Dampak Buruk Salah Isi BBM pada Performa dan Komponen Mesin

Senin, 29 Juni 2026 | 11:48:08 WIB
Ilustrasi isi bensin (FOTO: NET)

JAKARTA - Setiap unit kendaraan telah dibuat agar memakai tipe bahan bakar tertentu yang selaras dengan ketentuan mesin dari produsen.

Hal tersebut menyebabkan pengaplikasian bahan bakar minyak (BBM) yang tidak tepat berpotensi mengganggu kinerja kendaraan hingga mempercepat ausnya bagian-bagian mesin.

Di tanah air, beberapa opsi BBM yang lazim dipakai mencakup Pertalite (RON 90), Pertamax (RON 92), Pertamax Green 95 (RON 95), Pertamax Turbo (RON 98), serta solar bagi mesin diesel.

Namun, di lapangan masih kerap dijumpai kejadian pengisian bahan bakar yang keliru.

Padahal, kelalaian tersebut bisa berakibat pada merosotnya performa, pemakaian bahan bakar yang lebih boros, sampai mempercepat kerusakan bagian mesin jika tidak cepat diatasi.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi bila kendaraan diisi dengan BBM yang tidak pas dengan spesifikasi mesin?

Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar menerangkan bahwa tiap teknologi kendaraan dibangun dengan berpijak pada karakter fisik dan kimia dari tipe bahan bakar tertentu.

Pembangunan tersebut dilakukan dengan memikirkan banyak aspek, mulai dari tenaga, efisiensi, sampai daya tahan bagian mesin.

Menurutnya, jika kendaraan memakai bahan bakar yang tidak cocok dengan ketentuan pabrik, efeknya dapat langsung terasa dalam waktu dekat.

"Jadi kalau misalkan kendaraan tidak diisi sesuai spesifikasi bahan bakar yang ditentukan produsennya, maka dalam jangka pendek akan berdampak terhadap penurunan kinerja seperti power, torsi, dan peningkatan konsumsi bahan bakar," kata Supriyadi kepada Kompas.com, Minggu (28/6/2026).

Sementara itu, untuk jangka panjang, pemakaian BBM yang tidak pas bisa mempercepat kerusakan berbagai bagian mesin.

Sebagai contoh, kendaraan diesel standar Euro 4 dibuat memakai solar dengan kadar sulfur maksimal 50 ppm.

Jika diisi solar dengan kadar sulfur yang lebih besar, usia bagian mesin dan sistem kontrol emisi bisa jadi lebih singkat.

Selain tipe bahan bakar, Supriyadi menegaskan bahwa kecocokan angka oktan (Research Octane Number/RON) dengan rasio kompresi mesin juga menjadi faktor yang sangat vital.

"Penggunaan bahan bakar dengan nilai RON lebih rendah dari yang direkomendasikan pabrikan dapat memicu knocking atau detonasi," jelasnya.

"Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan risiko kerusakan pada piston, katup, hingga komponen mesin lainnya," sambungnya.

Supriyadi menambahkan, kualitas bahan bakar tidak hanya ditentukan oleh angka oktan, namun juga dipengaruhi oleh karakter penguapan (distilasi), kadar sulfur, stabilitas penyimpanan, serta paket aditif yang berfungsi menjaga kebersihan sistem bahan bakar, mencegah korosi, mengurangi pembentukan deposit, dan membuat proses pembakaran lebih optimal.

Oleh karena itu, ia menyarankan pemilik kendaraan agar senantiasa memakai BBM sesuai anjuran pabrik.

Langkah tersebut krusial guna merawat tenaga, efisiensi penggunaan bahan bakar, keandalan mesin, menambah umur komponen, sekaligus membantu menekan emisi gas buang kendaraan.

Terkini