JAKARTA - Seiring dengan pesatnya pertumbuhan investasi di sektor industri dan tuntutan akan pembangunan berkelanjutan, manajemen lingkungan saat ini telah menjadi faktor krusial yang menentukan daya saing sebuah kawasan industri.
Kini, kawasan industri tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas dan infrastruktur saja, melainkan dituntut untuk membangun sistem manajemen lingkungan berbasis data akurat, yang didukung pemantauan berkesinambungan serta kolaborasi erat antara pemerintah, akademisi, pengusaha, dan masyarakat.
Pandangan ini mengemuka pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang diselenggarakan oleh pengelola Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) dan Kawasan Ekonomi Khusus Gresik (KEK Gresik), yaitu PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS).
Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, menegaskan agar perayaan Hari Lingkungan Hidup tidak sekadar menjadi kegiatan formalitas, tetapi harus diwujudkan melalui aksi konkret dan kolaborasi berbagai sektor.
"Butuh kolaborasi bersama industri, masyarakat pesisir, dan seluruh pemangku kepentingan. Kami mengapresiasi sinergi yang telah dibangun, termasuk perlindungan jaminan sosial bagi nelayan serta rehabilitasi kawasan pesisir melalui penanaman mangrove," ucapnya melalui keterangan resmi pada hari Rabu (1/7/2026).
Pada kesempatan yang sama, Eddy Setiadi Soedjono, Guru Besar Lingkungan dari Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga, menjelaskan bahwa kondisi lingkungan di kawasan industri dan pesisir tidak bisa dinilai hanya dengan satu indikator atau melalui pengamatan tunggal.
"Perubahan kualitas perairan, kondisi ekosistem pesisir, maupun produktivitas sumber daya perikanan dipengaruhi banyak faktor yang saling berinteraksi. Oleh karena itu diperlukan monitoring jangka panjang, data berkala, serta kajian multidisiplin sebelum menarik kesimpulan mengenai kondisi lingkungan suatu kawasan," tutur Eddy.
Menurut pendapatnya, metode yang berbasis data merupakan dasar penting agar setiap keputusan terkait pengelolaan lingkungan dapat diterapkan secara terukur, objektif, dan berkelanjutan.
Sejalan dengan hal itu, Sri Subaidah selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik memaparkan bahwa pengembangan industri harus seimbang dengan pelestarian alam melalui pengawasan yang teratur serta aksi nyata di lapangan.
"Kami mengapresiasi langkah BKMS yang telah menginisiasi penanaman ribuan pohon mangrove di kawasan Kalimireng. Selain membantu mengurangi abrasi dan mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim, mangrove menjadi investasi lingkungan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat hingga generasi mendatang," ungkapnya.
Untuk menerapkan pendekatan ini, pengelola JIIPE rutin menguji kualitas lingkungan melalui laboratorium terakreditasi dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 sebagai dasar evaluasi dan penetapan kebijakan pengelolaan wilayah yang lestari.
Di samping meningkatkan pengawasan lingkungan berdasarkan data, JIIPE juga menjalankan berbagai inisiatif restorasi ekosistem pesisir yang diharapkan membawa manfaat ekologis serta mendukung kehidupan ekonomi warga sekitar.
Guna memeriahkan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, pihak JIIPE berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Gresik, akademisi, masyarakat pesisir, para penyewa lahan, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menanam 1.000 bibit mangrove serta melepas 1.000 benih ikan dan 100 bibit kepiting di perairan Kalimireng.
Arief Witjaksono, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gresik, menyatakan bahwa pelepasan benih biota laut ini ditargetkan dapat meningkatkan hasil tangkapan nelayan sekaligus memajukan kesejahteraan masyarakat pesisir.
"Harapannya, hasil tangkapan dapat semakin tersedia di sekitar kawasan sehingga nelayan tidak perlu melaut lebih jauh. Upaya ini harus dijaga bersama agar manfaat ekologis dan ekonominya dapat dirasakan secara berkelanjutan," sebutnya.
Isharul, salah satu tokoh masyarakat di pesisir Kalimireng, berharap sinergi antara pemerintah, akademisi, sektor bisnis, dan masyarakat dapat terus diperkuat sehingga pertumbuhan industri tetap sejalan dengan perlindungan alam.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Gresik, Hamzah Takim, menilai bahwa penghijauan kawasan pesisir dengan mangrove di aliran Sungai Kalimireng adalah langkah yang sangat baik untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut dan memastikan wilayah tangkapan nelayan tetap terjaga.
Selain mengoptimalkan pengawasan dan restorasi ekosistem pesisir, JIIPE konsisten mengembangkan fasilitas yang berwawasan lingkungan guna mengimplementasikan prinsip-prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Saat ini, sebuah fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS3R) telah dioperasikan oleh JIIPE untuk mendukung sistem pengelolaan limbah di kawasan tersebut.
Bersamaan dengan meluasnya zona industri dan peningkatan kegiatan operasional, BKMS sedang merencanakan peningkatan fasilitas tersebut menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) agar kapasitas pengelolaan limbah mandiri, komprehensif, dan berkelanjutan dapat semakin ditingkatkan.
Bambang Soetiono, Direktur PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS), menyebutkan bahwa manajemen lingkungan hidup saat ini sudah terintegrasi ke dalam rencana strategis pengembangan kawasan.
"Ke depan, daya saing kawasan industri tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur dan investasi, tetapi juga oleh kredibilitas tata kelola lingkungannya. Karena itu kami terus memperkuat monitoring berbasis data, mengembangkan infrastruktur lingkungan, serta membangun kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, tenant, dan masyarakat sebagai bagian dari strategi pembangunan kawasan yang berkelanjutan," ujar Bambang.
Melalui peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 ini, JIIPE kembali menegaskan komitmen kuatnya dalam memperkuat tata kelola lingkungan dengan pengawasan berbasis data, peningkatan infrastruktur hijau, restorasi area pesisir, dan kerja sama lintas sektor demi mewujudkan kawasan industri yang berdaya saing, bertanggung jawab, dan lestari.