CARACAS - Di kala duka mendalam menyelimuti pasca-guncangan gempa bumi dahsyat di Venezuela, gelombang aksi penjarahan serta pencurian seketika mencuat di sejumlah kawasan yang mengalami dampak paling parah dari bencana tersebut.
Jajaran otoritas mendata sedikitnya 1.450 jiwa mengembuskan napas terakhir dan puluhan ribu warga lainnya hingga kini masih dalam proses pencarian akibat petaka yang pecah pada hari Rabu itu (24/6/2026).
Potret paling memprihatinkan dijumpai di kawasan pesisir negara bagian La Guaira, wilayah yang posisinya bersebelahan dengan ibu kota Caracas.
Kawasan tersebut saat ini sudah berganti wujud menjadi hamparan puing-puing bangunan yang berserakan.
Di tengah suasana nestapa, bermacam rekaman video yang tersebar di jagat maya memperlihatkan sekelompok warga saling mengoper boks berisi perabotan rumah tangga dari sebuah toko yang roboh.
Tayangan video yang lain turut memperlihatkan barang-barang hasil curian diangkut di atas atap unit mobil hingga sepeda motor.
Tindakan kriminalitas ini memantik kemarahan yang mendalam bagi kalangan warga yang berhasil selamat.
Pasalnya, penyaluran uluran bantuan dari pihak pemerintah dirasa sangat lamban serta minim.
Di samping itu, sejumlah penjarah dikabarkan telah kehilangan nurani kemanusiaan demi menguras barang-barang bernilai di kala warga tengah didera kepanikan.
Maria Esther Bernal (71), seorang warga kawasan setempat yang menyewakan ruko kepada para wirausaha asal China, meratapi situasi ketika segenap tokonya habis digarong tanpa menyisakan apa pun.
"Apakah adil jika rakyat kita saling memangsa satu sama lain?Mereka bahkan mengambil kabel-kabelnya," ratap Maria Esther Bernal.
Bernal mengisahkan memori kelam seputar seorang pria warga negara China yang ditemukan meninggal dunia di dalam pasar swalayan tepat di sebelah tempat usahanya.
Tatkala aksi penjarahan massal itu meletus, orang-orang tampaknya tidak lagi mengindahkan keberadaan jasad tersebut.
"Mereka melangkahi mayatnya untuk menjarah. Itu adalah sebuah supermarket," kata Bernal menambahkan.
Keluhan yang senada turut dilontarkan oleh Zulay de Carvajal (72).
Ia memaparkan bagaimana keluarganya terpaksa kehilangan segenap harta benda bukan semata-mata lantaran ambruknya struktur bangunan, melainkan akibat ulah oknum penjarah yang memanfaatkan momentum darurat ini.
"Tidak ada apa-apa lagi di sini. Mereka mencuri semuanya: pakaian, sepatu, peralatan kami, panci, cangkir, mangkuk, hingga gelas kami," tutur Zulay de Carvajal kepada AFP.
Buah hatinya, Gregory Carvajal (37), juga menyaksikan secara langsung karut-marut yang mengerikan tersebut di area lapangan sewaktu mencoba mengevakuasi para korban gempa bumi.
"Kami menemukan bencana. Kami sedang memindahkan mayat-mayat, dan pada saat itu juga, mereka sedang menjarah. Orang-orang menjadi gila, menjarah, mengambil segalanya," kata Gregory Carvajal.
Bukan cuma membidik toko-toko kelontong kecil, aksi penjarahan besar-besaran ini turut melanda jaringan apotek raksasa seperti Farmatodo, hingga bermacam supermarket serta sektor usaha lokal yang lain.
Sejumlah pengamat menilai kondisi kacau ini muncul lantaran adanya pihak yang mencari keuntungan di tengah bencana.
Kendati demikian, sebagian kalangan menggarisbawahi bahwa faktor kelaparan serta kemiskinan yang parah mendesak warga yang telah kehilangan segalanya melakukan tindakan nekat, terlebih di negara yang sejatinya telah didera krisis berkepanjangan sebelum petaka gempa melanda.
Kondisi keamanan dirasa semakin merosot dengan bermunculannya aneka modus kriminalitas baru di lingkungan yang lain di La Guaira.
Sejumlah individu tepergok menyedot bahan bakar dari mobil milik warga, sementara oknum yang lain nekat menyamar menjadi petugas pemadam kebakaran demi meraup untung dari suasana krisis.
Tidak sebatas itu, tudingan miring di media sosial kini mengarah tajam kepada aparat kepolisian serta personel militer.
Sorotan publik menuduh oknum aparat turut mencuri dari rumah-rumah warga yang ditinggalkan dalam keadaan kosong, bahkan dari jasad para korban yang telah meninggal dunia.
Dalam sebuah rekaman video yang beredar luas di media sosial, seorang warga terekam mengusir seorang tentara beserta petugas resmi yang lain dari kediamannya setelah memergoki mereka tengah mengais-ngais barang berharga.
"Mereka terus mengambil barang, saya tidak bisa menahannya lagi," protes pria yang merekam kejadian tersebut menggunakan ponselnya.
Petugas resmi yang berada di lokasi berkilah bahwa mereka sebatas sedang mengecek apakah terdapat korban yang terjebak di dalam bangunan rumah tersebut.
Guna menekan situasi yang kian bergulir liar, pemerintah Venezuela kini telah mengerahkan militer ke negara bagian La Guaira.
Jalur masuk menuju area tersebut disekat secara ketat dan cuma diperuntukkan bagi kalangan yang mengantongi surat izin khusus yang dikeluarkan langsung oleh pihak otoritas militer di Caracas.
Saat ini, warga mendesak supaya pemerintah tidak semata-mata berkonsentrasi pada langkah penyelamatan saja, melainkan juga mendongkrak aspek keamanan serta mempercepat distribusi pasokan logistik berupa makanan, air bersih, beserta obat-obatan.
Mantan koordinator LSM hak asasi manusia Provea, Marino Alvarado, menganggap fenomena tindakan kriminal di tengah petaka ini bukanlah hal yang baru bagi wilayah La Guaira.
Kawasan pesisir ini sebelumnya pernah hancur lebur pada tahun 1999 silam akibat bencana hujan lebat disertai tanah longsor besar yang menghapus seluruh lingkungan perkampungan serta merenggut lebih dari 10.000 jiwa.
Menurut analisis Alvarado, gelombang tindakan kriminal serupa juga sempat meletus pada masa lalu.
"Tidak mengherankan jika kami dapat menemukan tiga situasi yang juga terjadi selama bencana tanah longsor dahulu," jelas Marino Alvarado.
"Kriminalitas. Kedua, penyalahgunaan wewenang oleh polisi, yang sekarang mulai dilaporkan. Dan ketiga, petugas kepolisian atau militer yang juga ikut serta dalam aksi penjarahan," lanjutnya.
Meskipun situasi masih diliputi ketidakpastian serta trauma yang mendalam, secercah harapan mulai nampak dari gerakan gotong royong masyarakat.
Seusai salah satu cabang jaringan apotek Farmatodo dijarah hingga habis di La Guaira, pihak korporasi bersama dengan kelompok masyarakat setempat bahu-membahu membersihkan sisa-sisa kerusakan yang ada.
Lokasi yang sempat luluh lantak tersebut kini diubah fungsinya menjadi sebuah klinik pelayanan primer guna memfasilitasi keperluan medis darurat bagi para korban yang selamat.