Petani Purworejo Rawat Pompa Tenaga Surya Lewat Tradisi Desa

Kamis, 25 Juni 2026 | 11:06:15 WIB
Instalasi panel surya di Desa Kaliwungulor, Purworejo Jawa Tengah. (FOTO:NET)

PURWOREJO - Matahari belum terlalu tinggi ketika suara mesin pompa mulai terdengar dari tepian sungai di Desa Kaliwungulor, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo.

Air yang semula mengalir tenang di dasar sungai perlahan terdorong naik masuk ke saluran irigasi, lalu menyebar ke petak-petak sawah.

Di samping bangunan sederhana yang menaungi pompa itu, terdapat 36 modul panel surya.

Dari sinilah energi untuk menggerakkan pompa air berasal.

Paryanto, perangkat desa yang sekaligus menjadi salah satu pengelola sistem pompa air tenaga surya (PATS) mengatakan, hampir seluruh bentang wilayahnya didominasi lahan pertanian.

Dari sekitar 76 hektar sawah yang dimiliki desa, sebagian besar digunakan untuk bertani padi.

Ketika air tersedia, sawah produktif dan panen berlangsung baik.

Sebaliknya, ketika kemarau panjang datang, ancaman gagal panen selalu menghantui.

Dulu, petani di Kaliwungulor mengandalkan kombinasi bendung dan pompa berbahan bakar minyak untuk memenuhi kebutuhan air.

Sistem itu memang bekerja, tetapi biaya operasionalnya cukup besar.

Setiap musim kemarau, petani harus menyalakan tiga pompa besar selama berjam-jam setiap hari yang mengonsumsi 200-250 liter BBM dalam sehari.

Jika musim kemarau berlangsung antara 60 hingga 90 hari, total konsumsi bahan bakar bisa mencapai belasan ribu hingga puluhan ribu liter setiap satu kali musim tanam.

"Karena desa kami memang penghasil padi, air harus tersedia. Mau tidak mau pompa harus jalan terus saat kemarau," ujar Paryanto, Rabu (24/6/2026).

Perubahan mulai terjadi pada akhir 2020.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membangun proyek Pompa Air Tenaga Surya di Kaliwungulor dengan nilai investasi mencapai Rp 514 juta.

Sistem tersebut dipasang oleh PT Ekoterra Dinamika dari Bandung dengan kapasitas sekitar 11 kilowatt peak (kWp).

Instalasi ini menjadi salah satu proyek percontohan pertama di Jawa Tengah yang memanfaatkan energi matahari untuk kebutuhan irigasi pertanian.

Sekitar 20 hektar sawah terletak di atas Sungai yang kini mendapatkan pasokan air dari pompa tenaga surya tersebut.

"Kalau cuaca cerah, penghematan biaya operasional bisa sekitar 40 persen karena kami menggunakan tiga pompa, lebih hemat dibandingkan ketika masih sepenuhnya menggunakan bahan bakar minyak," kata Paryanto.

Faktor terpenting yang membuat proyek ini tetap berjalan hingga hari ini adalah sistem sosial yang sudah mengakar di desa.

Warga menyebutnya Pon Kerja.

Tradisi gotong royong ini telah ada jauh sebelum panel surya dipasang.

Ia mengatakan, setiap petani yang menggarap lahan seluas sekitar seperenam hektar diwajibkan memberikan kontribusi tahunan berupa 20 kilogram gabah basah.

Pembayaran bisa dilakukan dalam bentuk gabah maupun uang tunai sesuai harga pasar.

Mekanisme tersebut diputuskan melalui musyawarah desa dan disepakati bersama oleh para petani.

Hasilnya tidak masuk ke rekening pribadi siapa pun.

Seluruh dana dikelola untuk kepentingan pertanian.

Mulai dari perbaikan saluran irigasi, pemeliharaan pompa, pembersihan jaringan air, hingga kebutuhan operasional lain yang berkaitan dengan sawah, terutama untuk operasional pompa dan perawatannya.

"Ini memang sudah menjadi tradisi turun-temurun. Hasilnya digunakan kembali untuk pertanian," kata Paryanto.

Dengan jumlah petani mencapai sekitar 200 dari sekitar 251 kepala keluarga, desa mampu mengumpulkan sekitar 8 hingga 9 ton gabah setiap musim.

Jika harga gabah basah berada pada kisaran Rp 6.500 per kilogram, nilai yang terkumpul mencapai sekitar Rp 30 jiwa hingga Rp 50 juta per tahun.

Dana tersebut menjadi semacam "tabungan kolektif" desa untuk menjaga keberlanjutan sistem pertanian.

"Ya kalau selama ini besarannya tergantung musyawarah desa dan para petani, kebetulan tahun ini yang disepakati sebanyak 20 kg gabah basah," katanya.

"Kalau di desa yang kami punya hanya gotong-royong, jadi kuncinya pada pengelolaan," katanya.

Menjelang siang, matahari di atas Kaliwungulor semakin terik.

Panel-panel surya bekerja pada kapasitas terbaiknya.

Air terus mengalir ke petak-petak sawah yang hijau.

Kepala Seksi Energi Cabang Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah Serayu Selatan, M.

Sukron Malik mengatakan, Purworejo memiliki sumber energi surya yang melimpah karena intensitas penyinaran matahari yang cukup tinggi serta curah hujan yang tidak terlalu ekstrem dibandingkan wilayah pegunungan.

"Kalau untuk sumber energi surya di Kabupaten Purworejo ini dari segi letak geografisnya melimpah. Karena berada di dataran rendah dan sinar mataharinya sepanjang tahun relatif kontinu," kata Sukron.

Meski demikian, hingga kini belum tersedia kajian spesifik yang memetakan potensi radiasi matahari secara perinci di tingkat Kabupaten Purworejo.

Data yang tersedia masih mengacu pada pemetaan energi yang dilakukan di tingkat provinsi dan lembaga terkait.

Menurut Sukron, hingga saat ini terdapat dua unit PATS bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang telah beroperasi di Purworejo.

"Selama ini kalau di Kabupaten Purworejo PATS ada dua, yakni di Kaliwungulor dan di Desa Krandegan. Alhamdulillah semua bermanfaat," ujarnya.

Terkini