Menko PM: Lulusan Pesantren Siap Kendalikan Bonus Demografi 2030

Senin, 29 Juni 2026 | 11:48:09 WIB
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar.(FOTO:NET)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin melepas kurang lebih 175 alumni SMA dan MA Unggulan Bertaraf Internasional serta SMK Unggulan Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Cirebon, Jawa Barat, yang bersiap menempuh studi lanjut ke China sampai Tunisia.

Cak Imin lalu memberikan wejangan kepada para alumni bahwa santri pada masa mendatang wajib mempunyai tiga modal utama.

"Santri harus memenuhi tiga syarat. Pertama, memiliki skill atau kemampuan. Kedua, memiliki integritas. Ketiga, taat asas terhadap ilmu pengetahuan," kata dia dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Senin.

Ia kemudian mewanti-wanti para lulusan bahwa Indonesia sedang mengalami bonus demografi yang bakal menentukan masa depan bangsa beberapa tahun mendatang.

"Kalau sekarang kalian lulus, berarti pada 2030 kalian sudah mulai memegang kendali. Muhaimin Iskandar boleh gagal, tetapi lulusan BIMA pada 2030 tidak boleh gagal. Modal kalian sangat besar, dan bonus demografi itu mutlak ada di tangan kalian," katanya mengingatkan.

Ia pun merasa yakin banyak alumni pesantren, termasuk BIMA, yang mampu merealisasikan visi Indonesia Emas 2045.

Di sisi lain, Pengasuh BIMA Imam Jazuli memaparkan bahwa di samping China dan Tunisia, sebagian santri yang bersiap kuliah itu ada juga yang meneruskan pendidikan ke Rusia serta beberapa negara di Timur Tengah.

Bukan hanya itu, dia menyebutkan ada 99 santri yang lolos di bermacam-macam perguruan tinggi negeri di Indonesia, dan sebagian besar mengambil program studi umum.

Berdasarkan penuturannya, pemilihan program studi para santri itu diselaraskan dengan kebutuhan strategis tanah air.

Apalagi, ucapnya, pesantren pada masa sekarang tidak sekadar memadai untuk melahirkan santri yang saleh, melainkan wajib mencetak generasi yang bisa memberi kontribusi nyata bagi negara.

"Saya ingin menggerakkan pesantren-pesantren secara nasional agar memiliki visi yang sama, bukan sekadar mencetak santri yang saleh, melainkan juga mencetak santri yang bermanfaat, membangun negeri, dan menguasai berbagai bidang ilmu yang dibutuhkan negara," kata dia.

Terkini