BANYUWANGI - Kemacetan parah melanda kawasan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur.
Antrean panjang armada kendaraan dilaporkan terjadi di wilayah tersebut selama tiga hari terakhir.
Berdasarkan laporan dari detikJatim, penumpukan volume kendaraan bahkan memanjang hingga berkisar 7 kilometer (km) dan terjadi hampir tanpa henti baik pada siang maupun malam hari.
Kondisi tersebut telah berlangsung selama 3 hari belakangan.
Ketua Umum DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (GAPASDAP) Khoiri Soetomo mengungkap secara transparan terkait faktor utama kemacetan parah tersebut.
Kendala yang terjadi saat ini bukan disebabkan oleh kurangnya jumlah kapal yang beroperasi pada jalur Ketapang-Gilimanuk, melainkan faktor utamanya terletak pada terbatasnya kapasitas tampung pelabuhan serta dermaga yang berfungsi.
Kejadian ini dianggap menjadi pembuktian krusialnya akselerasi pembangunan fasilitas pelabuhan serta dermaga di rute penyeberangan tersebut.
Berdasarkan penilaiannya, saat ini terdapat sekitar 56 kapal yang mengantongi izin resmi dan siap sedia melayani jalur Ketapang-Gilimanuk.
Meski begitu, daya tampung dari dermaga yang ada saat ini hanya mampu memuat sekitar 28 kapal untuk beroperasi secara efektif dalam satu siklus kerja.
"Artinya, sekitar 28 kapal lainnya harus menunggu giliran operasi sebagai kapal cadangan. Ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan kekurangan armada, melainkan keterbatasan kapasitas pelabuhan dan dermaga," ujar Khoiri dalam keterangannya, Kamis (25/6/2026).
Melihat pada peninjauan langsung di lokasi tersebut, keterbatasan jumlah dermaga mengakibatkan lonjakan volume kendaraan logistik, bus, hingga mobil pribadi tidak bisa ditangani secara cepat.
Di sisi lain, proses pelayanan kendaraan logistik berukuran besar yang belum optimal, kendala cuaca serta ombak laut yang memengaruhi kelancaran proses bersandar kapal, dan minimnya area parkir penampung (buffer zone) sekaligus jalan akses menuju ke pelabuhan ikut andil menjadi pemicu lain macet parah yang terjadi.
Perusahaan operator kapal yang tergabung di bawah Gapasdap, menurut Khoiri, tetap berupaya meningkatkan produktivitas operasional melalui optimalisasi kapal, percepatan proses bongkar muat barang, serta penerapan standar keselamatan berlayar.
Bagi Khoiri, pembangunan fasilitas penyeberangan nasional mesti dijadikan fokus perhatian bersama.
Selama bertahun-tahun, organisasinya telah melayangkan usulan percepatan perluasan rute Ketapang-Gilimanuk lewat pembangunan dermaga baru, perluasan kapasitas tampung pelabuhan, optimalisasi Dermaga Bulusan, penambahan titik buffer zone kendaraan, pelebaran jalan akses, hingga percepatan pengadaan serta pembebasan lahan.
Pihaknya menilai tanpa adanya peningkatan kapasitas fasilitas secara masif, lonjakan jumlah kendaraan di setiap tahunnya dapat memicu kemacetan serupa pada momen liburan, hari besar keagamaan, serta waktu puncak pergerakan logistik nasional.
Jalur lintas Ketapang-Gilimanuk itu sendiri merupakan salah satu rute krusial yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Bali sekaligus menyokong pergerakan barang, sektor pariwisata, dan mobilitas masyarakat ke Bali, Nusa Tenggara, hingga wilayah Indonesia Timur.
"Setiap penambahan dermaga baru tidak hanya membantu mengurangi antrean kendaraan, tetapi juga meningkatkan efisiensi logistik nasional, menekan biaya distribusi, mendukung pariwisata, memperkuat konektivitas antarwilayah, dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional," kata Khoiri.