selasa (9/6/2026).

Menurut Gubernur Jawa Barat, masjid tidak sekadar berfungsi sebagai bangunan fisik, melainkan wajib menjadi pusat kegiatan sosial, pendidikan, serta pembinaan warga di tingkat lokal.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengagendakan integrasi program pengembangan masjid lingkungan ini dengan pemanfaatan dana desa.

Kendati demikian, sokongan tersebut tidak cuma diarahkan pada pembangunan fisik, namun juga mencakup biaya operasional agar masjid dapat terus aktif serta dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, masjid diharapkan tidak hanya berdiri kokoh secara fisik, melainkan juga hidup sebagai pusat aktivitas umat.

Gubernur Jawa Barat menilai bahwa fungsi masjid tidak boleh sebatas menjadi simbol kemegahan atau sekadar destinasi wisata religi.

Lebih dari itu, masjid harus menjadi ruang yang mendidik karakter masyarakat.

"Masjid harus kembali menjadi ruang yang membangun spiritualitas, memperkuat hubungan sosial, dan melahirkan perubahan perilaku di tengah masyarakat."

Gubernur Jawa Barat juga menyoroti fenomena sebagian masyarakat yang mendatangi masjid besar hanya untuk berwisata atau berfoto tanpa mendalami esensi ibadah serta refleksi diri.

"Kalau masjid menjadi sarana rekreasi, maka masjid hanya akan menjadi tempat selfie, bukan tempat tafakur," katanya.

Menurut Gubernur Jawa Barat, keadaan tersebut mesti diubah supaya masjid kembali menjadi ruang kontemplasi dan pembentukan akhlak.

Gubernur Jawa Barat menegaskan bahwa kesuksesan syiar Islam tidak ditakar dari megahnya bangunan atau ramainya pengunjung, melainkan dari perubahan perangai umat setelah keluar dari masjid.

"Kalau datang ke Al Jabbar tidak meninggalkan sampah, tidak membuat kesemrawutan, pulang dengan hati penuh kebahagiaan dan cinta kasih, itulah orang yang benar-benar masuk masjid," ujarnya.

Gubernur Jawa Barat juga mengajak masyarakat menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momen untuk introspeksi diri.

Gubernur Jawa Barat berharap semangat hijrah tidak sekadar dimaknai sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi titik awal perubahan tabiat menuju kehidupan yang lebih baik.

Menurut Gubernur Jawa Barat, syiar Islam wajib berjalan beriringan dengan perubahan karakter umat yang lebih tenang, bijaksana, serta tidak mudah tersulut emosi.

"Syiar Islam harus sejalan dengan perubahan perilaku umat Islam. Tidak temperamental, tidak emosional, tidak menebar kebencian, dan mampu menahan diri," katanya.

Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai Jawa Barat telah memperlihatkan contoh hubungan yang selaras antara pemerintah dan masyarakat.

Menurut Menteri Agama, kedekatan antara pemimpin daerah dan warga menjadi modal krusial dalam membangun daerah yang rukun serta sejahtera.

"Bagaimana masyarakat mencintai gubernurnya dan sebaliknya bagaimana gubernur mencintai dan memprioritaskan kesejahteraan rakyatnya. Inilah contoh yang sangat bagus untuk ke depan. Inilah Indonesia dan inilah Islam," kata Nasaruddin.

Terkini