INCHEON - Kedatangan rombongan tim nasional Korea Selatan setelah dipastikan tersingkir dari babak penyisihan grup Piala Dunia 2026 diselimuti oleh atmosfer yang sangat mencekam.
Ratusan pendukung meluapkan kemarahan serta rasa kecewa mereka secara langsung kepada pelatih kepala Hong Myung-bo beserta Ketua Federasi Sepak Bola Korea (KFA), Chung Mong-kyu, di area Bandara Internasional Incheon.
Hong Myung-bo bersama dengan delapan penggawa timnas Korea Selatan mendarat di Incheon pada kisaran pukul 03.51 pagi waktu setempat, Senin (30/6/2026).
Kedatangan mereka langsung disambut oleh sorakan bernada miring, makian keras, hingga desakan agar segera bertanggung jawab atas performa buruk tim selama ajang Piala Dunia berlangsung.
Korea Selatan menyudahi babak penyisihan dengan menempati posisi ketiga di Grup A, setelah hanya mampu mengemas satu kemenangan dan menelan dua kali kekalahan.
Son Heung-min bersama rekan-rekannya gagal melangkah ke babak 32 besar dan harus puas menyudahi turnamen di peringkat ke-34, yang sekaligus mencatatkan rekor pencapaian paling buruk sepanjang sejarah keikutsertaan negara itu di Piala Dunia.
Berdasarkan laporan dari media Chosun, kelompok suporter terpantau telah memadati area kedatangan Bandara Incheon jauh sebelum rombongan skuad Korea tiba di lokasi.
Mereka membentangkan bermacam-macam spanduk yang memuat tulisan protes keras, seperti "Sepak bola Korea telah mati" serta kalimat "Hong Myung-bo, kembalikan dua miliar won dan keluar."
Ketika papan informasi penerbangan di bandara mengindikasikan bahwa pesawat yang mengangkut rombongan timnas telah mendarat, seruan lantang "Hong Myung-bo, keluar!" seketika bergaung memadati terminal kedatangan.
Di saat Hong muncul ke publik bersama Direktur Dukungan Tim Piala Dunia Park Hang-seo serta beberapa pemain andalan seperti Lee Kang-in, Cho Hyun-woo, dan Hwang In-beom, para suporter kembali menyuarakan yel-yel kecaman sembari memukul drum yang biasa mereka bawa ke stadion.
Hong terpantau hanya menoleh sekilas ke arah kerumunan pendukung sebelum terus berjalan meninggalkan bandara dengan ekspresi wajah yang sangat tegang.
Ia juga memilih bungkam dan tidak memberikan respons apa pun saat para jurnalis mempertanyakan tanggapannya mengenai kekecewaan para pendukung tersebut.
Kurang lebih 40 menit pasca-tibanya rombongan timnas, Ketua KFA Chung Mong-kyu menyusul mendarat di Bandara Incheon.
Kehadiran sang ketua federasi pun tidak luput dari sasaran kemarahan masyarakat yang berada di lokasi.
Beberapa suporter langsung mengerumuni Chung sambil melontarkan kritik tajam, termasuk teriakan sindiran, "Apakah ini cara seorang pencuri masuk?"
Aparat kepolisian sampai harus menyiagakan sekitar 160 personel demi mengamankan situasi bandara untuk mencegah terjadinya potensi bentrokan fisik yang mengarah kepada pelatih maupun jajaran tim nasional.
Kondisi ini membuat Korea Selatan tidak mengadakan acara seremoni penyambutan resmi untuk tim nasional sekembalinya mereka dari turnamen, sebuah hal yang memutus tradisi yang selalu dijaga sejak gelaran Piala Dunia 2002 silam.
Terdepaknya Korea Selatan utamanya disebabkan oleh rentetan hasil minor di fase grup, termasuk kekalahan tipis 0-1 dari Afrika Selatan pada pertandingan pamungkas mereka.
Padahal, hasil imbang melawan skuad Bafana Bafana sebenarnya sudah memadai untuk mengantarkan tim berjuluk Taegeuk Warriors tersebut melenggang ke fase 32 besar.
Hasil negatif itu memicu gelombang kritik tajam terhadap kapabilitas Hong Myung-bo, terlebih karena Korea Selatan mengarungi Piala Dunia kali ini dengan generasi emas yang dihuni pemain kelas dunia seperti Son Heung-min, Lee Kang-in, Kim Min-jae, dan Hwang In-beom.
Satu hari sebelum jadwal kepulangan tim ke tanah air, Hong Myung-bo telah mengumumkan pengunduran dirinya dari kursi pelatih kepala saat berada di markas tim yang terletak di Guadalajara, Meksiko.
Ia menegaskan siap memikul tanggung jawab penuh atas kegagalan total Korea Selatan dalam memenuhi target utama mereka pada ajang Piala Dunia 2026.
Di sisi lain, kapten tim Son Heung-min bersama dengan para pemain serta jajaran staf lainnya dijadwalkan akan bertolak kembali ke Korea Selatan secara bertahap hingga tanggal 1 Juli mendatang.