Tata Kelola Lingkungan Jadi Penentu Daya Saing Kawasan Industri

Rabu, 01 Juli 2026 | 11:28:39 WIB
Ilustrasi kawasan industri.(FOTO:NET)

JAKARTA - Di tengah lonjakan investasi industri beserta desakan terhadap praktik pembangunan yang berkelanjutan, pengelolaan sektor lingkungan kini menjelma sebagai salah satu aspek yang kian menentukan tingkat kompetitif suatu kawasan industri.

Tidak lagi sekadar bertumpu pada ketersediaan infrastruktur serta utilitas semata, area industri saat ini diwajibkan sanggup menyusun tata kelola lingkungan yang bersandar pada keakuratan data, ditunjang oleh pemantauan jangka panjang, serta jalinan sinergi antara pihak pemerintah, kalangan akademisi, sektor dunia usaha, hingga warga masyarakat.

Sudut pandang tersebut mencuat dalam rangkaian perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang diinisiasi oleh PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS) selaku pihak pengelola Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) sekaligus sebagai Kawasan Ekonomi Khusus Gresik (KEK Gresik).

Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif memberikan penegasan bahwa peringatan Hari Lingkungan Hidup tidak boleh sebatas menjadi agenda seremonial belaka, namun wajib diaplikasikan lewat perbuatan nyata serta sinergi lintas sektor.

"Butuh kolaborasi bersama industri, masyarakat pesisir, dan seluruh pemangku kepentingan. Kami mengapresiasi sinergi yang telah dibangun, termasuk perlindungan jaminan sosial bagi nelayan serta rehabilitasi kawasan pesisir melalui penanaman mangrove," ujar dia dalam keterangan tertulis, Rabu (1/7/2026).

Dalam rangkaian acara yang sama, Guru Besar Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga, Eddy Setiadi Soedjono menjabarkan, situasi lingkungan pada kawasan industri maupun area tepi laut tidak dapat dievaluasi cuma bersandarkan satu parameter atau satu kali proses peninjauan saja.

"Perubahan kualitas perairan, kondisi ekosistem pesisir, maupun produktivitas sumber daya perikanan dipengaruhi banyak faktor yang saling berinteraksi. Oleh karena itu diperlukan monitoring jangka panjang, data berkala, serta kajian multidisiplin sebelum menarik kesimpulan mengenai kondisi lingkungan suatu kawasan," kata Eddy.

Menurut pandangan dia, pola pendekatan yang bertumpu pada data menjadi pondasi krusial supaya tiap-tiap kebijakan tata kelola lingkungan dijalankan secara objektif, bisa diukur, serta berkesinambungan.

Senada dengan pemikiran tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik, Sri Subaidah memaparkan, proses pembangunan industri serta pelestarian alam mesti berjalan beriringan lewat mekanisme pemantauan yang konsisten dan ditopang gerakan nyata di lapangan.

"Kami mengapresiasi langkah BKMS yang telah menginisiasi penanaman ribuan pohon mangrove di kawasan Kalimireng. Selain membantu mengurangi abrasi dan mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim, mangrove menjadi investasi lingkungan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat hingga generasi mendatang," ujar dia.

Sebagai wujud penerapan dari pola pendekatan tersebut, pihak JIIPE secara berkala melangsungkan pengecekan mutu lingkungan menggunakan hasil pengujian laboratorium terakreditasi yang berkiblat pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 selaku pijakan evaluasi serta perumusan keputusan dalam penanganan kawasan secara berkelanjutan.

Selain memperkokoh tata kelola lingkungan lewat pemantauan berbasis data, pihak JIIPE turut menggerakkan bermacam program pemulihan ekosistem tepi pantai yang diproyeksikan memberi dampak ekologis sekaligus menunjang keberlangsungan mata pencaharian warga setempat.

Dalam rangka menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, JIIPE bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Gresik, akademisi, penyewa kawasan, warga pesisir, serta beragam pemangku kepentingan melakukan aksi penanaman 1.000 bibit mangrove, pelepasan 1.000 benih ikan, dan 100 benih kepiting di area Kalimireng.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gresik, Arief Witjaksono menyampaikan, penyebaran benih ikan beserta kepiting tersebut diharapkan mampu mendongkrak produktivitas sumber daya laut sekaligus menopang kesejahteraan warga pesisir.

"Harapannya, hasil tangkapan dapat semakin tersedia di sekitar kawasan sehingga nelayan tidak perlu melaut lebih jauh. Upaya ini harus dijaga bersama agar manfaat ekologis dan ekonominya dapat dirasakan secara berkelanjutan," kata dia.

Tokoh masyarakat wilayah pesisir Kalimireng Isharul menaruh harapan agar kemitraan antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, beserta warga bisa terus ditingkatkan supaya pengembangan kawasan industri dapat berjalan selaras dengan upaya konservasi alam.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Gresik, Hamzah Takim memberikan penilaian bahwa penanaman pohon mangrove di sepanjang jalur Sungai Kalimireng merupakan tindakan positif dalam memelihara ekosistem pantai sekaligus menyokong keberlanjutan wilayah tangkapan para nelayan.

Di samping memperkuat mekanisme pemantauan serta pemulihan ekosistem laut, pihak JIIPE juga terus membangun infrastruktur ramah lingkungan sebagai bagian dari penerapan nilai-nilai Environmental, Social, and Governance (ESG).

Pada saat ini, JIIPE telah mengoperasikan fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS3R) guna menunjang manajemen persampahan di dalam area tersebut.

Seiring dengan ekspansi kawasan industri beserta naiknya volume aktivitas operasional, BKMS pun tengah menyiapkan transformasi fasilitas itu menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) demi mendongkrak daya tampung pengelolaan limbah secara mandiri, terpadu, dan berkelanjutan.

Direktur PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS), Bambang Soetiono mengutarakan bahwa tata kelola lingkungan kini telah dilebur menjadi bagian dari strategi pengembangan wilayah.

"Ke depan, daya saing kawasan industri tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur dan investasi, tetapi juga oleh kredibilitas tata kelola lingkungannya. Karena itu kami terus memperkuat monitoring berbasis data, mengembangkan infrastruktur lingkungan, serta membangun kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, tenant, dan masyarakat sebagai bagian dari strategi pembangunan kawasan yang berkelanjutan," ujar Bambang.

Lewat momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, JIIPE mempertegas komitmennya untuk senantiasa memperkokoh sistem manajemen lingkungan via pemantauan berbasis data, pembenahan infrastruktur hijau, pemulihan ekosistem tepi pantai, serta kemitraan multipihak sebagai bagian dari penciptaan kawasan industri yang kompetitif, bertanggung jawab, dan lestari.

Terkini